Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Friday, April 12, 2019

Sentilan Gus Baha': Antara Kematian dan Pilihan Presiden

Antara Kematian dan Pilpres
Gus Baha' atau lengkapnya KH. Baha'udin Nursalim
Memakai kopiah hitam yang ditarik agak ke belakang, mengenakan kostum kemeja putih berlengan panjang dengan bolpen di saku bajunya, tak ketinggalan senyum tersungging menghiasi wajahnya. Itulah penampakan khas Gus Baha’. Sangat biasa. Sangat sederhana. Gus Baha' adalah fenomena baru dengan kajian-kajiannya yang menggelitik. Tak jarang, kajian-kajian itu banyak dibagikan di media sosial mencermati fenomena yang berkembang di masyarakat.

Seperti ketika pilihan presiden menciptakan kehingar-bingaran dalam kehidupan sosial, kemudian masing-masing pihak saling mengklaim paling baik dan paling benar atas capres yang didukungnya. Apa yang dikatakan Gus Baha' kemudian? Beliau menyamakan kematian dan pilpres. Lho, kok bisa?

“Ada orang bilang, 'Saya jangan meninggal dulu, jika saya meninggal, bagaimana nasib anak istri saya?' Itu pernyataan apa? Mati ya mbok mati saja. Tak usah lebay. Mati itu kehendak Gusti Allah. Jika mati, jenazahmu ya diurus, diantar ke kuburan, setelah dikubur lalu ditahlili, selesai."

Tapi, bagaimana dengan nasib anak dan istri saya?

“Kamu kok gak percaya sama Gusti Allah, sih. Kalau kamu mati, nasib anak istrimu itu urusan Allah. Kan faktanya banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, perempuan yang dulunya miskin, sengsara, hidupnya kembang kempis, begitu ditinggal mati oleh suaminya, ia menikah lagi dengan laki-laki lain. Ternyata setelah menikah lagi, hidupnya tambah baik, menjadi tambah kaya dan bahagia. Anak-anaknya juga begitu, ia mempunyai bapak baru yang lebih sayang, lebih terhormat, dan lebih kaya." tutur Gus Baha'.

“Makanya, gak usah lebay dan didramatisir. Biasa saja. Jika ente mati, ya mati saja. Kok seakan-akan kematianmu itu menyebabkan nasib orang lain menjadi semakin buruk. Ada-ada saja."

Lantas, apa hubungannya kematian dengan pilihan presiden?

“Nyoblos, ya nyoblos saja. Gak usah sok-sokan mengklaim jika si Anu terpilih jadi presiden, hidupmu sejahtera, rakyat kecil akan sentosa. Mana ada ceritanya rakyat terjamin hidupnya gara-gara presiden? Apalagi sampai bilang, kalau si Anu ndak terpilih jadi presiden, bagaimana nasib Islam kelak?"

"Itu pernyataan sembrono. Itu pernyataan sangat-sangat ngawur. Sejarahnya, islam itu pernah ditinggal wafat oleh Kanjeng Nabi, oleh para sahabat, oleh orang-orang saleh. Apakah islam menjadi lebih buruk, menjadi tak terurus dan ditinggal penganutnya? Nyatanya tidak. Islam makin baik karena itu sudah merupakan kehendak Allah. Islam makin banyak penganutnya. Itu sudah ketetapan Allah. Islam sama sekali tak ada urusannya dengan capres pilihanmu itu."

“Jadi, milih itu ya milih saja. nyoblos ya nyoblos saja. Sewajarnya saja. Gak usah lebay. Jadi orang itu yang biasa-biasa saja.”

"Silakan yang mau ikut pilpres. Milih baik, gak milih juga baik. Jangan merasa jika kamu memilih, terus kamu menjadi mulia. Jika kamu kerja bakti saja gak pernah ikut, sedekah maunya juga yang ngirit, malas dan jarang membantu orang, pelitnya tujuh turunan, sukanya menjelek-jelekkan orang, punya hobi memfitnah sana-sini, cuma karena merasa ikut nyoblos pilpres saja kok merasa lebih mulia dibanding orang lain."

"Padahal, siapa tahu mereka yang gak ikut nyoblos itu, justru yang gemar bersedekah, tak pernah telat menyantuni anak yatim, juga sangat berbakti terhadap orang tua, rajin mengikuti kerja bakti, memiliki andil dalam menyelamatkan lingkungan dengan berbagai program penghijauan, ia juga aktif mengajar, tidak rakus, tidak sombong, dan sebagainya".

"Lha kamu, cuma nyoblos saja kok sombongnya amit-amit. Merasa lebih baik dan lebih mulia dari yang gak nyoblos. Sejak kapan kebaikan dan kemuliaan manusia diukur hanya dari urusan cuma coblos-coblosan? Jadi orang kok sembrono.."

Siapakah Gus Baha'?
Gus Baha’ atau lengkapnya KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Beliau merupakan santri kesayangan Mbah Maimoen Zubair. Prof. Quraish Syihab, bahkan memuji kecerdasan Gus Baha dan menyebutnya sebagai sosok langka karena menguasai tafsir dan fikih sekaligus.

Ihwal belajar ilmu agamanya, Gus Baha' menghafal Al Quran kepada ayahandanya, Kiai Nursalim di Kragan, Rembang. Selanjutnya, ia melanjutkan pengajiannya di pesantren Mbah Moen Rembang. Di bawah asuhan Mbah Moen itulah, Gus Baha' menghafalkan berbagai kitab klasik, mulai dari Fathul Mu’in yang merupakan kitab fiqih, juga Shahih Muslim lengkap beserta matan dan sanadnya dalam hadis, serta kitab-kitab lain. Tak ketinggalan adalah pelajaran tata bahasa Arab seperti Imrithi dan Alfiyah yang lazim diajarkan di pesantren, tandas dihafalnya.

Sekalipun hanya mengaji di pesantren, kepakaran Gus Baha mulai meramaikan jagat intelektual Islam Indonesia. Seperti dikutip dari alif.id, Gus Baha' masuk dalam jajaran Dewan Tafsir Nasional, Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, Penasehat BAZNAS, dan lain-lain. Konon, beliau juga pernah ditawari gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Indonesia (UII), namun ditolaknya. Gus Baha adalah produk pesantren Indonesia, dengan kealiman yang pilih tanding.

Penampilannya yang sederhana, justru menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat. Tak ada serban yang menjuntai ataupun jubah. Bahkan, cara memakai pecinya yang agak semrawut, seperti santri yang sedang leyeh-leyeh di serambi asrama. Kemewahannya adalah sikap tawadlu'-nya, juga kepiawaiannta saat mengutip beragam referensi kitab-kitab klasik.(*)

Thursday, March 28, 2019

Aku Pingsan disambar Geledek

Cerpen Aku Pingsan disambar Geledek
Sebagaimana manusia yang lain, engkaupun seorang manusia, yang tidak hanya tersusun dari badan kasar. Engkau punya hati, punya jiwa. Jasad hanyalah bungkus lahir yang kadang menipu. Raga adalah seonggok tulang terbungkus daging yang suatu saat pasti musnah tertelan waktu. Sementara yang sejati hanyalah jiwa, hanyalah ruh. Untuk apa bersusah payah memburu dunia hanya jika supaya terbebas dari lapar. Untuk apa bekerja mati-matian hanya supaya kebutuhan fisikmu terpenuhi dan tidak kalah dengan tetangga kiri kananmu. Sementara kebutuhan rokhanimu kau biarkan terlantar. Esensi jiwamu ternyata kau biarkan terdampar di sudut ruangan nun jauh disana...
Terngiang-ngiang suara itu memenuhi gendang telingaku, menggema menggelayuti alam batinku. Apa yang dituturkan Pak Wongso beberapa waktu yang lalu itu seolah-olah tidak lagi memberikan ruang bagiku untuk berkutik. Keleluasaanku sirna, kebebasanku musnah. Serentetan kalimat itu bagai raksasa berkekuatan luar biasa yang mampu mengekang setiap sekat kebebasan yang pernah aku miliki, mencengkram eksistensiku, menguasai sepetak ruangan yang sekian lama terabaikan begitu saja dalam batinku, sebuah ruangan yang terbiarkan kumuh oleh seliweran sawang-sawang. Dan mau tidak mau, aku pun hanya mampu bersimpuh, luruh dalam eksistensi yang kian rapuh.

