Showing posts with label Kolom. Show all posts
Showing posts with label Kolom. Show all posts

Monday, June 24, 2019

Sistem Zonasi di Jepang Sangat Didukung Oleh Masyarakatnya. Kok Bisa?

Sistem Zonasi Sekolah di Jepang
Sistem Zonasi Sekolah di Jepang
Sistem Zonasi Sekolah yang diterapkan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini sesungguhnya adalah itikad baik pemerintah untuk pendidikan yang berkeadilan. Pemerintah ingin agar tak ada lagi sekolah favorit nonfavorit.

Bahwa semua sekolah harus favorit, apalagi sekolah negeri yang memproduksi layanan publik harus memiliki tiga aspek, non rivalry (tak boleh dikompetisikan berlebihan), non excludable (tidak boleh khusus hanya bagi kelompok tertentu), dan non discrimination (tak boleh ada praktek diskriminasi).

Masalahnya, mengapa itikad baik pemerintah melalui kemendikbud itu justru diprotes, bahkan ditentang oleh orang tua/wali murid?

Pada postingan sebelumnya, artikel yang ditulis oleh Robbi Gandamana mungkin bisa mewakili pihak-pihak yang protes dengan sistem zonasi yang diterapkan sekarang. Kata Bang Robbi, sistem zonasi itu sebenarnya bagus, bahkan kalimatnya agak "nakal" dengan menyebut pemerintah sekarang sebenarnya agak cerdas dengan kebijakan zonasi yang bertujuan menghapus sekolah negeri favorit atau unggulan.  
baca: Gonjang Ganjing Sistem Zonasi Sekolah: Antara Sekolah Oke Punya dan Sekolah Kumuh Jaya
Masalahnya, kebijakan itu terlalu prematur kalau diterapkan saat ini. Yang dirotasi hanya guru dan kepala sekolah, tapi sarana prasana sekolah masih belum merata. Memang, sarana prasarana sekolah negeri di tengah kota dan pinggiran kota masih sangat jauh berbeda.

"Ya'opo se rek, standarisasi belum beres, tapi kebijakan sudah diterapkan. Sebelum kebijakan zonasi diterapkan, favoritkan dulu semua sekolah negeri di Indonesia. Sekolah negeri di tengah kota itu sarana dan prasarananya oke punya. Sedang sekolah negeri pinggiran kota, kondisinya kumuh jaya. Tentu saja orang tua calon murid yang rumahnya dekat sekolah negeri kumuh pecas ndahe. Nggak tega hati melihat buah hatinya hanya diterima di Sekolah Negeri cap Kandang Kambing," begitu kelakarnya.

Sistem Zonasi Ala Jepang

Gonjang ganjing masalah sistem zonasi ini juga menarik perhatian Yesi Elsandra, pemilik blog https://www.yesielsandra.com. Melalui akun facebooknya, Yesi Elsandra yang sehari-harinya tinggal di Kanazawa, Jepang. Karena tinggal di Jepang, ia lantas menceritakan pengalamannya bersentuhan dengan sistem pendidikan di Jepang.

Menurutnya, Jepang adalah salah satu negara terbaik yang menerapkan sistem zonasi. Tidak ada kehebohan berarti yang terjadi pada orang tua menjelang tahun ajaran baru, karena semua anak akan diterima di sekolah negeri yang terdekat rumahnya. Tidak ada anak dan orang tua yang gigit jari karena tidak kebagian kursi sekolah.

Sistem Informasi Kependudukan di Jepang memang sudah berjalan dengan sangat baik. Setiap penduduk, baik penduduk asli maupun pendatang akan terdata seluruh identitasnya, termasuk penghasilannya. Maka ketika anaknya berusia 6 tahun pada 2017 dan telah tiba waktunya sekolah, Yesi dikejutkan dengan kedatangan surat dari pos yang ditujukan kepada anaknya, bukan namanya selaku orang tuanya.

Surat tersebut berisi informasi bahwa tahun ajaran 2017, anaknya harus bersekolah di SD Negeri Morinosato, yang berjarak kurang lebih 300 meter dari apartemen tempat tinggal mereka. Ketika datang ke sekolah yang dimaksud, pihak sekolah juga sudah memgetahui kehadiran Yesi dan anaknya, karena terlebih dahulu sudah mendapatkan pemberitahuan dari pemerintah.

