Showing posts with label Sisi Lain. Show all posts
Showing posts with label Sisi Lain. Show all posts

Monday, May 13, 2019

Iklan Hago Dikecam Karena Lecehkan Guru, Pihak Managemen Bergerak Cepat

Iklan Hago Lecehkan Guru
Dalam sebuah ruang kelas, entah karena melakukan kesalahan apa, seorang murid dihukum berdiri di pojok oleh gurunya. Kedua tangannya menjewer daun telinga, kakinya diangkat sebelah dengan ekspresi wajah ketakutan. Sedang pak guru, yang digambarkan berwajah sangar dan killer asyik mencatat pelajaran di papan tulis. Sebuah bentuk pembelajaran konvensional, yang amat tidak menyenangkan.

Sudah pasti karena pegal, si murid berusaha menurunkan kakinya, sedikit demi sedikit, sembari pandangannya mencari celah kelengahan gurunya. Belum kesampaian niatnya, pak guru memalingkan wajah angkernya dengan mengeluarkan suara. Tentu saja si murid kian gemetar, kaki yang semula hendak diturunkan, diangkat lagi tinggi-tinggi. Seisi kelas menunduk berjamaah, senyap tak bersuara.

Lalu,  seorang murid datang terlambat dengan ekspresi jumawa. Berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya, ekspresi galak sang guru tiba-tiba melunak. Pak guru melongo dengan isi kepala entah menggambarkan apa. Alih-alih bersikap layaknya guru memperingatkan murid yang datang terlambat, ia malah seperti kerbau dungu dicocok hidungnya, atau lebih tepatnya jongos yang menyambut majikan. Pak guru menunduk-nunduk hormat, sambil membantu melepaskan tas si murid, pak guru membawa dan mengiringi murid berjalan ke tempat duduk.

Si murid dipersilahkan, duduk jumawa dengan dagu diangkat tanpa berkata apa-apa, diikuti pandangan takjub murid lainnya. Apa pasalnya murid yang datang terlambat itu diperlakukan demikian? Ternyata si murid songong itu memiliki keahlian bermain game online. Alamakkkk!!!

Akhir cerita, si guru yang tak jago main game itu duduk berdampingan dengan si murid di sebuah taman. Mereka berdua asyik bermain game online melalui gawai masing-masing. Pak guru selalu kalah. Sikap dan ekspresi pak guru mirip pecundang.

Itulah gambaran Iklan Game Online Hago yang tayang di youtube dan sejumlah stasiun televisi beberapa waktu terakhir. Entah, bagaimana sebetulnya cara berpikir si pembuat iklan, materi iklan yang mengusung tagline semua bisa jago dengan main hago itu sangat melecehkan martabat seorang guru. Hanya karena siswa pintar bermain game online, bagaimana seorang guru digambarkan demikian naif dan tak bermartabat. Wajar jika iklan tersebut menuai kecaman dari netizen, terutama dari mereka yang berprofesi sebagai guru.

Rina Maruti misalnya, seorang guru SMA asal jawa barat itu menuliskan protesnya melalui status facebook miliknya. Status berjudul Negeri Edan itu mengecam iklan yang dianggap melecehkan martabat guru itu. Rina betul-betul tak habis pikir, di tengah gencarnya pendidikan karakter, bagaimana video iklan yang sama sekali tak mengindahkan urusan karakter itu bisa lolos sensor.

Baru sehari ditulis, status Rina tersebut telah 12 ribu kali dibagikan di linimasa facebook, pertanda banyak netizen mendukung dan setuju dengan keluhannya. Tak hanya itu, gegara iklan game online itu, bahkan sebuah petisi dilayangkan pada KPI dengan tuntutan agar iklan tersebut dicabut dari peredaran.

Siapapun patut mengelus dada. Meski zaman sedang berada pada revolusi industri 4.0, sehingga generasi milenial akrab dengan teknologi gawai dengan beragam fiturnya, bukan berarti murid bisa berlaku semaunya ketika di sekolah, apalagi berhadapan dengan gurunya dari generasi old yang mungkin terbata-bata dalam mengikuti perkembangan zaman. Lagipula, adakah guru yang berlaku seperti digambarkan video itu dalam kenyataannya?

Petisi Iklan Hago Melecehkan Guru
Petisi Iklan Hago Melecehkan Guru

Respon Cepat Hago Indonesia

Media Sosial memang dahsyat. Setelah status protes Rina Maruti itu dibagikan oleh ribuan orang dalam waktu singkat, pihak Hago Indonesia bertindak cepat dengan menghubungi pemilik status melalui inbox untuk meminta maaf.  Permintaan Maaf dari Hago tersebut kemudian dijadikan status facebook oleh Rina Maruti (13/05):
Klarifikasi Game Online Hago dalam Status Rina Maruti
Klarifikasi Game Online Hago dalam Status Rina Maruti
Hago Indonesia menyatakan, bahwa game online sebenarnya bisa dijadikan alat positif dalam menjalin hibungan baik, misalnya antara guru dan murid. Sayangnya, penggambaran guru yang tidak semestinya dalam video iklan itu yang memang harus dibenahi.

Oleh karena itu, Hago Indonesia mengaku menyesal dan menginformasikan bahwa video iklan tersebut telah dihapus dari seluruh chanel televisi dan akun resmi milik Hago. Saya lantas mencoba membuka link youtube video iklan tersebut, dan ternyata memang sudah dihapus.
Iklan Game Online Hago yang telah Dihapus di Youtube
Iklan Game Online Hago yang telah Dihapus di Youtube
Tak hanya itu, Hago Indonesia juga telah membuat pernyataan permintaan maaf secara resmi terkait tayangan video iklan tersebut.

Berikut pernyataan resmi dari Hago Indonesia:
Permintaan Maaf Video Iklan Hago Indonesia
Pernyataan Resmi Permintaan Maaf Hago Indonesia
Inilah pentingnya kontrol sosial. Andai saja tak ada protes, mungkin pihak Hago Indonesia akan merasa bahwa video iklan itu baik-baik saja, dan tak masalah meski ditonton oleh jutaan pemirsa dengan materi iklan yang tidak sepatutnya.

Bangsa ini memang ajaib. Berkali-kali kesalahan serupa pernah terjadi, tapi entahlah, sepertinya pelakunya tak pernah belajar dari kesalahan.(*)

Tuesday, March 5, 2019

Pakai Otak Dong, Pak!

Seluruh penghuni pesantren Kiai Hamam terlihat sibuk. Beberapa minggu ke depan, pesantren dijadwalkan akan menerima kunjungan bupati yang baru saja terpilih. Sebagaimana layaknya ajaran islam, akrimuu dlaifakum (muliakanlah tamu-tamumu), maka semua penghuni pesantren berlomba-lomba melaksanakan ajaran tersebut.

Alhasil, keadaan pesantren yang sehari-harinya santai dan biasa-biasa saja berubah seratus delapan puluh ribu derajat. Bagian seksi perlengkapan sibuk menata tiap sudut ruangan. Dinding-dinding dicat, pagar-pagar dibenahi, MCK direnovasi, hingga kamar-kamar hunian santri yang biasanya acak-acakan dengan segala macam busana, baik luar maupun dalam, disulap menjadi tempat yang indah nian. Sementara, seksi perdapuran sibuk mempersiapkan menu yang akan disuguhkan pada bupati dan rombongan.

“Ada apa tho, Kang. Semua manusia kok mendadak jadi super sibuk, sih.” tanya Kang Jun, santri yang sehari-harinya biasa dimintai tolong tetangga untuk memetik kelapa.

Cak Kris yang ditanya mengernyitkan kening,”Sampean ini bagaimana tho, Kang. Lha wong pesantrennya bakal kedatangan priyayi agung macam Pak Bupati kok malah ndak tahu. Memangnya kuping sampean itu dimana, sih?” tuturnya kesal.

Kang Jun malah cengengas-cengenges, tak peduli dengan penjelasan Cak Kris. Dalam dunia perpondokan, Kang Jun memang dikenal sebagai santri yang super cuek. Maklum, Kang Jun adalah santri ngenger yang sehari-harinya jarang berada di pesantren. Seharian kadang berada di sawah milik Sang Kiai. Kalau tak ada kerjaan di ndalem, Kang Jun mencari pekerjaan di kampung. Kadang memetik buah kelapa, mengisi jeding tetangga dengan senggot. Singkat kata, hanya pada malam hari saja Kang Jun thalabul ggilmi, ikut kegiatan pesantren.