“Apa sih yang sebenarnya yang dicari manusia?” Suara Pak Wongso terdengar lagi,” Dia ada kan, sekedar diadakan, kemudian menjadi hidup, besar, kawin, beranak pinak, lantas mati. Apakah hanya sekedar itu manusia ada. Apakah tidak ada kemungkinan lain bagi manusia untuk mencapai tingkat teratas bagi harkat kemanusiaannya?"

Suara itu terus menggema. Ibarat aliran air yang membasahi tiap petak kekeringan, ia terus mengalir, berkelok-kelok, menganak sungai. Ketika aliran itu melewati tanah jiwaku yang kering kerontang, aku pun tergeragap. Sebuah kesadaran akhirnya mengendap ke permukaan, betulkah diriku selama ini adalah manusia? Pantaskah aku disebut sebagai sesosok makhluk Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan pikiran? Ketika yang terangkum dalam setiap langkah kehidupanku adalah kemegahan mengumbar nafsu, keberdayaan meletakkan diri hidup tanpa kendali, selalu menerjang batas dan kewajiban.

Pantaskah jika kemudian aku disebut sebagai seorang manusia?

***

Pesawat telepon yang besebelahan dengan komputer yang tengah aku hadapi mendadak berdering. Aku sedikit tersentak. Gema suara Pak Wongso yang berseliweran itu berlalu dan buyar seketika. Dengan gerakan sedikit agak malas, kuraih gagang, dan...............

“Hallo?”

Hening. Tak ada suara. Hanya suara gemerisik yang aku temui.

“Hallo?” Suaraku sekali lagi. Kali ini sedikit agak kutekankan. Aku agak jengkel.

“Brengsek!” Kata umpatan akhirnya meluncur dari bibirku secara tak sadar. Gagang kembali kuletakkan di tempatnya semula.

Entahlah, akhir-akhir ini sering kutemui kejadian semacam itu. Telepon berdering, kungkat, ditutup. Hal itu tidak hanya berlangsung sekali dua kali. Bahkan berulang kali. Mungkinkah ada maksud-maksud tersembunyi dibalik telepon itu? Ataukah memang ada manusia jahil yang sengaja iseng menggodaku. Ataukah....

Tiba-tiba saja terbayang di memori kepalaku sesosok makhluk yang berada nun jauh disana, dalam cakrawala tak terbatas. Sesosok makhluk yang telah membawaku ke sebuah dunia baru yang tak jelas maknanya. Antara hitam dan putih, hijau dan biru, kuning dan kelabu. Tiba-tiba saja aku ingat, bahwa seringkali aku ingin menelponnya, sekedar mengajaknya berbicara, ingin mendengarkan syahdu suaranya, atau bahkan menikmati lemah lembut tutur katanya.

Tapi entahlah, ketika suara yang tengah aku rindukan itu menjelma mengiramai pendengaranku, yang kulakukan justru diam dan tak mampu berkata apa-apa. Entahlah, lidahku mendadak kelu, suaraku tercekat. Tak ada yang bisa kulakukan kemudian selain memaki diriku sendiri. Tiba-tiba saja aku berfikir, tidakkah perempuan itu juga mengalami kekesalan yang sama, sebagaimana yang kualami saat ini?

Mengingat itu semua, aku jadi tersenyum sendiri. Mengapa aku berubah menjadi makhluk tolol semacam itu. Apa salahnya kalau hanya sekedar berbicara. Toh berbicara adalah hal yang wajar dan lumrah bagi seorang manusia. Dan semuanya tahu, bahwa dalam sebuah negara yang meskipun didera kemelut kayak apapun, berbicara toh tidak pernah dilarang?

“Aku tidak munafiq, bahwa aku memang tertarik pada perempuan itu,” Gaung batinku menggema,”Aku tertarik bahkan jauh sebelum mengenalnya. Ketika kuketahui bahwa perempuan sepertinya, yang telah sekian puluh tahun menikmati anggur kota metropolitan yang memabukkan. Namun ia ternyata masih bersedia memasuki sebuah dunia yang menurut sebagian orang adalah dunia tradisional, dunia kaum sarungan yang kumuh. Sungguh, dengan tekad dan keinginan yang membara itu yang menyulut kekaguman luar biasa bagi diriku.”

“Ia itu sudah tunangan, Kang. Dengan seorang putra Kiai dari kota B. Mungkin ia berkemauan keras menuntut ilmu di pesantren lantaran akan menjadi keluarga seorang Kiai. Sementara pengetahuan agamanya masih sangat minim, bahkan mungkin nol sama sekali,” Tutur seorang teman yang kebetulan teman dekatnya.

Aku hanya tercenung. Mendadak Gema suara Pak Wongso kembali menyuara dalam benakkum, "Segala sesuatu tergantung niat. Kalau engkau melakukan sesuatu yang sifatnya dunia, namun niat yang terpasang di hatimu adalah akherat, maka engkau akan mendapatkan akherat, disamping dunia juga akan katut dengan sendirinya. Tapi meskipun engkau melakukan sesuatu yang sifatnya akherat, sedang niat yang terpasang hanya demi dunia, maka akherat hanya menjadi bayang-bayang yang tak pernah bisa engkau raih, sementara dunia juga tidak ada kepastian apakah bisa engkau raih atau tidak.”

“Kalau engkau mencari ilmu,” Suara Pak Wongso kemudian,” Tata niatmu sejak awal. Jangan engkau mencari ilmu hanya demi dapat memperoleh dunia, supaya memperoleh pangkat, jabatan, kekayaan, istri yang cantik, dan lain sebagainya. Semua itu akan sia-sia. Ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan pernah diberikan kepada mereka yang mati hatinya, yang tidak peka perasaannya, yang hari-harinya selalu dikepung oleh perbuatan-perbuatan maksiat. Belajarlah prihatin selama di dunia. Rasul adalah manusia yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Dan engkau tahu kehidupan Rasul bukan? bahwa beliau adalah manusia yang tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.”

****

Pak Wongso adalah seorang Kiai yang gemar menulis puisi, memiliki pesantren khusus anak yatim yang segala kebutuhan santri sepenuhnya ia tanggung sendiri. Kehidupannya inklusif sebagaimana hakikat islam. Siang kadang ke sawah, bergulat dengan lumpur dan tanah, dan malam adalah saat-saat dimana harus rela menyerahkan waktu istirahatnya untuk menemui para tamu. Sebagian ada yang meminta wejangan batin, memintanya menjadi dukun, bahkan sebagian yang lain sering mengajak dialog kecil-kecilan sampai menjelang subuh. Sehingga otomatis, malam tidak lagi merupakan saat-saat istirahat bagi Pak Wongso.

“Bagi saya, tidur bukan merupakan pekerjaan budaya, melainkan alamiah. Sebagaimana makan adalah pekerjaan alam. Mengapa kita mesti membiarkan lidah mengumbar nafsu keinginannya hanya demi makanan beraneka ragam, padahal butuhnya perut sebagai penampung keinginan lidah hanya satu, bahwa ia minta diisi paling banter sepiring atau paling banyak tiga piring setiap hari."

“Mengapa sesekali tidak mencicipi makanan modern, Pak? Biar tidak ndeso dan ketinggalan zaman." Pertanyaaanku berkelakar.

Pak Wongso melemparkan senyum,” Masalahnya bukan itu. Kalau saya bersedia, bisa saja setiap hari saya menyantap makanan ala restoran-restoran super mahal. Tapi saya pikir, kenapa kita mesti dibikin bertele-tele mengurusi soal makanan. Makanan kan berbeda pada saat di lidah, waktu diperut, sama saja kan fungsinya? bahkan makanan yang macem-macem itulah pintu bagi manusia untuk bermesraan dengan penyakit. Islam kan jelas mengatakan, sumber penyakit adalah perut, dan menyedikitkan makan adalah obatnya.”

***

Ingatanku kembali melayang pada sosok perempuan itu. Ketika dalam waktu yang lama harus istirahat lantaran sebuah penyakit. Apa yang sedang ia lakukan disaat-saat seperti sekarang ini?

“Kamu harus sabar, ya?” Nasihatku suatu saat,“Tuhan itu maha kasih kepada hamba-hamba-Nya. Bukan berarti kalau engkau sakit, lantas Tuhan tidak lagi sayang kepadamu. Mungkin Tuhan sedang menguji sejauh mana kesungguhanmu setia kepada-Nya. Nabi Ayub mencapai derajat tertinggi pun harus rela menempuh sakit selama bertahun-tahun. Untung engkau hanya sakit, orang-orang disekitarmu masih setia menemanimu, materi pun engkau sangat berkecukupan. Sementara Nabi Ayub, disamping sakit, ia juga harus rela dicampakkan oleh orang-orang yang dicintainya. Hartanya pun musnah sedemikian rupa.”