Berbeda dengan di Indonesia, wajib belajar di Jepang adalah 9 tahun, yaitu 6 tahun di SD dan 3 tahun SMP. Mengapa sistem zonasi di Jepang tidak mengalami gejolak dan penolakan dari masyarakatnya, tidak sebagaimana terjadi di Indonesia? Berikut ini adalah beberapa alasan yang dituliskan oleh Yesi Elsandra:

1. Standar kualitas semua sekolah sama.
Di Jepang, bukan hanya proses belajar mengajar yang dibuat sama standarnya, tetapi fasilitas fisik gedungpun dibuat sama. Misalnya, semua sekolah memiliki lapangan olah raga yang sama ukurannya, semua memiliki kolam renang, semua memiliki gedung serba guna, loker sepatu, loker tas, meja, dan kursi belajar sama, papan tulis magnetik sama, toilet yang sama baiknya, dan sebagainya.

Bahkan soal ulanganpun semua dibuat sama dengan kertas HVS 80 gram full warna. Anak-anak tertarik dengan gambar yang berwarna. Di Jepang, jarang sekali ada soal penilaian berupa multiple choice. Jika melihat fasilitas fisik gedungnya dan juga fasilitas belajar mengajarnya, maka tidak salah jika Jepang menjadi negara maju karena kualitas pendidikan sangat diprioritaskan oleh pemerintahnya.

2. Guru dirolling.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana profesionalnya guru mengajar dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Bahan ajarnya banyak, retorika mengajarnya tidak membosankan, dan mereka kadang bekerja hingga malam untuk mempersiapkan keperluan proses belajar mengajar.

Seluruh guru memiliki kompetensi mengajar sehingga bisa dikatakan tidak ada guru yang bekerja asal-asalan. Para guru dan juga kepala sekolah dirolling ke semua sekolah. Jadi, tidak ada ceritanya di Jepang, guru di sekolah sini bagus sedangkan di sekolah sana tidak bagus.

3. Infrastruktur sangat mendukung.
Orang tua tidak akan cemas melepas anaknya yang baru berusia 6 tahun berjalan kaki sejauh 1-2 km ke sekolah, karena tersedia jalan khusus untuk pejalan kaki. Jika ada penyebrangan, ada lampu merah yang berfungsi dengan baik dan ditaati seluruh pengendara.

4. Proses pembelajaran sama di seluruh sekolah.
Mulai dari Nyugaku Shiki (penyambutan murid baru), sampai acara Sotsugyo Shiki (upacara kelulusan siswa kelas 6) semua sama prosesinya di seluruh sekolah. Termasuk kegiatan seperti Ensoku (karya wisata), Undokai (semacam pekan olah raga), Jugyo Sankan (semacam open class), Gasshuku (kelas 6 menginap di luar kota selama 2 malam), termasuk aktifitas rutin lain seperti Asanokai (apel pagi), Owarino Kai (apel sore), Soji (kegiatan bersih-bersih sekolah).

Jam masuk dan jam keluar juga semua sama, tidak ada pelajaran tambahan (les) dari guru di luar jam pelajaran. Seluruh sekolah siswanya setiap hari makan siang dan mendapat satu kotak susu segar di sekolah. Sepertinya kegiatan PBM sudah baku sama semuanya sesuai kurikulum yang berlaku.

5. Komite sekolah, volunteer dan masyarakat peduli terhadap pendidikan
Setiap pagi dan sore hari biasanya di perempatan akan ada volunteer yang memakai jaket kuning membantu anak-anak menyeberang dan menjaganya. Para pengendara bermotor juga sangat menjaga dan mendahulukan anak sekolah yang menyeberang. Jadi stakeholder mendukung penuh sistem zonasi ini.