Hari-hari yang ditunggu pun datanglah. Sejak pagi menjelang, seluruh santri telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan bupati dan rombongan. Petugas kebersihan sejak shalat subuh usai telah melakukan cek dan ricek ke seluruh area. Singkat cerita, Bupati beserta segenap rombongan telah terlihat berjalan-jalan meninjau keadaan pesantren. Mulai dari kantor pengurus, kamar-kamar santri, ruang perpus, dapur, dan yang tak ketinggalan adalah koperasi pesantren yang terletak di ujung sebelah barat.

Setelah puas melihat-lihat, Pak Bupati tiba-tiba saja tercengang ketika sepasang matanya menatap ke sebuah tiang bendera yang terpancang di depan aula. Tiang bendera itu menjulang demikian tingginya hingga bendera yang terpasang berkibar demikian gagahya.

“Berapa tingginya tiang itu?" Pak Bupati tiba-tiba saja bertanya pada salah seorang santri, yang ternyata adalah Kang Jun, yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja telah berada di samping bupati.

Kang Jun yang ditanya tak menjawab. Ia justru berlari begitu saja ke ruang perlengkapan, mengambil seperangkat alat ukur. Lantas, karena terbiasa naik kelapa, dengan sangat cekatan memanjat tiang bendera bak seekor kera, sampai akhirnya Kang Jun berada di ujung yang paling atas.

Seluruh santri, tak terkecuali Pak Bupati, terhenyak. Seluruhnya memendam rasa penasaran, disamping juga diliputi kecemasan yang sangat. Apalagi melihat tiang bendera yang dinaiki Kang Jun pentiang-pentiung tidak kuat menahan berat badannya.

Dalam kecemasannya, Pak Bupati berteriak,”Hei, turun kamu. Turun!”

Mendengar teriakan Pak Bupati, Kang Jun melongok ke bawah. Iia langsung melorot turun sebelum sempat menyelesaikan pekerjaan mengukur ketinggian tiang.

“Kamu ini tolol, apa bagaimana,” tukas pak Bupati seketika,”Mestinya kamu mikir, pakai otak!” Tukas Pak Bupati sambil menunjuk-nunjuk jidatnya.

“Maksud, Bapak?” Kang Jun hanya melongo.

“Kalau memang ingin mengukur, mestinya kamu rubuhkan itu tiang. Kemudian kamu ukur di atas tanah. Jadi ndak usah petangkri’an seperti yang kamu lakukan barusan. Kalau kamu jatuh, kamu bisa celaka, tolol!”

“Lho, Pak Bupati ini bagaimana?” tiba-tiba saja Kang Jun menjawab.

Semua penghuni pesantren kaget.

“Pak Bupati tadi bertanya ketinggian tiang, tho?”

Pak Bupati mengangguk.

“Mestinya Bapak yang harus pakai otak. Mikir dong, Bapak!” ganti Kang Jun yang menunjuk-nunjuk jidatnya. "Kalau tiang itu saya rubuhkan, kemudian saya ukur di atas tanah. Itu bukan tinggi, itu panjang namanya, Pak!”

Semua santri pun makin terkesima, sementara Kiai Hamam hanya tersenyum dikulum melihat kejadian itu. Oalah, Kang Jun..Kang Jun. (*)

Monday, February 25, 2019

Melirik Model Pendidikan di Finlandia

Melirik Model Pendidikan di Finlandia
Pembelajaran di Finlandia, (sumber foto: fb Diena Syarifa)
Pagi-pagi buka beranda facebook, saya tertarik membaca sebuah status yang dibagikan oleh Pak AH. Burhanudin, guru berprestasi dari Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pak AH, demikian ia akrab dipanggil, yang baru saja menulis buku Media Pembelajaran Sekolah Dasar, sebuah buku yang merangkum pengalamannya dalam membuat media pembelajaran, sehingga berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, membagikan status Diena Syarifa yang menceritakan pendidikan di Finlandia.

Lazim diketahui, sejak memenangi rangking PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2001, memang banyak pihak tertarik untuk mempelajari bagaimana sesungguhnya pendidikan di Finlandia. Apalagi kabarnya, siswa Finlandia mencapai hasil PISA yang paling tinggi tidak melalui bantuan tutor dan pekerjaan rumah tambahan yang seabreg, seperti yang terjadi di Jepang dan kawasan Asia Timur lainnya.

Lantas, bagaimana sesungguhnya model pendidikan di Finlandia?
Baca Juga: Literasi dalam Keluarga
Dikutip dari Teach Like Finland, buku tulisan Timothy D. Walker yang diterjemahkan oleh Fransiskus Wicaksono (Gramedia Widyasarana Indonesia, 2017), bahwa sistem pendidikan di Finlandia memberikan kewenangan luas kepada guru dan sekolah. Guru memiliki otonomi yang luas untuk merancang pembelajaran, asalkan rancangan pembelajaran tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan membantu siswa dalam mencapai kompetensinya. Di Finlandia, ada kebijakan pendidikan nasional yang jelas dan disepakati semua pihak, yang “menetapkan prioritas, nilai-nilai, dan arah utama untuk seluruh sistem”, serta tingginya tanggungjawab profesional.

Guru-guru di Finlandia juga sangat kreatif dan inovatif. Hal ini dipengaruhi oleh proses seleksi sejak dari calon guru dan proses pengembangan profesinya dilakukan dengan baik. Guru Finlandia harus melalui seleksi LPTK sampai level magister (S2) dan menulis thesis yang ketat, serta pelatihan selama 5 tahun. Itulah sebabnya masyarakat begitu percaya kepada para guru untuk menerapkan inovasinya di dalam kelas.  Guru di Finlandia adalah profesi yang sangat dihargai secara sosial dan finansial.

Senada dengan hal di atas, Diena Syarifa juga menceritakan pengalaman yang sama selama ke Finlandia, bahwa kualitas guru di Finlandia sangat terjamin mutunya. Pemerintah Finlandia memberikan penghargaan profesi guru setara dengan profesi dokter, engineer, lawyer. Semua guru harus Master (S2), sedangkan Asisten Guru (S1) berasal dari 10 besar lulusan terbaik di universitas. Di Finlandia, tidak ada sertifikasi dan evaluasi tahunan guru sebagaimana di Indonesia. Kualitas guru dilihat dari kualitas murid yang dihasilkan. Rasio guru dan murid adalah 1:12.

Sedangkan durasi pembelajaran tergolong pendek, lebih memberi ruang berpikir bebas dan kreatif kepada siswa. Untuk SD jam belajarnya 4-5 jam/hari, sedangkan SMP dan SMA jam belajarnya seperti mahasiswa yaitu datang ke sekolah menyesuaikan mata pelajaran yang dipilih. Pengaturan jam belajar di kelas pendek mewajibkan siswa bermain outdoor terkena sinar matahari, meskipun hujan (diberikan alat pelindung hujan). Bermain outdoor hanya dibatalkan jika cuaca badai dengan titik suhu minus. Setiap 45 menit belajar harus break bermain selama 15 menit. Sementara itu break makan siang 45-50 menit.
Baca juga: Tiga Kata Sakti yang Harus Dikenalkan Orang Tua Terhadap Anak
Terkait evaluasi, di Finlandia tidak ada ujian nasional. Yang ada hanyalah ujian untuk tes masuk universitas. Evaluasi mutu siswa ada di masing-masing guru, karena hanya guru yang memahami kemampuan siswa, bukan negara. Lebih jauh, sistem rangking juga tidak dikenal. Filosofinya, semua anak hebat di bidangnya masing-masing. Dalam banyak aktivitas, kelas dibentuk gabungan semisal kelas 1 dengan kelas 2, 3 dan 4, 5 dan 6, dan seterusnya. Tdk ada PR klasikal, PR hanya diberikan untuk siswa yg membutuhkan penekanan khusus. Terkait kematangan mental, usia sekolah SD wajib berusia 7 tahun, kurang dari itu tidak diperbolehkan.