“Itu kan Nabi Ayub, sedang aku................”

“Apa bedanya,” Potongku cepat,”Masalahnya bukan apakah seseorang itu nabi atau bukan nabi. Masalahnya bahwa sesama hamba Allah, kita harus selalu bersedia mewaspadai segala apa yang dititahkan-Nya atas kita.”

Seseorang yang muncul misterius tiba-tiba saja bertanya,”Engkau mencintainya, ya?”

Aku sedikit tersentak, kemudian hanya bisa melemparkan senyum.

“Kalau engkau mencintainya, katakan terus terang itu padanya!”

“Entahlah. Aku tak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Aku sendiri bahkan berdoa agar perasaan itu tidak pernah tumbuh dalam relung hatiku. Aku tidak ingin mengekang persahabatan ini dengan kotak-kotak cinta yang pasti akan melahirkan tuntutan satu sama lain. Cuma yang tidak pernah aku pahami, mengapa selama ini ia begitu sering hadir menemani hari-hariku. Ditengah kekagumanku padanya, ternyata aku menyimpan sebuah harapan bisa membantu mengatasi masalahnya, terlepas apakah ia bersedia atau tidak.”

“Itu berarti kamu memang mencintainya,” Pak Wongso kini yang bersuara,”Sudahlah, kamu mesti bersyukur dengan semua itu, ditengah pengembaraanmu yang hampir gila, ternyata Tuhan masih membukakan pintu kasih-Nya dengan menumbuhkan perasaan cinta itu dalam hingar bingarnya perasaanmu. Sepanjang perasaan itu tidak menjadi penghalang bagimu untuk bermesraan dengan-Nya, engkau harus berbahagia. Sebagai manusia, kita toh ndak bisa melepaskan diri dengan semua yang dititahkan-Nya atas kita.”

Aku lebih memilih diam menanggapi suara Pak Wongso.

Sebuah suara tiba-tiba bergema sedemikian kerasnya,”Ia sudah tunangan, Kang!”

Langit pun mendung seketika. Aku pingsan disambar geledek. ***

Friday, February 22, 2019

Lelaki yang Bercengkrama dengan Mimpi

Lelaki Yang Bercengkrama dengan Mimpi
Cerpen: Em. Syuhada'
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kang Thawil selain berdiri mematung menatapi pemandangan di sekelilingnya yang membuat batinnya miris. Sejauh mata memandang, yang terpampang adalah hektaran sawah dengan tanaman porak poranda. Genangan air bercampur lumpur telah membuat tanaman padi siap panen itu menjadi onggokan benda tak ubahnya sampah, timbul tenggelam dipermainkan semilir angin yang menciptakan riak-riak kecil. Dan lelaki itu, tanpa sepatah kata mencoba menyibakkan batang demi batang, seperti berusaha memungut harapan hidupnya yang terserak tak keruan entah kemana.

Dia kemudian menghela nafas. Sesuatu dirasakannya begitu berat menghimpit rongga dadanya. Sungguh berat. Bahkan untuk sekedar menarik nafas pun terasa susah. Kenyataan yang dihadapinya sekarang menjelma ribuan jarum dihunjamkan begitu saja ke relung hatinya. Menusuk-nusuk kemanusiaannya. Dan batinnya terasa begitu perih. Ah, andai saja ia menuruti perkataan istrinya beberapa waktu yang lalu, tentu kenyataan akan berkata lain.

"Kenapa tidak kita panen saja, Kang, toh hanya tanaman ini yang bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan kita. Apa kita tidak malu terus-terusan ditagih sama Lek Sakri." itu saran istrinya seminggu yang lalu, ketika keduanya tengah menghalau padi yang telah menguning itu dari serbuan pipit.

"Ndak usah terburu-buru bune, mungkin seminggu atau dua minggu lagi padi ini kita panen. Biarlah aku nanti yang ngomong sama Lek Sakri, yang penting kan, ada yang kita jagakne untuk melunasi hutang."

Dan ia memang hanya seorang manusia, yang tak pernah tahu dengan apa yang terjadi esok. Sama sekali tak menyangka jika takdir kembali memaksanya harus menelan kegetiran demi kegetiran.

Lelaki itu, Kang Thawil, demikian orang biasa memanggilnya, memang petani yang seluruh penghidupannya bertumpu pada sawah. Bagi lelaki setengah baya itu, sawah adalah muara dari berliku-likunya air sungai persoalan kehidupan yang sehari-hari digelutinya. Mulai dari sambatan si Iwik, anak semata wayangnya yang merengek-rengek minta dibelikan seragam sekolah. Juga hutangnya pada Lek Sakri, yang hampir setengah tahun belum mampu ia lunasi.

Apalagi istrinya yang mengeluhkan biaya hidup yang makin membengkak dari hari kehari. Belum lagi jika mulutnya ingin menikmati sebatang dua batang kretek. Apa yang bisa ia janjikan selain harapan yang seluruhnya ia tumpuhkan pada sebidang tanah yang berada di ujung desa.

Lantas ketika banjir itu datang begitu saja secara tiba-tiba...........

Ada beribu tanya yang tak pernah mampu ia jawab. Ada setumpuk beban memenuhi rongga dadanya yang menyebabkan ia merasa sesak. Barangkali benar, bahwa keresahan adalah ketika harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Bahwa penderitaan adalah, ketika yang bersemayam dalam angan-angan adalah setetes madu, namun yang dihadapi adalah sebotol racun yang siap menelan nyawa kehidupannya, kapan saja dan dimana saja? Apa yang bisa dilakukan oleh orang susah seperti dia?
***

Bagi orang kecil sepertinya, Kang Thawil tak pernah berharap bisa menjadi orang kaya, seperti tetangganya yang setiap hari bisa ganti mobil sesuka hati, yang tiap tahun bahkan bisa pergi haji ke tanah suci. Tak pernah sedikitpun terbersit dihatinya keinginan memiliki rumah dan mobil mewah, apalagi tanah berhektar-hektar. Yang didambakannya sederhana, yaitu bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa pernah dikejar-kejar hutang. Ia ingin bisa memberikan makan bagi anak dan istrinya tanpa mengalami kesulitan.

Namun ketika kesulitan demi kesulitan selalu saja mengepungnya, Kang Thawil mendapatkan dirinya berubah menjadi seekor cacing kepanasan ditengah terik matahari. Ia mengeliat-geliat kepayahan, jempalitan tak karuan bagai seekor kambing yang baru saja disembelih. Dan itu barangkali yang membuatnya terengah-engah, dari waktu ke waktu.

"Kita mesti sabar Kang. Apapun semua ini telah menjadi kehendak Gusti Kang Murbeng Dumadi. Kita mesti nrimo. Ndak mungkin kita protes dengan kegagalan panen ini. Beliau pasti memiliki alasan sendiri yang tak bisa kita duga. Pasti ada sesuatu yang bisa kita petik dari keadaan ini," tutur istrinya berusaha menghibur.

Kang Thawil hanya diam. Barangkali memang beginilah hidup, demikian ia membatin. Tapi kenapa kehidupan itu tak pernah memberikan ruang kepadanya? Kenapa kehidupan selalu tak mengizinkan dirinya dapat bergerak leluasa, setidaknya untuk hanya sekedar menggerakkan tangan dan kepala?
****

"Saudara-saudara, kita semua memang sedang susah. Banjir menyebabkan kita tak bisa panen tahun ini. Namun satu hal yang ingin saya katakan, anggaplah kesusahan ini ujian dari Tuhan. Bahwa kita ternyata masih dikepung oleh kasih sayang-Nya. Bukankah salah satu pertanda bahwa kita masih diperhatikan oleh-Nya adalah dengan keharusan menjalani laku ujian yang akan menentukan kadar kesetiaan kita masing-masing? Bukankah sangat indah kalau kita semua masih berada dalam naungan perhatian-Nya?" kata khatib dari atas mimbar pada sebuah jumat. Kang Thawil mendengarnya sambil terkantuk-kantuk.

Beberapa waktu yang lalu, seorang kiai muda pernah juga berceramah:
"Cobaan hanya berlaku bagi orang-orang yang sanggup meletakkan diri di wilayah-wilayah keridlaan-Nya. Fungsinya untuk menguji seberapa jauh dan dalam kesetiaan seseorang kepada-Nya. Kalau kemudian ia sukses, patut diacungi jempol bahwa kesetiaannya betul-betul teruji. Dan ia pun meraih predikat yang setingkat lebih tinggi dibanding kedudukan sebelumnya.”