6. Wajib belajar artinya wajib terima semua siswa.
Karena program wajib belajar 9 tahun, artinya pemerintah wajib menerima seluruh calon siswa SD dan SMP bagaimanapun kondisinya. Makanya tidak heran, anak yang berkebutuhan khususpun diterima di sekolah negeri. Pemerintah menyediakan guru khusus untuk mereka. Karena pemerintah wajib menerima semua calon siswa maka jumlah demand dan supply diperhatikan. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Tak Ada Sekolah Favorit

Yesi menceritakan pengalamannya ketika pindah ke Jepang dan memasukkan anaknya ke sebuah sekolah. Waktu itu, anaknya yang paling besar kelas 4 SD dan adiknya kelas 3 SD. Sekolah yang dituju menerimanya tanpa syarat apapun, tidak ribet, tidak diminta surat pindah, begitu juga nilai raport sama sekali tidak ditanya. Ia hanya diminta untuk mengisi formulir.

Ketika anaknya yang paling besar lulus SD. Tidak ada syarat akademik apapun untuk diterima di SMP, tidak ribet dan tidak menguras emosi. Anak kelas 6 SD di Jepang sama sekali tidak tertekan untuk mempersiapkan UN. Baru ketika memasuki SMA, para siswa harus bersaing ketat. Biayanyapun sudah tidak gratis lagi karena sudah tidak termasuk kategori wajib belajar.

Dengan kualitas yang sama seperti ini, serta tidak ada labelisasi pada sekolah tertentu, maka di Jepang tidak ada sekolah favorit, sekolah terakreditasi A, sekolah model, sekolah percontohan, sekolah bertaraf internasional, dan lain-lain. Semua sekolah sama standar mutunya. Orang tua dan siswa tidak ada yang minder atau jumawa jika anaknya sekolah di sekolah tertentu.

Yang patut digarisbawahi, sistem ini berhasil di Jepang karena pemerintah sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Seluruh infrastruktur sekolah dan sumber daya terintegrasi dengan sangat baik. Dan sistem ini hanya berlaku bagi SD dan SMP yang masuk kategori wajib belajar.

Jika kemudian Pemerintah Indonesia mencoba untuk menduplikasi sistem zonasi ala Jepang ini. Tentu itu sebuah semangat yang sangat baik dan patut didukung untuk menghapus image sekolah favorit. 

Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki infrastruktur sekolah dan sumber daya manusia yang memadai? Antara demand dan supply apakah sudah seimbang? Kata Yesi, teman teman di tanah air saat ini tentu lebih bisa menjawabnya.(*)

Saturday, June 22, 2019

Gonjang Ganjing Sistem Zonasi: Antara Sekolah Oke Punya dan Sekolah Kumuh Jaya

Gonjang Ganjing Sistem Zonasi Sekolah
Ilustrasi: Kondisi Sarana Ruang Pembelajaran di Sebuah Lembaga Pendidikan 
Gonjang-ganjil sistem zonasi sekolah, menarik membaca tulisan Robbi Gandamana tentang zonasi sekolah, tentang sekolah favorit sekolah tidak favorit, tentang sekolah kota oke punya dan sekolah pinggiran kumuh jaya. 

Tulisan-tulisan Robbi Gandamana memang menarik, menggelitik, memotret dari sisi lain, dan tentu saja "nakal". Tak heran jika tulisan-tulisan dalam status facebook tersebut kerap dilike dan dibagikan oleh banyak orang.

Berikut ini adalah tulisan Robbi Gandamana tentang sistem zonasi sekolah yang ditulis dalam status facebook miliknya. Selamat Membaca!

Betul kata Cak Nun, dunia pendidikan kita terlalu terseret oleh kapitalisme lembaga pendidikan. Pendidikan dikaitkan dengan urusan laba rugi. Sekolah saling berebut mendapatkan murid sebanyak-banyaknya bukan karena semata urusan pendidikan, tapi mengeruk keuntungan secara ekonomi.

Munculnya istilah Sekolah Favorit atau Sekolah Unggulan akarnya dari kapitalisme. Pelabelan seperti itu jelas kaitannya dengan dagang atau jualan untuk menarik konsumen. Ada pemasarannya, branding, dan seterusnya. Dan murid adalah konsumennya.

Kata "unggulan" untuk embel-embel sebuah sekolah itu adalah bentuk kesombongan. Di dunia ini, tidak ada manusia yang lebih unggul dari manusia yang lain. Setiap orang punya kelebihan atau bakatnya masing-masing. Kelebihan seseorang adalah kekurangan bagi yang lain. Begitu juga sebaliknya.