Di Finlandia, tidak ada sekolah unggulan. Semua sekolah negeri memiliki mutu yang sama dengan gratis biaya sekolah, makan siang, transport dan kesehatan. Mendirikan sekolah swasta diperbolehkan, namun persyaratannya sangat ketat. Tersedia juga lembaga pemerintah yg disediakan gratis di setiap “kecamatan” untuk menampung anak-anak usia 13-18 tahun beraktivitas selepas pulang sekolah jika di rumah tidak ada orang tua lantaran bekerja.

Begitulah Finlandia. Yang patut digarisbawahi, keberhasilan sistem tersebut tidak terjadi begitu saja. Sejak tahun 1970 sistem ini mulai dirintis di beberapa sekolah, dan mendapatkan tentangan yang besar baik dari para ahli pendidikan internasional maupun di dalam negeri. Namun setelah berhasil, banyak pihak yang kemudian mempelajarinya dan mengadopsinya. Sayangnya, banyak yang meniru pengalaman Finlandia ini hanya sepotong. Semisal hanya memperpendek jam belajar di sekolah, menghilangkan pekerjaan rumah bagi siswa, memberi istirahat kepada siswa setiap satu jam pelajaran dan sebagainya. Peniruan parsial ini perlu diwaspadai. Sebab, kondisi suatu bangsa berbeda dengan genetikanya masing-masing, yang tentu akan memengaruhi cara belajarnya. (*)

Thursday, February 14, 2019

Wibawa Guru dan Geremengan Pakde Mus


"Sangat merendahkan martabat, tidak mengindahkan harga diri. Bagaimana bisa, seorang guru hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa diperlakukan muridnya semacam itu?" Pakde Mus bersungut-sungut geram. Gemeretak giginya menunjukkan ia sangat emosional ketika Kang Narto menunjukkan padanya sebuah video, seorang murid begitu pongahnya memperlakukan gurunya di kelas dengan tak beradab.
"Jika saya gurunya, sudah saya lumat habis itu anak. Memang dianggapnya kelas itu terminal, yang bisa berbuat seenak udelnya. Terminal saja masih ada aturan, bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. Itu kelas, di sekolah, tempat dimana akhlak dan etika dibelajarkan." suara Pakde makin meninggi.

"Guru sekarang serba salah, Pakde. Penuh dilematis. Jika ia melakukan seperti yang pakde katakan, ceritanya akan lain," Kang Narto yang duduk di hadapannya menyela.

"Lain bagaimana?"

"Kalau Pak Guru bertindak, tak usah jauh-jauh menamparnya, sekedar menjewer saja umpamanya, orang tuanya nanti tak terima dan melaporkannya ke polisi. Pak Guru akan berhadapan dengan hukum, dengan komisi perlindungan anak, dengan HAM. Ujung-ujungnya ia masuk penjara. Lantas, bagaimana nasib anak istrinya jika Pak Guru mendekam di balik jeruji?"

"Halah, HAM lagi HAM lagi, lagi-lagi HAM." tukas pakde sengit, intonasinya menirukan salah seorang komedian di televisi, "Apa yang diperbuat HAM jika anak itu kelak jadi brandal, tak tahu sopan santun, tak mengerti bagaimana mestinya bersikap kepada sesama manusia."

Kang Narto hanya terdiam. Tak mengerti bagaimana harus menanggapi pertanyaan Pakde Mus. Ia pikir, benar juga yang dikatakan lelaki paruh baya itu. Selama ini, selalu HAM yang dijadikan alasan jika ada persoalan anak di sekolah. Apalagi, orang tua kadang tak selalu bisa berbuat bagaimana mestinya menjadi orang tua, tak seperti orang tuanya dulu, ketika ia masih anak-anak.
Baca Juga: Balada Seribu Guru
Sejurus kemudian, suasana tampak hening. Pakde Mus menyerahkan kembali HP kepada Kang Narto dengan menghela nafas dalam-dalam. Kang Narto menerimanya tanpa suara. Di meja, berjejer cangkir kopi dan beberapa bungkus kretek. Pakde Mus lantas mengambil cangkir, meneguk isi di dalamnya beberapa teguk, ketika sebatang kretek diselipkan di bibirnya, asap tembakau itu berkeliaran memenuhi udara.

"Guru sekarang memang berbeda," Pakde Mus kembali bersuara. Kali ini nada suaranya datar, tak lagi meledak-ledak.

"Video itu jelas menggambarkan betapa Pak Guru itu sama sekali tak memiliki wibawa di hadapan murid-muridnya. Bagaimana bisa ia berada di kelas, sedang murid tak menghargai keberadaannya."

"Tak jelas video itu, Pakde. Apa Pak Guru itu sedang mengajar, atau kebetulan hanya masuk kelas saat mendengar kegaduhan di kelas karena kelas kosong." sanggah Kang Narto.

"Tak jelas bagaimana. Jelas-jelas Pak Guru di dalam kelas. Tapi anak-anak berkeliaran. Mereka bergurau tak tahu aturan. Bahkan terang-terangan salah seorang di antara mereka merokok, lantas memperlakukan Pak Guru seperti anak kemarin sore, seolah-olah mau menonjok mukanya, dan siswa lainnya bersorak sorai seolah-olah itu tontonan badut atau komedi bedes. Di mana wibawa guru ketika itu?"

Kang Narto kembali tak buka suara. Ia duduk tepekur mendengarkan Pakde Mus yang mulai menyerocos.

"Mungkin betul kata sampean. Pak Guru serba salah dalam kondisi seperti itu. Berada pada situasi dilematis antara bertindak atau tidak bertindak menghadapi perilaku anak yang demikian. Atau, Pak Guru memang terlalu sabar dan tak mau mengambil resiko di tengah pergeseran cara pandang orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Tapi membiarkan anak berbuat sedemikian pongah dan tak beretika bukanlah sikap yang arif bagi seorang guru menurut saya."

"Lantas menurut Pakde?"

"Suatu saat, anak-anak perlu dihadapkan dengan kekerasan, agar ia mengerti keteguhan dan ketegasan. Agar ia tahu martabat dan harga diri."

"HAM Pakde, HAM!"

"Kekerasan tidak selamanya buruk, asal diberikan sesuai dengan porsinya. Kalau saya, saya lebih memilih dipenjara daripada membiarkan anak-anak tak beretika. Persetan dengan HAM. Kekerasan dibutuhkan agar anak bermental baja dan tidak cengeng. Kalau segala bentuk kekerasan itu buruk dan dilarang, mengapa Rasul menyuruh memukul anak, jika si anak tak bersedia menjalankan shalat pada usia tertentu? Kekerasan tak sama dengan penyiksaan atau penindasan."

Lelah berkata, Pakde Mus lantas menengadah. Sorot matanya menembus jauh ke ruang hampa. Pikirannya menerawang ke masa silam, memendarkan wajah gurunya di ruang kesadarannya secara tiba-tiba.

Ia ingat betul dengan tabiat gurunya waktu itu. Guru yang begitu dihormati dan disegani olehnya, juga kawan-kawannya. Perawakan gurunya memang kecil, seolah-olah tak berdaya, tapi aura kewibawaannya demikian kentara.

Kala itu, jangankan memperlakukan gurunya seperti di video itu, bahkan mendengar telapak kakinya saja, ia dan teman-temannya sudah tertata sikapnya. Ia tidak ditakuti, tapi anak-anak segan terhadapnya. Ia mengajar, bahkan sebelum mengajar.

"Itulah wibawa. Itulah perlunya olah batiniah," Pakde Mus membatin.

"Pak guru hari ini memang harus banyak belajar. Tidak cukup hanya mengasah intelektualitas, tapi sisi-sisi ruhani harus disentuh, agar energi itu memancar dari dirinya, berpendar menerangi jalan anak didiknya."

"Sayangnya, Pak Guru sekarang terlalu sibuk, lebih tepatnya disibukkan dengan hal remeh temeh, dengan kertas-kertas berserakan, dengan rumbai-rumbai permukaan yang begitu menggoda. Entah, bagaimana nasib pendidikan ini ke depan."

Langit mendung. Anak-anak berlarian pulang. Pakde Mus tergeragap. Suara dengkuran Kang Narto di depannya membuat angannya buyar seketika. Gerimis perlahan turun. Kopi tinggal ampas.(*)

Tuesday, February 12, 2019

Secarik Cerita tentang Komunitas Ngopi

Anggota Komunitas Ngopi

KOMUNITASNGOPI.com - Sejauh-jauh kamu pergi, Komunitas Ngopi tempatmu kembali, kalimat itu yang sering diungkapkan oleh sebagian anggota Kompi, terutama para anggota generasi awal.