"Dan peringatan adalah sebentuk mekanisme, ketika seorang hamba yang menyatakan diri bersetia kepada-Nya itu tiba-tiba saja terjatuh di jurang yang digali oleh iblis, yang merupakan kebalikan sisi mata uang dari pancaran cahaya. Maka Tuhan dengan bersegera akan menurunkan tangga peringatan kepadanya agar bisa naik kembali ke permukaan, dan ia pun dapat kembali merengkuh cahaya dalam menelusuri jalan panjang kehidupan."

"Kemudian azab merupakan bentuk siksaan. Ia hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah jauh menyebrang dari garis yang ditentukan oleh-Nya. Dan ingatlah, bahwa azab Tuhan itu sangat-sangat pedih."

Kang Thawil masih ingat, ceramah itu disampaikan oleh seorang kiai muda yang sengaja didatangkan ke desanya untuk mengisi acara rutinan di masjid. Dan ia juga ingat betul, betapa ceramah itu disampaikan selang sehari sebelum bencana banjir itu terjadi.

Lantas sekelumit pertanyaan tiba-tiba saja menyelimuti batinnya. Bencana yang beruntun menyelimuti desa ini, mulai angin topan yang memporak-porandakan rumah penduduk, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, bencana banjir, penyakit yang demikian beraneka ragam, dan entah apa lagi bencana yang akan datang kemudian. Betulkah itu semua merupakan ujian dari Tuhan?

Kang Thawil tiba-tiba memendam semacam kekawatiran. Jangan-jangan semua yang telah berlangsung itu adalah sebentuk peringatan, bahwa kelakuan manusia benar-benar telah melampaui batas. Namun siapa yang bisa menjamin, bahwa semua itu bukan sebentuk azab yang telah diturunkan-Nya?
*****

Kekhawatiran yang demikian memang bukan hal yang tidak berdasar. Kang Thawil sebagai penduduk yang telah mendiami sekian puluh tahun tanah perdesaan itu tentu tahu dengan perilaku kehidupan warga setempat.

Tentang bagaimana sikap orang-orang dalam menjalani kehidupan. Juga perilaku petinggi desa yang sudah tidak lagi mencerminkan pemimpin, bahkan dengan terang-terangan menyatakan sebagai penguasa. Sehingga untuk meraih kekuasaan itu diperlukan berbagai cara, biarpun harus mengorbankan berlembar-lembar rupiah.

Lantas ketika peraturan langit hanya dapat bersuara di kolong-kolong masjid. Ketika kedudukan Tuhan selalu ditempatkan dalam nomor ke sekian dalam setiap urusan. Apakah hal semacam itu belum cukup dijadikan alasan bahwa Tuhan sudah benar-benar telah murka?

Dan kekawatirannya semakin bertambah-tambah, ketika orang-orang bahkan tidak pernah merasa bersalah. Kang Thawil lantas berfikir: Untuk menyadari bahayanya api, haruskah seseorang dibakar sehingga percaya bahwa api memang betul-betul panas dan berbahaya?
****

Apa yang bisa dilakukan oleh Kang Thawil kemudian selain hanya duduk di beranda rumahnya yang reot, sambil menatapi kayu-kayu rumahnya yang telah lapuk dimakan waktu. Sesekali kreteknya itu dipermainkan dengan jemari tangannya yang kering. Genting-genting, meja, kursi, dan semua yang berserakan di halaman rumah itu seolah-olah berbicara kepadanya, buat apa menjadi manusia kalau tak mampu berbuat sebagaimana layaknya manusia.

Ada kalanya ia bermimpi bisa menjadi Nabi, atau Kiai, atau yang remeh-temeh barangkali utusan Tuhan yang ditugasi mengatasi zaman. Tapi apalah artinya manusia macam dia. Manusia yang selalu dicampakkan oleh nasib, yang terpinggirkan oleh kesejahteraan hidup, yang setiap saat terpesona dengan megahnya kata kemakmuran. Sementara sekedar mempertahankan hidup anak istrinya saja ia bahkan selalu dilanda kebingungan.

Kang Thawil akhirnya hanya mampu menerawang, membiarkan dirinya menatap sebuah dunia baru yang sama sekali berbeda, jauh di seberang sana, di ketinggian awan, di pucuk-pucuk langit, sampai kemudian ia disentakkan oleh sebuah suara perempuan, suara istrinya:

"Pak, seragam Iwik sobeknya makin melebar. Pagi tadi ia sudah tidak mau lagi pergi sekolah. Sepertinya ia sudah tak tahan dengan ejekan teman-temannya."

Kang Thawil tersentak. Seketika tersadar bahwa kakinya masih berpijak di bumi. Ia mendesah ketika menyadari bahwa ia memang tak pernah bisa berbuat apa-apa.(*)

Tuesday, February 12, 2019

Dicari: Pemimpin yang Manusia

Gambar Baliho Caleg Unik (sumber foto: htpp://me.me)
KOMUNITASNGOPI.com - Menjadi manusia, apalagi di zaman ini, ternyata bukan perkara mudah. Berbagai peristiwa terjadi, yang melibatkan manusia semakin menunjukkan bahwa tidak mudah menjadi manusia. Itulah barangkali, kenapa ketika Gus Mus diminta memberikan ular-ular pada pernikahan Sabrang Noe (Vokalis Letto) di Yogjakarta beberapa tahun silam, nasehat yang diberikannya singkat saja; tetaplah menjadi manusia.

Memang, untuk menjadi manusia, tak cukup hanya mengandalkan perangkat keras berupa badan wadag dengan menafikan segala unsur kemanusiaan lain yang telah dianugrahkan Sang Pencipta. Ada banyak hal yang harus dilakukan agar manusia tetap sebagai manusia. Salah-satunya dengan memelihara sejumlah kesadaran, bahwa manusia adalah khalifah, adalah wakil Tuhan yang bertugas mengurusi segala sesuatu demi kebaikan alam semesta.

Namun sayangnya, kekhawatiran Malaikat tatkala dikabari ihwal penciptaan manusia benar adanya. Bahwa kecenderungan manusia hanya dua; membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah (QS. 2:30). Tengoklah misalnya tragika sosial yang lumrah terjadi hari-hari ini. Kekerasan merebak di mana-mana. Hanya karena persoalan sepele, orang dengan begitu gampangnya menghilangkan nyawa orang lain. Atas nama demokrasi, penjarahan dan perampokan tak kunjung usai. Bahkan dalam kasus yang lebih miris, pemimpin yang seharusnya menjadi sosok yang harus diteladani kerap berlaku tidak sebagai manusia. Lantas, bagaimana sebetulnya menjadi seorang manusia?

Belajar dari Satria Jawa
Jika berkaca dari kehidupan satria jawa, dikenal adanya empat tahapan yang harus dilalui manusia agar berhasil sebagai manusia, yaitu tapa (bertapa), dadi (menjadi), ngerti sangkan paraning urip (memahami asal tujuan hidup), dan bali tapa atau kembali bertapa (Mustofa W. Hasyim, 2000).

Tahapan pertama adalah tapa. Bertapa adalah proses menjadi cantrik (siswa peguron). Pada tahap ini, manusia harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal hidupnya. Mencari ilmu tidak hanya cukup mengandalkan sekolah formal, lebih dari itu, manusia juga harus mengerti ilmune wong urip (ilmunya orang hidup). Rasul sendiri bahkan sebelum didaulat menjadi Nabi dan Rasul, terlebih dulu bertapa di gua hira.

Artinya, sebelum menjadi seorang pemimpin, Rasul terlebih dulu menata jiwa dan mentalnya dengan bertapa. Bertapa adalah proses mencari hakekat hidup. Tentu saja dalam menjalani masa-masa ini, manusia harus siap tirakat, bersedia lara lapa, mau merasakan sakit dan sengsara demi memperoleh kesempurnaannya kelak.

Tahap yang kedua adalah dadi. Pada tahap ini, manusia telah mentas dari gua hira untuk bergabung kembali ke tengah masyarakat demi mengaplikasikan yang diperolehnya selama bertapa. Pada titik ini, manusia mungkin menjadi ustadz, kiai, politisi, seniman, dokter, lurah, camat, tukang becak, bupati, atau apapun saja embel-embel sosial yang telah melekat dalam kebudayaan masyarakat.