Sama dengan "salam super" yang menjadi jargon seorang motivator apes. Kata "super" pada jargon tersebut adalah kesombongan. Tidak ada manusia super. Manusia super hanya ada di film super hero. Tiap-tiap manusia dikasih bakat, fadhilah, dan kelebihan yang berbeda. Mereka saling mengisi dan melengkapi. Tidak ada yang lebih super. Kalau kuper banyak.

Semua orang boleh unggul. Tapi jangan dia sendiri yang bilang unggul. Mosok wong kok meneng-meneng ngomong, "Aku unggul lho..." Opo maneh diumum-umuno. Iku sombong rek. Kecuali nama di KTP-nya memang Unggul. Itu harapan orang tuanya agar si anak jadi orang unggul. Halo Nggul.

Orang sekarang itu disamping sombong juga matre. Ilmu dikapitalisasi. Mengajar ada tarifnya. Padahal mengajar itu pekerjaan melayani hamba Tuhan. Nggak jauh beda dengan ngajari ngaji atau ustadz. Jangan sampai ustadz ada tarifnya atau jadi profesi. Bahkan motivator pun harusnya juga nggak pakai tarif. Tapi ojok ngomong sopo-sopo.

Guru atau motivator dibayar bukan karena transfer atau sharing ilmunya, tapi karena penghargaan pada waktu dan tenaga si guru. Atau karena faktor X, aku gak eruh. Kalau dibayar karena sharing ilmu, derajat ilmunya bakalan rusak. Makanya banyak yang paham ilmu tapi kurang ajarnya tetep.

Uteke wong modern iku isine soal urusan laba rugi. Prinsipnya saja "time is money". Semuanya dikomoditaskan. Uang adalah hal pertama yang ada di pikiran. Bagaimana caranya pendidikan jadi lahan bisnis.

Maka ada penyeragaman kaos kaki, sabuk dan lainnya. Dan semua barang itu harus dibeli di sekolah. Sekolah merangkap perusahaan kaos kaki. Akhirnya saingan sama penjual kaos kaki dan sabuk. Mungkin sebentar lagi ada penyeragaman sepatu (belinya harus di sekolah). Para pemilik toko sepatu pun misuh berjamaah.

Hakikat guru itu bukan mengajari tapi mendampingi murid untuk menemukan dirinya. Kalau ternyata si anak itu "kambing" ya jangan dipaksa jadi "ayam". Kambing jangan dipaksa berkokok. Akhire dadi: "Kukurumbeekkkk.."

Sekolah sekarang memang tempat training calon pegawai perangkat industri. Nggak ada urusannya dengan akhlak dan moral. Seorang sarjana yang terbukti menghamili anak orang, gelar sarjananya tidak akan dicopot. Tapi kalau ada ustadz yang ketahuan mesum, pasti tidak akan lagi diakui sebagai ustadz. Dia juga bakalan malu luar biasa, lari ke Arab.

Pemerintah sekarang sebenarnya agak cerdas dengan kebijakan zonasi yang bertujuan menghapus Sekolah Negeri Favorit atau Unggulan. Pemerataan bla bla bla bla tanyakan pada Menteri Pendidikan.

Jadi sistem zonasi itu sebenarnya bagus. Masalahnya kebijakan itu terlalu prematur kalau diterapkan saat ini. Yang dirolling cuman kepala sekolah dan guru. Tapi sarana prasana Sekolah Negeri di tengah kota dan pinggiran kota masih sangat jauh berbeda.

Ya'opo se rek, standarisasi belum beres, tapi kebijakan sudah diterapkan. Sebelum kebijakan zonasi diterapkan, favoritkan dulu semua Sekolah Negeri di Indonesia (tumben ejaane bener, biasane Endonesyah. Sekali-kali tertib Ndes).

Sekolah Negeri di tengah kota itu sarana dan prasarananya oke punya. Sedang Sekolah Negeri pinggiran kota, kondisinya kumuh jaya. Tentu saja orang tua calon murid yang rumahnya dekat Sekolah Negeri Kumuh pecas ndahe. Nggak tega hati melihat buah hatinya hanya diterima di Sekolah Negeri cap Kandang Kambing.