Memang, ihwal adanya Kompi bermula dari adanya dunia pendataan yang dulu bernama Aplikasi Pendataan dengan Dapodiknya. Rata-rata, para pejuang data periode awal akan mengetahui betapa sesaknya Dapodik waktu itu dengan segala suka dan dukanya.

Mengawali perjumpaan dengan teman-teman yang tak pernah kenal sama sekali pada tujuh tahun silam, tepatnya kisaran 2013. Canggung tegur sapa hanya terlontar lewat akun media sosial facebook menggiring teman sejawat untuk berbagi dan hadir.

Kala itu, tempat sekedar dan ala kadarnya menjadi kisah tersendiri, dan warung kopi menjadi pilihan untuk saling bercengkrama mengenal satu sama lain.

Masih teringat saat itu, tanpa rasa canggung dan baru pertama kali bertemu, namun terasa seperti teman semasa SMA. Bertukar permasalahan dan penyelesaian tentang pendataan menjadi awal lahirnya Grup Komunitas Beranda Operator Sekolah, sebagai tempat maya untuk saling berbagi dalam secangkir kopi group facebook.

Beranda Operator Sekolah adalah tonggak awal, saksi bisu betapa perjuangan pendataan masa lalu demikian mengharu biru. Lalu, para anggota datang dan pergi, dengan kepentingannya masing-masing. Apalagi dunia pendataan semakin abu-abu. Operator Sekolah tersungkur dalam ruang bisu.

Hingga akhirnya terbentuklah Komunitas Ngopi melalui WhatsApp sebagai media mutakhir berkumpul berbagi informasi, canda gelak tawa tak henti mengiringi untuk saling memotivasi, untuk kembali mengakrabi tugas utama mengantarkan anak negeri. Pendataan akhirnya hanya tugas tambahan yang sesekali saja dikaribi.

Di Komunitas Ngopi, semua berusaha untuk saling mengisi. Ada Pak De dengan pejalan sunyi-nya yang kini betul-betul sunyi. Ada Bang Jun yang diamnya menghanyutkan namun militansi ngopinya tak diragukan. Ada Kang Edi yang begitu polos, tapi sudah pernah merasakan ketinggian naik pesawat terbang. Ada Om James yang jika ia tak ada jadi tak rame. Ada Bulek Martin, satu-satunya perawan di sarang penyamun. Serta masih banyak yang tak mungkin disebut satu persatu.

Sungguh bersyukur, tujuan untuk saling bersilaturahim tetap terpelihara hingga saat ini di tahun 2019. Meski jarak sekolah dan tempat tinggal yang sangat jauh dari anggota komunitas ngopi satu dengan yang lain, tapi itu bukan masalah utama.

Kangen. Rasa itu selalu ada untuk sekedar saling bertemu dengan hangatnya aroma kopi. Dari sebuah warung dengan seruputan pertama diiringi dengan senyum sapa pada pesanan kopi kedua. Asap kretek yang membubung menjadi tanda betapa senangnya kami bercengkrama bersama.

Saat ini, Kompi bukan hanya sekedar canda tawa, tapi sebuah ikatan satu dengan yang lain untuk mengajak, berbagi, memotivasi, dan mendukung satu sama lain. Kisah ini yang mungkin takkan lekang dari ingatan masing-masing, meski pada akhirnya banyak teman baru dengan segala keunikan yang menjadi pelengkap segala kekurangan dan kelebihan satu dengan lainnya. (*)

Ditulis oleh Kang Dian, Anggota Kompi dengan Geo-nya yang selalu mengepul.

Monday, February 11, 2019

Sekolah Biasa yang Luar Biasa

Sanggar Anak Alam di Nitiprayan Bantul DIY
Sanggar Anak Alam (SALAM) Nitiprayan Bantul DIY
KOMUNITASNGOPI.com - “Pendidikan itu tidak harus sekolah, tapi orang dibilang tidak berpendidikan jika tidak bersekolah. Inilah dosa pertama sekolah!” Itulah kalimat pertama yang dituturkan oleh penulis Buku Sekolah Biasa Saja, Toto Rahardjo, pada suatu ketika dalam acara bedah buku yang ditulisnya. Sekolah Biasa Saja adalah upaya Mas Totok menjelasakan tentang SALAM, Sanggar Anak Alam, sebuah sekolah alam alternatif yang diinisiasinya bersama istrinya di Yogyakarta.

Jika ke Yogjakarta, mampirlah ke Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Bantul Yogyakarta. Di sana kita akan menemui sebuah sekolah yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Ya. SALAM, Sanggar Anak Alam. Tidak seperti sekolah lain, SALAM adalah sekolah biasa-biasa saja, yang proses pendidikannya luar biasa berada di areal persawahan penduduk yang sama sekali tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat sekitarnya.

SALAM merupakan ikhtiyar Mas Totok dalam menjawab permasalahan pendidikan yang kerap menghampiri. Ia meyakini, penyelenggaraan pendidikan tidaklah cukup berada di dalam ruang kelas antara guru dan siswa. Lebih dari itu, diperlukan proses belajar yang secara holistik terbangun relasi dengan orang tua murid dan lingkungan setempat.

Itulah sebabnya SALAM tak 'berjarak' dengan kehidupan sekitar dengan membiarkan siswanya terjun secara langsung dalam kehidupan nyata. Proses belajar yang dilakukan adalah berusaha menemukan nilai-nilai serta pemahaman hidup yang lebih baik. Itulah hakekat dari “Sekolah Kehidupan”. 
“Sekolah itu asal katanya schola, artinya waktu luang. Dulu orang Yunani mengisi waktu luang dengan mengunjungi suatu tempat dan di sana diberi wejangan oleh seorang bijak. Masalahnya, sekolah yang ada saat ini bukan hanya mengalami masalah, bahkan menjadi masalah. Sekolah yang oleh banyak orang diidentikkan dengan pendidikan rupa-rupanya tak selalu merupakan tempat pendidikan. Sebab tak sedikit sekolah yang sejatinya lebih pas disebut perusahaan, dengan guru sebagai pekerjanya,” kata Toto Rahardjo.
Pernyataan itu memang menampar dan tak enak didengar. Tapi memang demikian nyatanya. Banyak sekolah yang meletakkan dirinya tak ubahnya perusahaan, dengan cara berpikir sama seperti mengelola bisnis, mendirikan toko kelontong, dengan harapan bisa menguntungkan secara ekonomi.

"Padahal, mendirikan sekolah itu lebih dekat dengan mengabdi pada kemanusiaan yang posisinya terletak di pelosok kesunyian, " tutur Toto Rahardjo lebih jauh,

Toto Rahardjo adalah seoarang autodidak, menghabiskan masa mudanya sekitar 20 tahun lebih aktif sebagai fasilitator pendidikan kerakyatan (popular education) dan pengorganisasian rakyat terutama di Jawa Tengah, Yogjakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Papua bersama alm. Romo Mangunwijoyo di Kali Code. Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST, Direktur ReaD (Research Education and Dialogue), Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia, pengarah di Indonesian Volunteers for Social Movement (INVOLMENT), pendiri Akademi Kebudayaan Yogja (AKY), juga sebagai salah seorang penggerak utama advokasi hak-hak petani.

Buku setebal 252 halaman ini bukan hanya teori, tapi berisi pemikiran yang sudah menjelma tindakan konkret selama 17 tahun dalam mengelola Sanggar Anak Alam (SALAM)  bersama istri tercinta Sri Wahyaningsih, juga para fasilitator lainnya.

Ketika menemani suaminya dalam sebuah perjalanan acara, Bu Wahya, demikian panggilan akrab istri Mas Totok juga angkat bicara. Menurutnya, salah satu keunikan SALAM adalah menjadikan semua komponen untuk sama-sama saling belajar.

"Di SALAM, guru mengajar itu haram, karena anak adalah mahaguru,” cetus wanita itu.

Lebih lanjut Bu Wahya menuturkan, bahwa ia melihat ada kepentingan-kepentingan jangka panjang pihak luar yang patut diwaspadai dalam pendidikan di negeri ini. Salah satu contoh adalah gerakan mencuci tangan. Menurutnya, mengajarkan hal ini secara propagandis kepada anak Indonesia, merupakan penjauhan anak bangsa dari jati diri dan negerinya.