Proses ‘menjadi’ pada dasarnya alat dari tujuan hidup yang sejati. Ibarat sebilah pisau, bukan menjadi pisau yang penting. Yang terutama adalah bagaimana manusia memiliki kecerdasan batin agar sebilah pisau tidak mencelakakan dirinya sendiri, apalagi menciderai manusia lain pada umumnya.

Terdapat dua kemungkinan ketika melewati tahapan ini. Pertama, manusia mungkin sampai pada tahapan yang ketiga, ialah mengerti sangkan paraning urip (mengerti asal muasal hidup, hidup adalah dari Allah menuju Allah). Ketika manusia ‘mengerti’, yang dilakukan senantiasa mendatangkan kebaikan bagi orang banyak.

Kalau menjadi pejabat umpamanya, ia tahu bahwa jabatan adalah alat (washilah), suatu musibah yang jikalau tidak memiliki keteguhan hati, maka dipastikan manusia akan terperosok ke dalam jurang cobaan yang dapat menggelincirkan kemanusiaannya kapan saja. Ketika memanggul jabatan, tidak serta-merta manusia jenis ini akan mengucapkan alhamdulillah, justru ia berkata naudzubillah.

Namun faktanya, hal tersebut bukan hanya tidak terjadi di zaman ini, tapi proses mendapatkan jabatan itu sendiri merupakan hal yang amat mencengangkan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mencalonkan dirinya sendiri dengan biaya yang membelalakkan. Kemudian begitu percaya diri mengatakan paling baik sehingga layak untuk dipilih. Bukankah hal tersebut sangat bertolak-belakang dengan logika dan akal sehat?

Terlepas dari itu semua, seorang pejabat yang pemimpin seyogyanya manusia pertapa yang mengerti sangkan paraning urip. Sebab, kondisi tersebut akan membawa manusia pada keadilan, kemakmuran, serta kesejahteraan. Ketika pejabat berasal dari manusia jenis ini sampai pada tahapan yang keempat, yaitu bali tapa, ia akan mencapai derajat sebagai seorang resi atau pandhita.

Namun sayangnya, ketika melewati tahapan dadi ini, banyak manusia terperangkap pada kemungkinan kedua, ialah cenderung untuk lali (lupa pada sangkan paraning urip). Berbeda dengan yang pertama, produk yang dihasilkan adalah keadaan sebaliknya.

Orang tua yang lali, produknya adalah anak-anak yang jauh dari nilai agama dan kemanusiaan. Pendakwah yang lali, boleh jadi menggunakan agama hanya sebagai kedok. Apalagi pemimpin yang lali, yang dilakukan tidak berusaha sedemikian rupa mengupayakan kesejahteraan rakyat, justru ia berjuang mati-matian untuk mengumpulkan materi, meningkatkan sedemikian rupa kemewahan pribadi, sehingga penderitaan rakyat banyaklah yang akan tercipta.

Hari-hari ini, kontes lima tahunan akan segera dilaksanakan. Meski gendang kampanye belum resmi ditabuh, namun aroma pilpres pileg jauh-jauh telah menyita dan membelah manusia menjadi kubu-kubu. Tak hanya kampret dan cebong, ada juga percil dan wedus. Jangan kaget jika kemudian bermunculan orang-orang baik, gambar-gambar baik, dan tentu saja kata-kata yang dirangkai sebaik-baiknya. Kiita tentu saja jangan mudah terjebak.

Semoga para pemimpin negeri ini dalam kurun waktu mendatang adalah manusia-manusia ‘menjadi’ yang tak mudah terserang virus lali. Sebab jika hal itu terjadi, virus itu bukan hanya mematikan, tapi menyebabkan manusia tidak berbuat sebagaimana manusia.

Kita sangat berharap, bahwa pemimpin negeri ini hanya berasal dari golongan makhluk yang bernama manusia. Bukan yang lain.(*)

*)Em. Syuhada', penulis lepas.

Friday, February 8, 2019

Berprasangka Baik Kepada Tuhan

Banjir di sebuah Sekolah Di Jabar
Banjir di Sebuah Daerah di Jawa Barat (sumber gambar: Liputan6.com)
KOMUNITASNGOPI.com - ALKISAH, dahulu kala hiduplah dua orang raja yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda, seorang Raja mukmin dan Raja kafir. Raja mukmin tentu saja sangat dicintai rakyatnya, karena perilakunya yang adil dan selalu menomorsatukan kepentingan rakyat. Sebaliknya, Raja kafir begitu dibenci karena perilakunya yang sewenang-wenang.

Suatu hari, Raja kafir menderita suatu penyakit. Setelah diperiksa oleh tabib istana, satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan penyakit sang raja adalah seekor ikan yang hidup di tengah samudra. Sayangnya, ikan yang dimaksud waktu itu tidak sedang musimnya, sehingga para tabib tak bisa berbuat apa-apa. Disamping sulit, untuk mendapatkan ikan tersebut adalah suatu hal yang mustahil.

Namun Tuhan ternyata berkehendak lain. Tuhan lantas mengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan-ikan yang dibutuhkan supaya keluar dari lubang di dasar laut, sehingga orang-orang dengan begitu mudah dapat menangkapnya. Para tabib, dan seluruh masyarakat awam tentu saja heran. Mereka menganggap kejadian itu suatu mukjizat luar biasa. Walhasil, ketika ikan itu berhasil ditangkap, Raja segera memakannya. Ia pun sembuh dari sakitnya.

Beberapa waktu kemudian, Raja mukmin juga menderita penyakit yang sama seperti yang dialami Raja kafir. Sebagaimana ihwal Raja kafir, penyakit Raja mukmin pun bisa disembuhkan dengan seekor ikan. Kebetulan, ikan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit sang Raja sedang berada pada musimnya, sehingga membuat para tabib optimis bahwa raja akan segera sembuh karena akan dengan mudah dapat menangkap ikan yang dimaksud.

Namun sekali lagi, Tuhan juga berkehendak lain. Tuhan justru mengutus kepada para Malaikat untuk menggiring ikan-ikan yang sedang berenang di permukaan laut agar masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Para tabib tentu saja heran. Singkat cerita, ikan-ikan yang mestinya mudah didapatkan untuk obat itu tak bisa diperoleh. Raja pun terus didera penyakit tak sembuh-sembuh.

Para Malaikat dan penduduk bumi tentu saja merasa keheranan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa ketika Raja kafir membutuhkan ikan itu, dengan begitu mudahnya ikan didapat, padahal keberadaan ikan saat itu tidak dalam musimnya. Sebaliknya, ketika Raja mukmin yang sakit, ikan yang dibutuhkan justru menghilang entah kemana, sedangkan waktu itu adalah musimnya ikan itu muncul ke permukaan.

Dalam kebingungan itu, Tuhan lantas mewahyukan kepada Malaikat langit dan kepada para nabi zaman itu,”Inilah Aku, Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Maha Kuasa. Tidak menyusahkan apa yang Aku berikan. Tidak bermanfaat bagiKu apa yang Kutahan. Sedikitpun Aku tak menzalimi siapapun. Adapun Raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mendapatkan ikan yang bukan musimnya. Dengan begitu, Aku telah membalas kebaikan yang pernah ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang, supaya kelak ketika ia datang kepadaKu pada hari kiamat, tidak ada lagi kebaikan-kebaikan pada lembaran amalnya. Ia akan aku masukkan ke neraka karena kekufurannya.”

“Adapun raja yang ahli ibadat itu, Aku tahan ikan pada saat musimnya, karena ia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahan itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya supaya kelak ketika ia datang padaKu di hari kiamat dalam keadaan suci tanpa dosa. Dan dia pun akan aku masukkan surga dengan rahmatKu.”

****

Sepenggal kisah diatas mungkin sebuah kisah yang ringan. Namun sungguh, mampu menyuguhkan pelajaran amat berharga untuk menjawab segala kebingungan kita tatkala menjumpai hal-hal yang musykil terkait keputusan Tuhan.

Tak dimungkiri, ada banyak kejadian-kejadian dalam kehidupan ini yang membuat manusia mengernyitkan kening. Ada seorang manusia yang begitu tulus hatinya. Ia arungi kehidupan dengan kesadaran bahwa tugas seorang hamba hanya mengabdi kepada tuannya. Sekuat-kuatnya perintah Tuhan dijalankan. Sedangkan larangan dan batasan-batasan selalu diusahakan agar tak diterjang. Namun kenyataannya, hidup orang tersebut ternyata selalu diwarnai kesengsaraan demi kesengsaraan tiada henti.