Naif memang, syarat diterima di sekolah bukan karena nilai (prestasi), tapi karena meteran.

Aku bukan penyembah sekolah favorit. Tapi kebanyakan yang disebut sekolah favorit itu fasilitasnya memang jos gandos. Konduksif, menggembirakan, dan menyehatkan. Itu prinsip. Dan kalau ingin tahu sebuah sekolah itu bagus atau payah, lihatlah toiletnya.

Memang susah jadi Menteri Pendidikan, nuruti permintaan rakyat yang bermacam-macam. Tapi kalau nggak mau susah ya jangan jadi menteri, jadi ilustrator ae. Nang kantor wong-wong podo kerjo, tapi ilustratore malah nggambar ae.

Ah embuh rek...­­­

-Robbi Gandamana-

Friday, June 7, 2019

Membelajarkan Adab Kepada Anak Ketika Bertamu

Mengajarkan adab bertamu pada anak
Ilustrasi: Mengajarkan adab bertamu pada anak.
Lebaran merupakan momen menyambung persaudaraan dan silaturahmi. Setahun sekali, sesudah didera aktifitas kerja yang menguras tenaga dan pikiran, idul fitri adalah saat-saat dimana saudara, sanak kerabat, handai taulan, dan para sahabat saling kunjung mengunjungi agar kerekatan hubungan senantiasa terjaga.

Tradisi tersebut bukan hanya penting, bahkan wajib dilakukan, terutama mengenalkan anak pada asal usulnya, pada ketersambungan nasab keluarganya, pada tradisi silaturahmi yang kian hari kian terkikis oleh budaya milenial, oleh melesatnya ragam perjumpaan maya melalui whatsapp, instagram, facebook, serta sarana medsos lainnya. Hari ini, betapa anak-anak kita banyak yang "kepaten obor" akibat minimnya tradisi muwajjah dengan sanak familinya.

Dalam tradisi anjangsana itulah, menjadi hal penting bagi orang tua agar memberikan pembelajaran bagi anak-anaknya, terutama bagi keluarga yang ketika bertamu membawa anak-anaknya yang masih kecil, baik ketika di rumah saudara, kerabat, terutama di rumah orang lain, agar anak mengerti tata krama, tahu unggah ungguh, walau soal remeh temeh semisal hidangan.

Tulisan ini diambil dari sebuah akun facebook milik @fitria wilis. Meski ada yang tidak sependapat, tulisan ini mungkin bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi orang tua dengan anak-anak kecil yang bertamu ke rumah orang lain. 

Selamat Membaca!

Pada suatu hari, karena macet, kami memutar balik perjalanan. Lalu tanpa sengaja, kami melewati rumah seorang teman lama suami. Dia pun meminta kami untuk mampir.

Kami serombongan dengan empat orang anak, menuju ruang tamunya yang mungil dan bersih. Di ruang tamu, kami dapati ada tamu yang juga baru saja datang. Sebuah keluarga dengan seorang anak usia tujuh tahunan. Badannya bongsor. Si anak dengan begitu saja mengambil toples kue nastar di atas meja, membukanya, membawa toples ke pangkuannya, lalu asyik makan dengan lahapnya. Nastar itu terlihat "mahal", bentuknya seperti buah jambu, cantik banget.

Hampir setengah isi toples telah berpindah ke perut si anak. Sang Ayah sibuk mengobrol dengan tuan rumah. Sedang sang ibu sibuk dengan HP. Aku memilih mengajak anak-anak ke teras luar yang adem. Aku takut menjadi 'tertuduh' terlibat menghabiskan satu toples kue mahal. hehe...

Nyonya rumah dengan santun berkata, "Namanya siapa, Sayang? Toplesnya taruh sini saja ya. Biar nggak jatuh." Nyonya rumah dengan bahasa halus berusaha 'meminta' toples kaca agar dikembalikan ke meja.