“Ini bangsa agraris, tapi anak-anak diajari mencuci tangan dengan sabun dengan segitu masif. Secara tak langsung, anak akan tumbuh dengan pemikiran kalau pegang tanah berkotor-kotor itu tidak baik. Ini pendidikan yang menjauhkan anak dari dirinya sendiri,” cetus Wahya.
Buku Sekolah Biasa Saja Karya Toto Rahardjo
SALAM diinisiasi oleh Toto Rahardjo sebagai respon atas ketidakberesan-ketidakberesan paradigma dan sistem pendidikan yang ada. Yang menjadi perhatian awal dalam mengonsep SALAM adalah faktor apa saja yang membuat siswa malas sekolah. Dari sanalah ia kemudian membangun SALAM.

Toto kemudian membeberkan sejarah Ki Hadjar Dewantoro dengan Taman Siswanya. Menurutnya, yang patut digarisbawahi adalah penggunaan kata “Taman” dalam menggambarkan proses penyelenggaraan pendidikan. Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar yang menyenangkan. Kenyataan yang terjadi sekarang, sekolah yang ada dimana-mana itu taman atau penjara?

Lebih lanjut Toto menyayangkan sikap pemerintah yang dari rezim ke rezim tidak pernah memberi harga pantas terhadap prinsip Taman Siswa. Prinsip Taman Siswa sering digembar-gemborkan dalam pidato, namun tak pernah dijadikan indikator penting dalam rencana dan tata laksana pendidikan. Sekolah negeri kita lebih mengacu pada pendidikan Barat, dengan melibas habis bakat dan potensi anak. Anak-anak disuruh mempelajari apa yang tidak mereka butuhkan. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi generasi follower, generasi yang bermental ikut-ikutan.

Untuk itulah, ia melakukan perlawanan dengan SALAM. Di salam, tak ada guru yang mengajar, pun tak ada mata pelajaran. Yang ada adalah laboratorium komunitas belajar dengan penghuninya warga belajar dan fasilitator. Mereka saling belajar dan bekerja sama. Pendidikan di SALAM berbasis riset. Warga belajar memperoleh banyak pelajaran setelah melakukan riset. Riset yang dilakukan merupakan pilihan masing-masing, sesuai minat masing-masing. Dari sebuah riset sederhana, mereka akan memperoleh berbagai bidang pelajaran. Matematika, sains, ilmu sosial, ekonomi, geografi, dan sebagainya.

Semua hal terkait pengelolaan SALAM, proses pendidikannya, dan lain-lain dikupas habis oleh Toto Rahardjo dalam buku ini. (*)

Sunday, February 3, 2019

Tadarus Sang Begawan: Kado Cinta untuk Herry Lamongan

Peluncuran Buku Puisi di Lamongan
Bersama Herry Lamongan dalam Acara Peluncuruan Buku Puisi di Salah-satu Kedai Kopi di Lamongan
KOMUNITASNGOPI.com - Nama aslinya Djuhaeri, tapi orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Herry Larnongan. Laki-laki kelahiran Bondowoso, Jawa Timur, pada 8 Mei 1959 ini sepak terjangnya dalam dunia sastra (terutama puisi dan geguritan) tak mungkin diragukan. Karya-karya itulah yang membuat namanya bisa dikenal oleh hampir semua kalangan pegiat sastra dan budaya, baik dalam kotanya sendiri, juga di berbagai kota lain.

Dilahirkan dari seorang ayah bernama Ismail asli Lamongan, dan ibu Sukarsih dari Jember, Jawa Timur, Herry Lamongan adalah anak pertama dari sembilan bersaudara. Ia diangkat menjadi guru SD di Lamongan pada tahun 1979. Kemudian, tahun 1987, Herry menikah dengan Ashabul Maimanah yang juga seorang guru SD. Dari hasil pernikahannya itu, ia dikaruniai tiga orang anak, yaitu Radite Erlangga Adipalguna (1988), Nur Jannati Kallista Putri (1990), dan Sazma Aulia Al-Kautsar (1998). Meski karya-karyanya telah melanglang, hingga kini ia tetap memutuskan tinggal di Perumahan Made, Jalan Madedadi VI/36, Lamongan, Jawa Timur.

Dalam dunia kepengarangan, Herry Lamongan mengawali proses kreatifnya sejak tahun 1983 dengan proses yang berdarah-darah. Karya pertamanya berupa puisi, dipublikasikan lewat koran mingguan Eksponen di Yogyakarta. Hanya saja, puisi ini tidak mendapatkan honorarium sebagaimana mestinya. Demikian juga dengan karya berikutnya yang dimuat di koran Karya Bakti Denpasar. Meskipun karya-karyanya yang telah dimuat di media massa itu tidak diberi honor, hal itu tak membuatnya patah arang. Ia memutuskan menulis dan terus menulis.

Hingga kini, puisi dan guritan-guritannya telah tersebar di berbagai majalah dan surat kabar berbahasa jawa dan indonesia, seperti Panyebar Semangat, Jaya Baya, Mekar Sari, Djaka Lodang, dan Jawa Anyar. Karya-karya puisinya juga banyak terpublikasi melalui berbagai koran dan majalah, baik daerah rnaupun nasional, seperti Swadesi, Karya Bakti, Mingguan Guru, Nusa Tenggara, Simponi, Mimbar Masyarakat, Suara Merdeka, Surabaya Post, Pelita, Kedaulatan Rakyat, Bali Post, Yogya Post, Singgalang, Harison, dan masih banyak yang lain.

Meski awalnya Herry bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis, tetapi takdir menyeretnya ke dunia lain. Justru ia lebih menekuni bidang budaya dan sastra. Dalam hal kepengarangan, ia mengaku banyak belajar dari banyak penyair, baik Indonesia maupun Jawa. Penggurit yang menurutnya telah membangkitkan semangatnya menulis guritan adalah Suripan Sadi Hutomo, Diah Hadaning, Setyo Yuwono Sudikan, dan Jayus Pete. Sedangkan penyair yang telah memberikan banyak hal kepadanya adalah Putu Arya Tirtawirya, Redi Panuju, Isbedy Setiawan Z.S., Wahyu Prasetya, dan lain-lain.

Unik memang, di antara banyak penyair yang enggan, untuk tidak mengatakan tidak sanggup, menulis geguritan, Herry Lamongan tetap menulis dalam dua bahasa, yaitu Jawa dan Indonesia. Menurutnya, bahasa Jawa memberikan nuansa kelembutan dalam rasa, baik saat diucapkan maupun ketika dituliskan. Sedangkan bahasa Indonesia menjadi sarananya untuk berkornunikasi dengan dunia yang lebih ]uas. Hanya saja, Herry mengaku bahwa jika diperbandingkan, menulis puisi Indonesia lebih mudah baginya daripada rnenulis guritan. Terbukti, hanya berbekal secangkir kopi dalam sebuah kedai kopi, sepersekian detik kemudian selarik puisi lahir dari tangannya menangkap momen yang berkeliaran di sekitarnya.

Sungguh menarik, di tengah gempuran budaya pop yang menyerbu dengan tawaran pragmatisme dan materialisme, Herry Lamongan tetap suntuk menyelami dunia ruhani yang ia terjemahkan melalui puisi. Bahkan ketika kebanyakan orang lebih memilih hijrah ke kampung-kampung metropolitan dengan segala prestise-nya, Herry tetap memilih tinggal di kota kecilnya, Lamongan, yang dulu tak pernah diperhitungkan. Itu pulalah yang membuat ia menyematkan kata Lamongan itu di namanya. Ia ingin melalui tulisan-tulisannya Lamongan tak dipandang sebelah mata. Dalam skala yang lebih jauh, Herry tak akan ingin lalai dengan asal usulnya

Menulis puisi bagi Herry Lamongan sudah seperti sebuah urat nadi. Menulis puisi baginya semacam pengembaraan tanpa akhir, penuh liku dan tantangan, dan tentu saja hal itu sangat rnengasyikkan. Oleh sebab itu, penyair yang tidak hanya menulis puisi, tetapi juga cerpen, drama, dan esai ini semakin mantap dengan dunia yang digelutinya. Bahkan tekadnya, ia bercita-cita ingin terus menulis puisi hingga akhir hayatnya. Maka berkat dedikasinya itulah, ia akhirnya berhasil memperoleh banyak penghargaan, diantaranya sebagai penulis puisi terbaik bersarna sembilan penyair lain dari Sanggar Minum Kopi, Denpasar, Bali, pada tahun 1989. Ia juga pernah menjadi penggurit terbaik dari Sanggar Sastra Triwida pada tahun 1995.