Pada saat yang sama, ada manusia lain yang berbuat semau-maunya. Jangankan memperhatikan perintah dan larangan, bahkan dengan Tuhan pun sangat berani. Baginya, hidup di dunia adalah segalanya. Menjadi raja adalah segalanya. Sehingga, tak ada kemungkinan lain bagi orang tersebut selain mengarungi kehidupan ini dengan logikanya sendiri. Namun faktanya, secara materi orang tersebut sangat berkecukupan. Setiap keinginannya selalu dipenuhi oleh Tuhan. Para kiai menyebut fenomena ini sebagai istidraj.

Waba’du. Tuhan memang berhak melakukan apa saja. Semusykil apapun keadaan yang menimpa, selalu berprasangka baik pada-Nya, itulah yang terutama. Maka, dalam perjalanan hidup, sedahsyat apapun penderitaan, sesunyi apapun perjalanan, jika jalan yang dipilih adalah jalanNya, itu merupakan rahmat Tuhan tak habis-habis. Dan tak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukurinya.

Terserah Tuhan mau meletakkan kita di mana. Kalau sampai akhir hayat nanti perjalanan hidup ini tetaplah sunyi - dan itu mungkin tak sesuai dengan keinginan kita -, anggaplah kita adalah Raja yang mukmin sebagaimana terukir dalam sepenggal kisah diatas.(*)

Friday, February 1, 2019

Balada Seribu Guru


Pakde Mus merasa minum kopi pada sore ini tidak hikmat lagi. Secangkir kopi dengan selintingan kretek biasanya ia nikmati dengan khusyuk sambil memandangi cakrawala di langit petang. Tapi sore ini suasana hatinya lain. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sesuatu yang sulit jika harus diungkapkan dengan kata-kata. Sesuatu yang muncul sejak masalah telpon itu mengemuka.

Pikiran Pakde menerawang. Dari layar televisi ia saksikan bencana demi bencana datang silih berganti. Belum usai duka di Lombok akibat gempa yang meluluh-lantakkan kehidupan warga, air mata harus kembali tumpah di Palu dan Donggala. Belum kering air mata di Banten tersebab tsunami yang tiba-tiba saja menghempas, warga Makassar dan sekitarnya menjerit karena hantaman banjir bandang. Belum lagi di tempat-tempat lain, puting beliung, tanah longsor, gunung meletus, saling kejar mengejar.

Pakde kembali menerawang. Sambil tangannya menghisap kretek yang tinggal separuh, ia menghela nafas dalam-dalam. Kepulan asap berkeliaran di udara, hingga asap putih itu berangsur-angsung lenyap terbawa angin. Sudah pasti bencana alam yang bertubi-tubi itu memporak-porandakan infrastruktur dan fasilitas lainnya. Rumah ambruk, harta benda sirna, nyawa melayang. Tak terkecuali gedung sekolah tempat tunas bangsa menimba ilmu. Sebagian retak, ambruk, bahkan tak sedikit yang rata dengan tanah. Jalan pendidikan di daerah yang terkena bencana sempat lumpuh. Upaya pemulihan pasca bencana tentu memerlukan ongkos yang tak sedikit. Tidak hanya dana tapi juga sumber daya manusia.

Akan tetapi pada saat yang nyaris bersamaan, kabar tentang telepon itu justru datang. Telepon dari seseorang nun jauh di sana. Mau tidak mau, Pakde terganggu pikirannya. Ngopinya menjadi tidak khusyuk.

***

Telepon itu bermula ketika pertengahan bulan silam, seorang pejabat sebuah instansi membuat pemberitahuan melalui akun media sosialnya. Pemberitahuan yang begitu menggoda. Yaitu akan mengirimkan para pendidik generasi bangsa itu untuk belajar ke negeri yang jauh. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, seribu orang.

Tentu kabar itu disambut baik oleh semua. Tak sedikit yang berharap diam-diam atau terang-terangan akan bisa terpilih dan mengikuti kegiatan itu. Bisa belajar di tempat yang jauh, bisa menyaksikan sebuah dunia dengan belahan langit yang berbeda, apalagi tanpa berpayah-payah urusan dana karena telah disokong oleh negara.

Tapi tidak dengan Pakde Mus. Lelaki berumur itu justru berpikiran lain.  Maka ketika di akhir bulan urusan telepon itu  menjadi trending topic, ngopi Pakde menjadi tak hikmat lagi. Telepon yang kabarnya untuk menanyakan kesiapan para peserta terpilih, juga untuk menyeleksi cas cis cus peserta dalam kemampuan berbahasa,

Pakde bukannya iri, dengki, atau apalah namanya. Tapi sebagai seorang pendidik yang telah banyak makan garam, wajar jika ia memiliki cara pandang berbeda. Seandainya toh dipilih, ia tentu akan berpikir seribu kali sebelum kemudian menentukan sikap.

Pakde bukan ahli ekonomi, sebagaimana ekonom yang kerap ia saksikan di layar televisi yang begitu lihai nemainkan angka-angka. Tapi ia tahu, bahwa program belajar ke negeri yang jauh itu akan menyedot dana yang besar jumlahnya. Dana itu pasti akan menguras banyak keuangan negara.

Padahal jika diperhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, jarang ada negara lain yang mengirimkan pendidiknya ke negeri yang jauh dalam jumlah yang bisa dibilang fantastis. Kalau pun ada, jumlahnya tidak sebanyak seperti yang akan terjadi di sini.

Pakde bertanya-tanya, mengapa setiap yang berkaitan dengan negeri yang jauh di luar sana selalu menjadi daya pikat. Ini mungkin salah satu kelemahan mentalitas, pikirnya kemudian. Mental semacam inilah yang seharusnya direvolusi. Revolusi mental yang digembar-gemborkan berpotensi menjadi macan kertas, karena kenyataan di lapangan belum bisa menyentuh pada level perubahan sikap mental seseorang.

Jika saja ongkos ke negeri yang jauh itu dialihkan ke wilayah bencana, tentu akan mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah-wilayah terdampak. Disamping menunjukkan sense of crisis, langkah ini juga akan menguatkan Wawasan Nusantara di kalangan para pendidik.

***

"Percayalah pada kekuatan bangsa sendiri. Negeri ini kaya sinar matahari, tapi kenapa justru lebih memilih mengejar bayang-bayangnya. Yakinlah pada kekuatan cinta. Cinta pada ibu pertiwi," Keyakinan itu begitu kuat menancap di dada Pakde.

Di negeri ini, tidak kurang orang pintar yang patut dijadikan sumber belajar, tapi mengapa kita bersikap inferior dengan justru belajar kepada bangsa asing?

Kita adalah garuda yang perkasa. Hanya saja, keperkasaan itu tak pernah tampak karena kita tak sadar atau bahkan tak tahu kita adalah garuda. Jika harimau tidak tahu bahwa ia harimau, mungkinkah ia akan mengaum? Boleh jadi ia hanya akan mengeong karena menganggap dirinya kucing.

Ada banyak mutiara di negeri ini. Tengoklah misalnya di bidang kesehatan, Jepang justru belajar dari anak negeri yang menemukan mesin pembunuh kanker. Produknya dinilai pakar kesehatan Jepang lebih efektif memerangi sel kanker dibanding produk yang lain. Sehingga Jepang rutin memesan produk karyanya.

Di tempat lain, Norwegia memproduksi secara massal kompor gas ciptaan anak negeri. Kompor yang digagas dosen salah satu universitas ternama ini hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Cara kerjanya berbasis biomassa. Emisi gas buangnya jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan WHO. Di tempat lainnya lagi, perusahaan minyak terkenal dunia melirik rumus terapan tentang efisiensi penggunaan minyak juga temuan anak negeri.

Bukankah mereka, anak-anak negeri itu patut dijadikan rujukan belajar bagi lainnya? Mungkin bisa dimaklumi jika belajar di negeri yang jauh itu betul-betul mendesak. Tapi bukankah lebih bermartabat jika lebih memahami jati diri. Jangan sampai mereka, mutiara-mutiara itu meredup di negeri sendiri, tapi tumbuh bersinar dan berkembang di negeri orang.