Menurutku ini 'kode' kalau dia keberatan dengan adab si anak. Ia menolak. Justru tangannya tetap mengeruk kue yang sudah habis nyaris separuh. Mereka kelihatannya juga tidak akrab-akrab amat. Buktinya nyonya tuan rumah saja tidak mengetahui nama si anak.

"Dibagi dong sama teman-temannya, itu belum kebagian," kata si nyonya sambil menunjuk ke anak-anakku. Ibunya sepertinya tak mau tahu, masih asyik dengan HP-nya.

"Nggak mau!" si anak menjawab. 

Lama kemudian.....

"Mau coba ini?" Nyonya rumah membuka toples astor di sampingnya. Sepertinya, ia sedang berusaha menawarkan alternatif agar si anak tak hanya memakan nastar jambu yang masih di pangkuannya.

"Nggak mau," jawab si anak. Sekali lagi, mendekati berteriak.

"Anaknya suka banget sama nastar, ya," tutur nyonya rumah, suaranya tenang.

"Oiya... bisa habis setoples dia kalau sudah ketemu nastar," sahut sang ayah tanpa rasa bersalah. Sementara si ibu hanya mendongak sedikit dari HP, sembari berkata, "Dia sukanya nastar sama sagu keju, bisa setoples sekali duduk habis. Tapi kalau kastengel, sebiji pun dia gak sentuh, gak suka," kata si ibu tersenyum, lalu kembali asyik dengan HP-nya.

Entahlah. Aku menjadi tidak nyaman dengan situasi itu. Pertama, aku melihat di meja hanya terdapat empat toples kue yang terlihat baru saja dibuka. Aku berfikir, kalau satu tamu menghabiskan satu toples kue, bagaimana dengan tamu-tamu berikutnya?

Tuan rumah tidak mengadakan open house besar-besaran. Bisa jadi stok kuenya juga tidak banyak-banyak amat. Kehidupannya juga 'terlihat' tidak berlebihan. Selain itu, tahu sendiri kan semahal apa harga kue kering lebaran sekarang? Setoples itu bisa jadi 90ribuan. Belum tentu masih ada stok di belakang.

Aku beberapa kali menangkap mata nyonya rumah gelisah melirik ke si anak. Ia berusaha ramah semaksimal mungkin dengan membukakan astor, kripik pisang, coklat, dan kerupuk udang. Tapi si anak sama sekali tidak peduli. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, sama sekali tak berusaha mencegah terhadap perilaku si anak. Nastar itu sekarang bersisa sepertiga. Kelanjutannya, aku sama sekali tidak tahu, karena suamiku mengajak pamit duluan.

Menurutku, sangat penting mengajarkan adab bertamu pada anak-anak. Tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh anak ketika berada di rumah orang lain.  

Di rumah sendiri, anak-anak mungkin boleh saja memakan apa saja sampai habis. Tapi kalau di rumah orang lain, apalagi tak ada kedekatan emosional apapun, hal semacam itu tak etis jika dilakukan.

Tamu orang rumah bukan hanya kita. Ini penting diberitahukan kepada anak-anak, agar mereka tidak egois. Harga kue mungkin mahal. Tidak semua orang bisa membuat kue. Banyak yang memilih untuk membeli. Jadi, ajarkan pada anak-anak jika makan kue di rumah orang, tak boleh berlebihan.

Suatu saat, anak-anak kadang tidak patuh, menjadi 'rakus dan nggragas' ketika di rumah orang. Bisa jadi itu disebabkan karena mereka lapar. Jadi sangat penting memastikan perut si anak sudah terisi saat bertamu ke rumah orang. Anak-anak lebih gampang 'ditaklukkan' saat mereka tidak lapar. Percayalah!

Saat ke rumah keluarga dekat, tentu hal-hal semacam itu tidak begitu menjadi persoalan. Tapi anak-anak tetap harus diajarkan tata krama. Peraturan boleh agak lentur. Misal saat kami ke rumah kakak kandung, bolehlah agak santai, makan ketupat nambah, pake rendang, opor, telur, kue-kue, dan lain-lain. 

Tapi jika bertamu ke rumah orang lain, jelas harus ada adab dan tata krama yang harus dikenalkan dan dibelajarkan kepada anak. Kalau anak belum mau mengerti, maka jadilah orangtua yang tahu diri.