Tahun 2008 silam, naskah kumpulan puisinya juga terpilih sebagai penulis puisi anak terbaik nomor tiga tingkat nasional dalam even Sayembara Penulisan Buku Pengayaan yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Nasional di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. Prestasi ini tentu patut dibanggakan. Sebab, Herry tercatat sebagai salah satu dari 894 orang yang lolos seleksi, terdiri dari peserta penulis fiksi dan non fiksi kategori penulisan puisi, prosa, maupun naskah drama.

Karya-karya Herry Lamongan sudah tak terhitung jumlahnya. Karya-karya itu adalah wujud semangatnya yang tak pernah padam, meski usianya menjelang senja. Tak terasa, pada Mei 2019 nanti, usianya telah mencapai bilangan 60. Sebuah angka istimewa dalam pengembaraan hidup manusia.

Untuk itulah, Pustaka Ilalang bekerja sama dengan Kostela dan FP2L berniat menyelenggarakan Tadarrus Sang Begawan sebagai Kado Cinta Untuk Herry Lamongan. Acara yang digagas adalah mengundang sahabat Herry Lamongan atau siapapun yang pernah bersentuhan dengannya walau hanya dalam sebuah kedai kopi untuk menulis sesuatu tentang Sang Begawan Sastra. Tulisan itu nanti akan dibukukan dan dipersembahkan untuk Herry Lamongan pada ulang tahunnya yang ke 60. Siapa saja tentu berharap, apa yang dilakukan oleh Herry Lamongan itu memantik semangat bagi siapa saja, agar pengembaraan ruhani atas sebuah puisi tak akan sirna, meski zaman sedang gelap-gelapnya.(*)

Saturday, February 2, 2019

Menuju Guru GoBlog

Modo sebuah siang, pada bilangan angka dua di bulan Februari 2019. Setelah agenda 'ngopi jauh' ngopi sengkuni 2019 di Yogjakarta 12-13 Januari bulan lalu, Komunitas Ngopi melanjutkan acara ngopi barengnya di Lamongan selatan. Kali ini, yang menjadi tuan rumah adalah teman-teman dari Kecamatan Modo dengan mengambil lokasi sekolah tempat salah seorang anggota bertugas.

Jika pertemuan sebelumnya sinau bareng berkutat pada diseminasi anggota yang terjaring lolos level 3 PembaTIK yang diselenggarakan Pustekkom Kemdikbud dengan Vlog dan Kelas Mayanya, maka pada acara ngopi bareng kali ini adalah menuju Guru GoBlog dengan segala pernak-perniknya.


Sesi awal dimulai dengan Pak Edi sebagai alumni PembaTIK level 3. Ia memperbincangkan media pembelajaran yang dibuat dan dipraktekkan di kelas. Dalam kegiatan pembelajaran, Pak Edi mengajak anak-anak didiknya membuat rangkaian listrik sederhana untuk trafik light di jalan. Pembelajaran semacam ini tentu lebih menarik. Siswa lebih tertantang dan 'melakukan' secara langsung sehingga mendapatkan pengalaman dalam belajar.

Namun perbincangan tentang media belajar ini tidak berlangsung lama, karena sesi selanjutnya yang terutama adalah perbincangan tentang Guru GoBlog. Ya guru GoBlog tidak pakai K. Yang mengawal sesi ini adalah Diyan Shodik Nur Hadi. Dia bukan lebih mumpuni dari yang lain, tapi pak guru asal maduran ini yang memiliki semangat luar biasa belajar secara otodidak dalam nge-blog. Bahkan akhir 2018 silam, artikelnya yang diposting melalui blog miliknya terpilih sebagai juara 1 Lomba Artikel terkait pembelajaran TIK yang diselenggarakan PB PGRI di Jakarta. Semangat itulah yang ingin ditularkan kepada teman-teman anggota Komunitas Ngopi lainnya.

Sesi berlangsung lumayan lama. Anggota dengan sangat antusias mendengarkan langkah-langkah bagaimana membuat blog, apa itu template, mengapa harus membuat blog, apa yang harus dilakukan jika blog ingin gampang terindeks search engine, dan lain-lain. Anggota komunitas langsung mempraktekkan membuat blog dengan template preimum yang diberikan oleh Sang Pengawal.

Meski bahasan serius, bukan berarti tak ada candaan dan gurauan. Joke-joke segar kerap mewarnai jalannya sesi, sembari meneguk kopi, air mineral, dan makanan ringan yang disediakan tuan rumah. Ketika waktu menunjukkan semakin petang, shalat ashar berjamaah dilakukan di masjid yang tak jauh dari sekolah.

Setelah shalat, agenda sore itu dilanjutkan dengan menggenapkan beberapa bahasan terkait blog yang belum selesai dan agenda ngopi bareng selanjutnya. Menjelang acara berakhir, dipungkasi dengan menikmati suguhan makanan penutup dari tuan rumah, seorang teman dari wilayah utara mengabarkan baru akan bergabung sebab ada agenda yang tak bisa ditinggal. Ia masih dalam perjalanan. Mau tak mau, anggota yang lain menahan diri barang sejenak dengan kopi dan selintingan kretek.

Begitulah sore itu. Agenda ngopi tak hanya sekedar ngopi, tapi ada makna yang ingin diraih. Syukur jika ada karya yang bisa diwujudkan. Setidaknya, silaturahmi dan nuansa persaudaraan akan tetap terjaga dengan ngopi bareng, meskipun pilihan kretek ada kalanya beda. Tidakkah memang harus demikian?(*)

Roro Martiningsih, Guru dengan Segudang Prestasi

KOMUNITASNGOPI.com - Supel dan energik. Itulah kesan pertama ketika bertemu dengan Roro Martiningsih, guru dengan segudang prestasi dari SMP Muhammadiyah 1 Surabaya. Bu Tining Cantik, - demikian ia akrab dipanggil - adalah Duta Rumah Belajar Tahun 2017. Untuk tahun 2018, silahkah baca artikel sebelumnya Mengenal Deni Ranoptri, Duta Rumah Belajar Terbaik Tahun 2018

Kesempatan bertemu muka itu saya dapatkan ketika mengikuti bimtek PembaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK) Level 3 yang diadakan di Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan (BPMTPK) Sidoarjo. Berbeda dengan level 3 sebelumnya yang merupakan peserta level 2 yang lolos dari masing-masing kabupaten, Level 3 yang saya ikuti adalah tahap 'bonus' bagi peserta yang lulus dari PembaTIK level 2.

Duta Rumah Belajar 2018 Bersama Wali Kota Surabaya
Roro Martiningsih bersama Wali Kota Surabaya
Ketika menjadi narasumber dalam sebuah sesi, Bu Tining begitu antusias menceritakan pengalamannya yang berliku-liku sebelum kemudian dikukuhkan sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional Tahun 2017. Meski berstatus sebagai guru honorer yang belum diangkat sebagai PNS, tapi Bu Tining tidak minder dengan posisi itu. Baginya guru tetaplah guru. Yang dibutuhkan bukan status PNS atau Tidak PNS, tapi bagaimana guru bisa melakukan yang terbaik dalam pekerjaanya. Dalam posisi itulah, Tuhan pasti akan memberikan imbalan dengan rezeki yang tak disangka-sangka.

Ihwal tentang Portal Rumah Belajar, Bu Tining mengenalnya sejak tahun 2013 ketika browsing mencari sumber belajar tentang himpunan, sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Kala itu, ia benar-benar merasa senang dan terbantu dengan media yang ditemukannya di portal Rumah Belajar, apalagi media yang dimaksud adalah interaktif yang menarik minat siswa. Alhasil, pengalaman memanfaatkan Portal Rumah Belajar yang menyenangkan itu ditulisnya dalam artikel ilmiah dan dimuat di Jurnal Teknodik, Jurnal yang dikelola oleh Pustekkom.