Lagi-lagi Pakde hanya mampu menerawang. Negeri ini memang aneh. Semua yang berbau asing dianggap lebih hebat dan dapat mendongkrak prestise, sehingga orang-orang begitu bangga ketika bersentuhan dengan produk dari negeri jauh. Ini cara pandang yang menurut Pakde bukan hanya kurang tepat, tapi sangat inferior dan tidak percaya diri. Pakde bukan anti asing, tapi yang berasal dari luar harusnya dikontrol dan diarahkan sehingga tetap pada jati diri kebangsaan.

Pakde menguap. Kantuk tiba-tiba menyergapnya ketika kopinya tinggal ampas. Ia kembali hanya bisa mendesah. Sebab, ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah kawulo alit yang tak memiliki kewenangan apa-apa.(*)

*)Tulisan ini diilhami dari status facebook seorang guru SMA nun jauh di sana.

Wednesday, January 30, 2019

Ijtihad Teknologi Mark Elliot Zuckerberg

Pendiri Facebook
Mark Elliot Zukerberg, Pendiri Media Sosial Facebook

KOMUNITASNGOPI.comPedang bermata dua itu bernama Facebook. Itu adalah tulisan yang tayang di Komunitas Kopi beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya ingin mengajak Anda menengok kepada Mark Zukerberg.

Sebagai pengguna facebook, Anda tentu tahu Mark Elliot Zuckerberg bukan? Ia anak muda jebolan Universitas Harvard, Cambridge. Dialah pencipta Facebook. Zuckerberg adalah mahasiswa jurusan psikologi, namun memiliki kegemaran mengutak-atik peralatan elektronik atau program komputer.

Sebelum Facebook tercipta, awalnya Zuckerberg membuat program coursematch, sebuah program yang memungkinkan mahasiswa di kelas yang sama bisa melihat daftar teman sekelas. Ia kemudian menciptakan facemash.com. Lewat situs ini, para pengunjung bisa memberi stempel “keren” atau “jelek” foto seorang siswa. Namun naas, gara-gara itu Zuckerberg harus berurusan dengan Badan Administrasi Universitas Harvard. Ia dianggap membobol sistem keamanan komputer kampus, melanggar peraturan privasi di internet, dan melanggar hak cipta.

Kejadian itu tak membuat Zuckerberg gentar. Ia lantas membuat Facebook yang diluncurkan kali pertama pada 4 Februari 2004. Pada awalnya, “Facebook” bernama “The Facebook”, nama yang diambil dari nama lembaran dokumen yang dibagikan kepada pelajar baru di Harvard yang menampilkan profil murid dan karyawan.

Pada peluncuran awal, Facebook masih terbatas untuk mahasiswa Harvard dan sekitarnya. Baru pada 11 September 2006, semua orang dengan alamat email apapun bisa tergabung di Facebook. Anda tahu, dari Facebook itulah, Zuckerberg akhirnya menjadi triliuner muda yang mampu menghimpun harta kekayaan hingga US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27,9 triliun. Luar biasa bukan?

Saya suguhkan ihwal penciptaan Facebook diatas bukan dalam rangka mengajak Anda mengikuti jejak anak muda kewarganegaraan Amerika Serikat itu. Itu terlalu sulit. Yang paling gampang barangkali membayangkan, bahwa dengan uang triliunan rupiah, Anda bisa menikmati apapun saja yang Anda inginkan. Tapi tahukah Anda? Meskipun Zuckerberg seorang triliuner, ia tetap tampil apa adanya seperti pemuda kebanyakan pada umumnya.

Yang ingin saya katakan, Zuckerberg telah menciptakan sebuah kreatifitas mengagumkan di dunia teknologi informasi. Ia telah melakukan “ijtihad teknologi” di tingkat usianya yang masih belia saat itu. Apa yang diciptakan Zuckerberg telah mewarnai laju teknologi komunikasi yang kian melesat pergerakannya, termasuk juga penggunanya.

Dikutip dari laman kompas, pengguna laman media sosial pada tahun 2018 mengalami peningkatan. Hal ini berdasar laporan digital tahunan We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna total mencapai 3 miliar meningkat sebesar 13 %. Dari angka itu, Facebook lah yang mendominasi dengan jumlah pengguna lebih dari 2,17 miliar. Indonesia sendiri menyumbang jumlah terbesar urutan ke-empat pengguna faceebook secara global. Luar biasa bukan?

Terlepas dari fungsi dan tujuan penggunaannya. Facebook memang fenomenal. Ia menyediakan lahan sebebas-bebasnya bagi manusia untuk melakukan apa saja. Dan internet sendiri sebagai produk teknologi informasi mutakhir telah mampu menyedot hasrat dan minat manusia dari berbagai latar belakang sosial untuk terlibat didalamnya. Dengan internet, manusia bisa mendapat segala sesuatu yang sebelumnya pernah dianggap tidak mungkin dalam dunia informasi.

Hidup manusia kian dipermudah. Orang dengan begitu gampangnya mengakses informasi dengan hanya menggerakkan ujung jari. Yang paling mengkhawatirkan dari semua itu adalah jika efek positif kemajuan teknologi tak teraih. Justru tatkala sinar keemasan itu menerpa kehidupan umat manusia. Mata mereka silau. Langkah kaki terpeleset, sebelum akhirnya terjungkal tak berdaya menenggak sisi-sisi gelapnya.

Betapa banyak kisah hitam mencengangkan yang dilakukan orang-orang setelah ber-Facebook ria, termasuk anak-anak generasi milenial. Boleh jadi mereka adalah korban tusukan pedang teknologi informasi. Boleh jadi yang dilakukan mereka salah. Tapi, dibelakang mereka berderet orang-orang yang semestinya paling harus bertanggung jawab.

Siapa saja mereka? Anda tentu lebih bisa menjawabnya(*)

Saturday, January 26, 2019

Pedang Bermata Dua itu Bernama Facebook

DULU sekali sebelum era Whatsapp mulai mengudara, Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur pernah mengeluarkan fatwa haram terkait penggunaan Facebook. Fatwa haram tersebut juga berlaku bagi segala jenis media komunikasi lainnya, seperti "audio call", "video call", SMS, 3G, dan lainnya. Meski fatwa tersebut hanya ditujukan pada penggunaan Facebook berlebihan (yang menjurus pada perbuatan mesum dan tidak bermanfaat), namun tak sedikit publik yang menyayangkan. Mereka menilai, munculnya Facebook adalah realitas teknologi yang niscaya. Kemungkinan negatif pemakaiannya memang tak bisa dinafikan. Namun disisi lain, sisi positif yang ditimbulkan juga tak kalah besarnya.

Banyak kejadian-kejadian tak terduga muncul akibat Facebook. Misalnya, kejadian beberapa tahun silam Di Sulawesi Tengah, seorang kakak beradik terpisah hidupnya selama 35 tahun. Nurlian Dehi (42) warga Jalan Maleo, Palu Selatan, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah berpisah dengan Anton Dehi, sang kakak, setelah sebelumnya pamit merantau ke Manado tahun 1974. Awalnya, komunikasi antara keduanya tak ada masalah. Namun dua tahun sejak kepergian Anton, komunikasi terputus total hingga puluhan tahun.

Pertemuan kakak beradik itu bermula ketika Risna, anak Anton mencoba mencari keberadaan keluarga ayahnya melalui situs jejaring sosial Facebook. Risna mencari nama-nama orang yang memiliki nama marga Dehi sebagaimana marga sang ayah. Tak disangka, pencarian berhasil. Risna menemukan orang yang dimaksud. Beberapa waktu kemudian, komunikasi terjalin kian intensif. Kedua saudara itu akhirnya dipertemukan kembali berkat adanya Facebook.

Di tempat berbeda, di sebuah belahan dunia nun jauh di sana, sebuah kisah unik terjadi. Dua orang wanita yang berteman di Facebook begitu shock ketika mengetahui memiliki suami yang sama. Kejadian bermula ketika salah-satu wanita menambahkan teman wanita suami kedalam daftar kontaknya. Ia sama sekali tak menyadari, bahwa wanita itu istri suaminya. Ketika pertemanan berlanjut, dan kedua wanita saling bertukar foto pengantin. Fakta terkuak. Keduanya terkejut ketika menyadari bahwa pria yang berada di pelaminan adalah orang yang sama.