Misalnya, bertamu jangan terlalu lama, ajak anak-anak ngobrol, melihat-lihat udara luar, atau berinteraksi dengan tamu-tamu yang lain. Anak-anak gampang akrab dengan teman baru, jadi ajaklah mereka berkenalan dengan teman baru sehingga perhatian si anak tidak melulu hanya fokus ke hidangan di meja tuan rumah.

Saat bertamu pun, cobalah memaksa diri untuk tidak melihat HP. Fokuslah pada kehidupan yang nyata, bukan menyibukkan diri pada yang maya. Begitu juga ketika si anak mungkin ingin ke toilet. Walaupun anak sudah terbiasa pergi ke toilet sendiri ketika di rumah, tetap temenin ketika di rumah orang. Jangan-jangan nanti ada hal-hal tak diinginkan yang merepotkan tuan rumah.

Memang, ketika bertamu ke rumah orang lain dengan membawa anak-anak, kita harus selalu bisa 'menimbang rasa' kepada tuan rumah. Jangan ngobrol tanpa batas, sementara anak-anak dibiarkan bebas lepas. Tetap waspada. Pasang mata telinga mengawasi anak-anak kita. Jangan sampai menimbulkan ketidaknyamanan pada tuan rumah.

Intinya adalah adab! adab! dan adab! 

Kalau anak belum mengerti, tentunya kita selaku orangtua yang harus mengerti. Jangan membiarkan anak sesuka hati dengan dalih "namanya juga anak-anak" . Kemudahan dengan menelantarkan adab, bisa jadi kelak inilah yang akan menyulitkan masa depan anak.

Selamat bersilaturahhim dalam nuansa idul fitri. Jangan lupa sematkan adab dan tata krama dimanapun, dan kapanpun pada anak-anak! Selamat Idul Fitri 1440 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.[]

Wednesday, June 5, 2019

Ultra Lebaran Mega Idul Fitri Giga Takbir

Selamat Idul Fitri 1440 H
Selamat Idul Fitri 1440 H
Ketika malam naik dan suara takbir melangkahkan kaki gaibnya dari pulau ke pulau, dari negeri ke negeri di seluruh permukaan bumi—bagaikan echo lagu semesta—Kyai Sudrun muncul di tempat persemayaman terakhirnya ketika hidup. Yakni di sebuah kampung di kota Bangil Jawa Timur.

Saya sedang khusyuk menikmati pawai takbir dan oncor yang suara dan cahayanya menabur dari jendela rumah. Musikubudiyah cinta Bimbo dengan puluhan wanita penyanyi yang cantik manis shalihah, sampai di puncak ‘isyik-nya. Tuhan dipestakan besar-besaran di Jakarta dan Surabaya. Takbir bergema bagaikan menantang sejarah. Beribu gendang dan terbang, beribu gerak dan keindahan… tapi Sudrun meraih tengkuk saya dan mencampakkan badan saya ke sisinya.

Tidak kaget saya oleh sikap kekanak-kanakannya. Menangis menjadi-jadi dengan tangis anak-anak yang mainan plembungan-nya meletus. Menjatuhkan diri di tanah. Kakinya selonjor, tumitnya menendang-nendang tanah. Saya tahu ia menunggu pertanyaan saya: “Kenapa Kyai, kenapa menangis malam-malam begini?”. Tapi saya tidak bertanya. Saya jongkok saja dan memandang ke arah menentu.

Sehingga kemudian ia jawab pertanyaan yang dibayangkannya sendiri: “Karena Kekasihku tak mungkin menangis, maka akulah yang menangis”.

Hampir saja saya tergoda untuk bertanya dan membantah. Kenapa harus menangis. Apakah Tuhan merasa terharu mendengarkan hamba-hambanya di seantero bumi memuji-muji, mengagung-agungkan nama-Nya?