Proses memang tidak mengkhianati hasil. Adagium itulah mungkin juga berlaku bagi Roro Martiningsih. Betapa tidak? Begitu banyak hal yang telah ia lakukan sebelum kemudian terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional tahun 2017. Misalnya, setelah lolos mengikuti bimtek level 3 yang dilaksanakan secara tatap muka, salah-satu tugas yang harus dipenuhi adalah melakukan diseminasi terhadap 10 (sepuluh) guru dari 10 (sepuluh) sekolah.

Bu Tining berpikir, tak mungkin jika ia harus mengundang orang-orang yang dimaksud untuk datang ke sekolah. Disamping efisiensi waktu dan biaya, belum tentu para guru yang diundang itu bersedia hadir di sekolahnya. Maka jalan yang ditempuh adalah jemput bola, ia kirimkan pesan whatsapp pada guru yang mengajar di sekolah lain, yang tentu saja kenal dengannya. Gayung bersambut, jadilah diseminasi dilaksanakan. Saat itu, sekolah awal yang menjadi tujuan diseminasinya adalah SMP Negeri 37 Surabaya.

Tak cukup sampai di situ, Bu Tining juga memasang iklan melalui facebook dan grup whatsapp perihal penggunaan Rumah Belajar dan Pembuatan Vlog. Tak disangka-sangka, banyak sekolah yang merespon diantaranya SD Katholik Santa Clara, SD Muhammadiyah 10 Surabaya, SD Muhammadiyah 17 Surabaya, dan lain-lain. Permintaan untuk mendapatkan sosialisasi Rumah Belajar secara gratis pun terus berdatangan, sehingga ia juga melatih peserta dari luar kota Surabaya, diantaranya 2 (Dua) SD Negeri di Bangkalan, beberapa sekolah di Sidoarjo, dan satu sekolah di Lamongan. Yang patut menjadi catatan besar. Semua itu dijalankan Roro Martingsih dengan biaya mandiri. Maka, wajar jika ia kemudian terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional Tahun 2017.

Segudang prestasi ia ukir sebagaimana tertulis di akun media sosialnya. Tahun 2013, Roro Martiningsih adalah Juara 1 Guru Prestasi Kota Surabaya. Kemudian, ia beserta beberapa unsur lain dipercaya menjadi juri guru prestasi kota Surabaya Tahun 2014. Tahun 2011 silam, ia menjadi finalis pada acara Kompetisi Writting Internasional yang diadakan oleh Penerbit Kamus Internasional. Longman Asia Ltd. Juara Inobel Tingkat Nasional pun pernah ia raih tahun 2010. Lantas tahun 2017 ia terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional. Yang paling gress tahun 2018, Roro Martiningsih terpilih sebagai Duta Microsoft Indonesia yaitu Microsoft Inovative Educator Expert (MIEE) dan mengikuti kegiatan Education Exchange di Singapura.

Banyak artikel ditulis oleh Bu Tining dan telah terpublikasikan di jurnal ilmiah, diantaranya  adalah  Peningkatan Prestasi Belajar Himpunan Melalui Penggunaan Portal Rumah Belajar (2013), Peningkatan Hasil Belajar Pola Bilangan dengan Aplikasi iSpring (2014), Pengembangan RPP Kurikulum 2013 Terintegrasi Televisi Edukasi (2014), Perbedaan Prestasi Belajar PKn Sebelum dan Sesudah Mempergunakan Media Kartu Domino dalam Pembelajaran di Kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Surabaya (2015), Efektifitas Pemanfaatan MS Excel dalam Pembelajaran Matematika di SMP Muhammadiyah 1 Surabaya (2015), Peningkatan Hasil Belajar Himpunan dengan Menggunakan Aplikasi Ispring Suite 8 (2018).

Sedangkan buku yang telah ia tulis adalah Sekolah Bintang (2015), Aku Bangga Jadi Guru (2018), dan Pembelajaran Abad 21 (2018).(*)

(diolah dari berbagai sumber.red)

Tuesday, January 29, 2019

Mengenal Deni Ranoptri, Duta Rumah Belajar Terbaik Tahun 2018

Duta Rumah Belajar 2018
Deni Ranoptri (Sebelah Kanan), Duta Rumah Belajar Terbaik 2018
Komunitas Ngopi | BAGI penjelajah dunia blogger, dan terutama dunia media sosial, nama Deni Demian Renovtri tentu tak asing. Sebab, pria yang berprofesi sebagai guru di Kalimantan Selatan itu telah malang melintang dalam dunia blogger sejak lama. Jejak digitalnya kini juga sangat mudah ditemukan. Bahkan untuk status pertemanan di facebook, ia membuat akun Deni Demian Renovtri II, sekedar untuk mewadahi mereka yang ingin berteman, akibat keterbatasan jumlah pertemanan di facebook.

Tahun 2018 lalu, Pria bernama asli Deni Ranoptri itu lolos mewakili Propinsi Kalimantan Selatan dalam mengikuti pemilihan Duta Rumah Belajar, sebuah event tahunan yang diselenggarakan oleh Kemdikbud melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom). Dalam ajang itu, ia terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik setelah bersaing dengan wakil masing-masing propinsi di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, untuk mensosialisaikan laman Rumah Belajar, Pustekkom kembali menggelar pemilihan Duta Rumah Belajar Tahun 2018 melalui program PembaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK). Ada 4 level yang harus dilalui peserta, yaitu Literasi TIK dengan Bimtek Daring Level 1, level 2 berupa implementasi TIK dengan kegiatan yang juga bersifat daring. Jika kedua tahap ini lolos, peserta akan mengikuti level 3 berupa Kreasi TIK dengan Bimtek Tatap Muka yang dilaksanakan di Propinsi. Level 4 adalah Impelementasi TIK di Jakarta dengan peserta masing-masing propinsi satu orang yang lolos level 3. Dalam ajang itulah, Deni terpilih sebagai Duta Belajar Terbaik tahun 2018.

Deni Demian Renovtri adalah nama akun facebook. Aslinya adalah Deni Ranoptri. Ia dilahirkan di Tabalong, Kalimantan Selatan 36 tahun silam, tepatnya 3 Nopember 1983. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang dibesarkan di sebuah keluarga yang penuh dengan esederhanaan. Soal profesi sebagai guru, ia mengawali karirnya dengan menjadi seorang Guru Sekolah Dasar di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan tahun 2011.

Kondisi tempatnya mengajar bisa dibilang jauh dari fasilitas dan sarana prasarana yang lengkap. Justru berangkat dari ketertinggalan informasi dan materi-materi mengajar itulah, ia lantas belajar secara otodidak melalui internet. Semua itu diperlukannya untuk menambah wawasan dalam kegiatan pembelajaran dan mencari informasi terbaru tentang data-data pendidikan yang sempat booming ketika Dapodik muncul pertama kali. Dengan keuletannya, ia melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Terbuka Jurusan PGSD lulus tahun 2014.

Berbekal hobinya membaca dan menulis, dengan mudah ia menyerap berbagai informasi yang diperolehnya melalu internet dan perkuliahan. Dari hobinya itulah, ia lantas membuat sebuah blog yang didedikasikan untuk para guru di wilayah pedalaman agar dapat mengakses segala informasi dan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan ketika dia terpilih menjadi Ketua KKG (Kelompok Kerja Guru) tahun 2012. Blog itulah yang mengantarkannya menjadi lincah menulis dan mengembangkan beberapa ide atau aplikasi yang diperuntukan untuk semua guru, khususnya guru SD.

Salah-satu blog yang dikelolanya gurusd.net terpilih sebagai penerima penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan tahun 2015 kategori Blogger dari Kemendikbud. Ia juga pernah dinobatkan sebagai tokoh masyarakat pegiat IT bidang pendidikan dalam memajukan pendidikan oleh Pemerintah Daerahnya tahun 2016. Selain penghargaan tersebut, Deni juga pernah menjadi Juara 1 Tingkat Kabupaten Tabalong kategori Pembuatan Media Pembelajaran tahun 2015, Juara 1 Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan untuk Website Sekolah tahun 2015 dan 2016.

Pria yang dikenal sebagai gurunya blogger pendidikan ini sekarang sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Negeri Surabaya Jurusan Teknologi Pendidikan, sesuai dengan impiannya ingin lebih menguasai dan memperdalam teknologi dalam bidang pendidikan.(*)

Friday, January 25, 2019

Kopi JOSS: Jangan Omong Saja Su...