Begitulah, Facebook menawarkan begitu banyak kemungkinan. Berbagai manfaat bisa saja diperoleh jika medsos itu dipergunakan dengan bijak. Namun di sisi lain, petaka akan segera menghampiri jika menggunakannya dengan membabi buta. Betapa banyak kasus-kasus asusila, pemerasan, pemerkosaan, pencemaran nama baik, dan lain-lain yang berujung penjara berawal dari facebook, jauh sebelum kasus 80 juta menimpa sang artis kita.(*)

Friday, January 25, 2019

Pak Zaki Pergi Ke Australi

Pak Zaki Pergi Ke Australi

Waktu pembelajaran tinggal beberapa menit. Ruang kelas yang tadinya riuh kini tampak hening. Para siswa serius memperhatikan Pak Zaki yang sibuk dengan laptopnya di meja guru.


“Baiklah anak-anak, sekarang waktunya penilaian,” kata Guru Agama Islam itu sambil berjalan ke arah siswa, pandangan matanya beredar ke seluruh ruangan, “Seperti biasa, penilaiannya online. Nanti kalian harus menjawab sejumlah soal di layar. Cara menjawabnya melalui gawai masing-masing. Perlu diperhatikan, satu soal waktunya hanya dua menit. Jadi, kalian harus betul-betul konsentrasi untuk mendapatkan hasil terbaik. Semuanya paham?”

“Paham, Pak,” seluruh siswa mnganggukkan kepala. Tanpa diperintah, mereka bergegas mengeluarkan gawai dari sakunya masing-masing. Di depan kelas, layar proyektor menampilkan sebuah alamat situs. Ada sebuah pin dengan empat digit angka tertulis di bawahnya.

Pak Zaki memang guru yang kreatif. Hampir dalam setiap kegiatan pembelajaran, ia selalu memanfaatkan piranti teknologi. Pak Zaki belajar secara otodidak mengemas materi pembelajaran ke dalam media berbasis powerpoint. Bahkan ketika melakukan penilaian, beliau memanfaatkan jaringan wifi sekolah, seperti kegiatan yang akan dilakukan pada kali ini.

“Sekarang ketik alamat seperti yang tertulis di layar, “ perintah Pak Zaki kemudian, “Saat login, username gunakan nama kalian masing-masing. Pin ketikkan seperti yang tertera di layar. Ingat, pastikan gadget kalian sudah tersambung ke wifi.” tegasnya lagi.

Para siswa mengikuti perintah gurunya itu. Beberapa saat kemudian, layar proyektor menampilkan nama-nama siswa, bergantian satu per satu sesuai dengan kecepatan login. Sampai pada nama terakhir, deretan nama yang awalnya bermunculan itu berhenti sama sekali, pertanda seluruh siswa telah berhasil terhubung dengan akun sang guru.

“Sekarang soal demi soal akan saya tampilkan. Sekali lagi ingat, satu soal hanya dua menit. Jadi kalian harus betul-betul konsentrasi. Silahkan kerjakan mulai dari sekarang!” perintahnya kemudian sambil mengklik sebuah tombol.

Berbarengan dengan itu, soal pertama muncul di layar proyektor. Soal pilihan ganda yang agak panjang itu memaksa para siswa harus betul-betul jeli dalam membaca. Beberapa waktu kemudian, beberapa siswa mulai mengotak-atik gawai, mengetik jawaban yang telah ditemukan. Sementara, tak sedikit yang masih berpikir dengan tatapan mata fokus pada layar.

Begitulah, soal demi soal akhirnya terselesaikan. Ketika waktu mengerjakan telah habis, muncul sebuah tombol dengan tulisan besar, Klik Hasil Penilaian. Sepuluh nama yang memperoleh nilai terbaik tampil di layar ketika tombol itu diklik. Para siswa riuh. Cinta, siswi yang duduk di bangku tengah berada pada urutan di atas.

***

Pak Zaki bersyukur bisa mengajar di sekolah ini. Meski belum genap setahun, tapi ia bisa memberikan warna bagi keberlangsungan pendidikan di tempat tugas yang baru. Dulu ketika masih mengajar di sekolah yang lama, Pak Zaki amat kesulitan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. Jangankan untuk membeli LCD proyektor, bahkan untuk ruang kelas masih sangat kekurangan. Sekolahnya waktu itu adalah sekolah terpencil berada di tengah hutan. Jalan menuju sekolah adalah jalan setapak yang ketika musim penghujan tiba berubah menjadi lautan lumpur yang tak mungkin dilewati dengan sepeda.

Sedangkan sekolahnya sekarang berada di kecamatan kota. Meski bukan sekolah unggulan, tapi infrastruktur sudah memadai. Peserta didik tak asing lagi dengan benda-benda teknologi semacam android, laptop, dan semacamnya.

Dulu, ketika pertama kali menjejakkan kaki di sekolah ini, sempat terjadi perdebatan tentang penggunaan ponsel pintar di sekolah. Banyak guru melarang siswa membawa ponsel ke sekolah. Alasannya ponsel adalah sumber masalah. Betapa banyak perkara di sekolah muncul diawali dari ponsel.

Seorang guru bercerita dalam rapat tentang sebuah kasus di sekolah tetangga. Ada siswa ditangkap polisi gara-gara menyebarkan video porno melalui ponselnya. Yang bikin ngeri, pelaku video porno itu adalah temannya sendiri siswa satu sekolah. Guru itu berkata, apa jadinya jika hal itu terjadi di sekolah ini. Tidakkah reputasi sekolah pasti akan hancur. Maka ia berharap agar penggunaan ponsel dilarang.

“Tapi ponsel kan tetap ponsel.” sergah Pak Zaki ketika itu.

“Maksudnya?”

“Ponsel hanyalah alat. Setiap alat tetap memiliki kemungkinan baik dan buruk. Pedang tak bisa dipersalahkan karena digunakan untuk menebas leher orang. Begitu juga pisau tak usah dipuji-puji karena digunakan untuk mengiris bawang. Maka, yang terutama bukan terletak pada alatnya, tapi bagaimana kita memperlakukan alat itu untuk kemaslahatan hidup manusia.”

“Tapi ini siswa, bukan manusia dewasa seperti kita.”

“Disinilah fungsinya kita, guru mereka,” tukas Pak Zaki,”Alat memang layak diperalat. Yang harus kita lakukan bukan melarang, tapi menanamkan kesadaran bagaimana memberlakukan alat untuk kebaikan hidup. Lagi pula, adakah jaminan ketika ponsel dilarang di sekolah, anak-anak tidak menggunakannya di tempat lain?”

“Lantas bagaimana menurut Pak Zaki?” pungkas Kepala Sekolah.

“Kalau menurut saya, boleh kita menganggap ponsel itu ancaman. Tapi, mari kita ubah ancaman itu menjadi peluang. Banyak sekali aplikasi berbasis android yang bisa digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Jika itu kita manfaatkan, kita pasti akan mendapatkan nilai lebih. Disamping siswa akan lebih tertarik, pembelajaran yang kita lakukan juga akan lebih bermakna.”

***

Berawal dari situlah, Kepala Sekolah kemudian memutuskan siswa tetap diperkenankan membawa ponsel pintar di sekolah. Hanya saja, tetap ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Siswa tidak diperkenankan membuka aplikasi media sosial ketika pembelajaran berlangsung, penggunaan ponsel tetap diarahkan untuk kegiatan pembelajaran. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seminggu sekali diadakan pemeriksaan untuk melihat isi ponsel dan riwayat browser apa saja yang pernah dibuka oleh siswa. Para siswa tentu saja senang. Tanpa diminta, mereka membuat komitmen untuk mematuhi rambu-rambu, meskipun ada beberapa yang kadang melanggar.

Hingga pada sebuah siang yang teduh, kabar menggembirakan itu muncul, Cinta, siswi yang dikenal pendiam itu meraih juara pertama dalam lomba pembuatan game berbasis android. Cinta akan diundang ke propinsi untuk menerima penghargaan dari gubernur.


Tak berselang lama, Pak Zaki menjuarai ajang My Teacher My Hero yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan IT terkemuka di Jakarta. Dalam ajang itu, para peserta diminta mengirimkan karya inovatif pembelajaran dengan membuat sebuah video pendek. Tak disangka, karya Pak Zaki masuk nominasi dan terjaring dalam delapan besar. Atas prestasinya itu, ia akan dikirim ke Australia untuk bertukar pengalaman dengan para guru di negeri kanguru itu.(*)

*)Em. Syuhada’, lahir di Lamongan, 31 Juli 1975. Tulisannya berupa artikel, cerpen, resensi pernah dimuat di Jawa Pos, Duta Masyarakat, Harian Surya, Radar Bojonegoro, dan lain-lain. Aktifitas sehari-harinya sebagai guru di SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan Jawa Timur.
DomaiNesia