DISELA-sela
agenda menuju Ngopi Sengkuni 2019, salah-satu agenda yang wajib tak boleh dilewatkan adalah Ngopi Joss di sebelah utara Stasiun Tugu Yogjakarta, dekat dengan malioboro. Jika lamongan ada Kopi Selir, bojonegoro terkenal dengan Kopi Kothok, maka bagi penikmat kopi yang sedang berada di Yogja, Kopi Joss adalah kuliner kopi yang sungguh sayang jika dilewatkan.

Kopi Joss adalah kopi arang Yogjakarta. Bukan hanya dari cita rasanya, tapi cara penyajiannya juga unik. Sebelum racikan bubuk kopi dan gula yang telah tercampur air panas mendidih itu disuguhkan, dua arang membara yang diambil dari tungku sebelahnya dimasukkan. Tak ayal, bara api yang bertemu dengan seduhan kopi membuat permukaan gelas mengepulkan asap, berbuih dan mengeluarkan bunyi, jossss. Itulah sebabnya, pengunjung kemudian menyebut kopi arang ini dengan sebutan Kopi Joss.
Angkringan Kopi Joss bisa kita temui di sepanjang Jalan Wongsodirdjan, yang merupakan tempat kuliner Kopi. Jika kita melewati jalan ini, beragam sajian khas angkringan ditata di atas bakul pikul yang menjadi daya tarik tempat ini. Salah-satu angkringan legendaris adalah Angkringan Lik Man, yang kabarnya sudah ada sejak tahun 1960. Angkringan Lik Man inilah yang pertama kali memperkenalkan Kopi Joss.

Maka agenda awal Komunitas Ngopi sebelum menyaksikan Pementasan Teater Sengkuni 2019 di Taman Budaya Yogjakarta, Angkringan Lik Man inilah yang menjadi tujuan awal. Berangkat dari Lamongan kurang lebih jam 14.00, perjalanan menuju Yogjakarta diwarnai rinai hujan. Perkiraan kami, selepas isya’ kami sudah tiba di lokasi, beristirahat barang sejenak, lantas menelusuri malam di sepanjang malioboro, ngopi joss di Lik Man, ke alun-alun utara, dengan durasi waktu yang tak mungkin ditentukan.


Nyatanya, perkiraan kami meleset. Hampir tengah malam, rombongan baru tiba di lokasi. Bahkan ketika melewati Jalan Wongsodirdjan yang sempit dengan mobil dan motor yang terpakir di sepanjang jalan, mobil sempat berputar dua kali untuk mencari tempat parkir. Ya, perjalanan ngopi kali ini memang tidak terburu waktu. Sehingga ibarat lensa kamera, kecepatan geraknya slow motion. Beragam peristiwa dipotret dan menjadi bahan perbincangan tak habis-habis.

Meski tengah malam, pengunjung angkringan di sepanjang jalan ini justru kian ramai. Kursi-kursi di depan angkringan penuh. Bahkan trotoar bahu jalan yang digelari tikar-tikar juga penuh dengan orang-orang yang entah dari mana saling memperbincangkan apa saja.

“Piye cak rasane?” tanya saya pada Dian, yang dalam perjalanan siang hingga se petang tadi hampir tak pernah diam.

“Iyo e kak, rasane mantep. Onok keset-kesete, paling areng sing di gawe iki kayu mahoni.” tuturnya berkelakar.

Dalam keadaan kondisi tubuh yang butuh istirahat setelah perjalanan jauh, teman-teman Komunitas Ngopi tampak hikmat ketika berada di Angkringan Kopi Joss ini. Cak Sis yang membawa tongsis mencari angle yang pas untuk mengabadikan setiap momen dalam jepretan kamera. Sedang Cak Edi, yang di sebelahnya ada perempuan-perempuan cantik sedang nge-Joss sempat salah fokus. Satu gelas kopi joss disenggol sehingga isinya tumpah membasahi orang-orang di atasnya.

Esoknya, dalam pementasan teater Sengkuni 2019 di TBY, entah bagaimana ceritanya, sepenggal improvisasi narasi Kopi Joss sempat terlontar dari mulut Katib, tokoh yang senantiasa mendampingi Sengkuni yang diperankan oleh Pak Joko Kamto.

"Joss Kuwi Opo Tho. Joss itu singkatan. Aslinya, Jangan Omong Saja, Suu.."(*)

Thursday, January 24, 2019

Perjalanan Ngopi Sengkuni 2019

Pagelaran Sengkuni 2019 Teater Perdikan
Pagelaran Sengkuni 2019, Teater Perdikan
Ngopi Sengkuni. Istilah itulah yang digunakan oleh teman-teman anggota Komunitas Ngopi ketika mengagendakan “ngopi jauh” ke Yogjakarta, kota budaya yang siapapun pasti akan rindu ketika pernah bersentuhan dengannya. Agar ngopi tidak sekedar ngopi, agenda ngopi jauh itu ditepatkan dengan pagelaran Sengkuni 2019 oleh Teater Perdikan. Naskah karya Simbah Emha Ainun Nadjib itu dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogjakarta pada 12-13 Januari 2019.

Awalnya, agenda Sengkuni 2019 ini merupakan agenda individu. Namun ketika diperbincangkan dalam rutinitas ngopi di beberapa tempat, Sengkuni 2019 akhirnya menjadi agenda bersama ketika beberapa orang tertarik untuk mengikuti. Apalagi 12-13 adalah sabtu minggu yang merupakan hari libur. Alhasil, diputuskan acara ngopi jauh itu.

Di bawah ini, beberapa momen yang sempat diabadikan ketika ngopi joss di Kopi Joss Lik Man.

Wednesday, January 23, 2019

Selamat Datang di Komunitas Ngopi

Blog Media Silaturahmi

Komunitas Ngopi adalah blog media silaturahmi bagi yang bersedia berbagi, saling menginspirasi, tentu saja tak lepas dari hangatnya secangkir kopi. Awalnya, Komunitas Ngopi ini terbentuk akibat hiruk pikuk pendataan dalam dunia pendidikan dengan segala keluh kesahnya. Mulai dari awal-awal munculnya Dapodik, sebuah sistem managemen pendataan di lingkup Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Keniscayaan permasalahan pendataan itulah yang menyebabkan Komunitas Ngopi ini terbentuk menjadi semacam tempat untuk saling mencari solusi.

Seiring berkembangnya waktu, yang menjadi topik utama dalam Komunitas Ngopi ini ketika melingkar bukan hanya melulu tentang dunia pendataan. Lebih jauh, obrolan-obrolan yang mengalir adalah terkait tugasnya sebagai guru dalam dunia pendidikan. Tentang Kegiatan-kegiatan pengembangan diri semacam seminar-seminar pendidikan, diklat inovasi pembelajaran, workshop kepenulisan, dan lain-lain.

Bahkan, di tengah dunia yang sekarang ini katanya telah memasuki era revolusi industri 4.0, para guru yang tergabung dalam Komunitas Ngopi ini juga berusaha memberdayakan dirinya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pustekkom, seperti pembuatan bahan ajar berbasik TIK, pembuatan Video Pembelajaran, dan lain-lain. Tujuannya tak lain agar terjadi peningkatan kualitas pembelajaran.

Meskipun dilatarbelakangi persamaan profesi, siapapun boleh bergabung dalam komunitas ini. Syaratnya menjaga kesadaran mereguk hangatnya kopi dengan tidak ada yang merasa ‘lebih’ dari yang lain. Bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan dan kekurangan itulah yang harus disinergikan agar yang tercipta adalah saling menebar manfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah jika ia bermanfaat bagi manusia lain?

Walhasil, di tengah budaya ngopi yang kian membahana dari hari ke hari. Kita tentu berharap bahwa ngopi tidak hanya sekedar ngopi. Dari secangkir kopi, kreatifitas bisa dipacu sedemikian rupa. Dengan demikian, Komunitas Ngopi semoga bisa menawarkan secangkir inspirasi. Bahwa jika pahit dan manis di aduk dengan takaran yang pas, akan menghasilkan aroma kehangatan yang demikian menggoda.

Sudah ngopikah Anda hari ini?

Tabik....

DomaiNesia