Tapi rupanya Sudrun mendengar suara hati saya dan menanggapi: “Goblok! Aku baru datang berkeliling. Jakarta. Surabaya. Studio televisi. Panggung-panggung. Karena aku menyangka Kekasihku adalah Maha Lakon Utama di tempat-tempat itu. Semula aku memang menemukan-Nya di sana, tapi tiba-tiba kehilangan, entah ke mana pergi-Nya. Kucari-cari sampai hampir pingsan dan putus asa. Ternyata Ia bersembunyi di belakang punggung setiap orang. Aku bertanya—“Kenapa Kekasihku bersembunyi di sini?”. Ia tersenyum dan berkata —“Kekasihmu tidak bersembunyi. Hamba-hamba-Ku yang amat kucintai itu tidak sadar telah menyembunyikan-Ku di balik punggung mereka masing-masing. Kekasihmu menjadi Pihak Ketiga. Menjadi Dia.

Bukan Engkau di hadapan aku manusia. Kekasihmu menyangka mereka sedang memuji-muji kebesaran-Ku, tapi akhirnya Kekasihmu merasakan bahwa mereka sangat sibuk dengan keindahan suara mereka sendiri, mereka sangat asyik dengan kesenian Lebaran mereka sendiri, sehingga Kekasihmu tersisihkan tanpa sengaja. Tetapi Kekasihmu memaafkan mereka, karena mereka tidak sungguh-sungguh mengerti apa yang mereka lakukan”.

“Subjektif!”, saya memekik. Tidak tahan lagi. “Itu persepsi subjektif!”

“Pasti. Pasti subjektif. Itu ta’riful ghaib”, jawabnya, sambil menunda tangisnya. “Bisakah ilmu objektif melihat, menembus dan menilai dimensi keikhlasan dan ketidak-ikhlasan, dimensi cinta dan kesungguhan di dalam jiwa manusia? Bisakah ilmu objektif memastikan apakah shalat seseorang benar-benar shalat? Bisakah ilmu objektif menemukan klaim bahwa seseorang atau sekumpulan orang menyelenggarakanTakbir Akbar tidak untuk soal-soal yang selain Allahu Akbar, melainkan umpamanya untuk rangkaian rekruitmen politik, lobi bisnis atau pengagungan eksistensi diri sendiri? Sedangkan takbir dan tauhid adalah peleburan dan peniadaan diri sehingga lenyap ke dalam Diri?”

“Allah itu Syakur, Kyai!”, saya menyela, “Allah itu Maha Pensyukur. Tidakkah agama Allah terbukti memperoleh perhatian sangat besar-besaran dari hamba-hamba-Nya?”

“Apa buktinya bahwa mereka sungguh-sungguh ber-Allahu Akbar? Mana indikator budayanya, mana tanda ekonomi dan politiknya, mana perwujudan hukumnya? Tidakkah saudara-saudaramu itu menyangka bahwa Kekasihku itu sedemikian remehnya sehingga cukup dirayu dengan ucapan, lagu, gendang dan lampu gemerlap?

“Kenapa Kyai tidak memilih untuk mensyukuri itu, sebagaimana Tuhan mensyukuri dan memuliakan seseorang meskipun sekadar karena ia memelihara nyawa seekor burung pipit?”

Sudrun mulai tersenyum, meskipun pipinya masih basah oleh lelehan air mata.

“Kalau aku nonton teve, menyaksikan anak-anakku bernyanyi dengan kerudung dan baju kurung, aku memang selalu bersyukur dengan penuh kepahitan. Mereka menghormati bulan Ramadlan dengan cara yang sukar kupahami. Mereka memuliakan Allah dengan mengenakan pakaian yang sehari-hari hampir tak pernah mereka kenakan. Mereka melantunkan syair-syair yang tidak menjadi pedoman kehidupan mereka. Mereka memperagakan kekhusyukan dan itu tidak pasti berarti khusyuk. Mereka memperagakan kebaikan dan tak bisa dijamin benar-benar baik. Mereka menyongsong Idul Fitri dengan berpakaian ketidakaslian, sehingga yang berlaku jangan-jangan adalah justru Tarkul Fitri (tark al-fithr): menunggalkan keaslian. Menutupi diri dari kewajaran. Hal itu membuat Musa merasuk ke dalam badanku dan tongkatnya mendadak tergenggam di tanganku, karena ia bepikir bahwa itu semua sejenis sihir. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk bersyukur: “Masih untunglah mereka tampil seperti itu. Tapi hatiku terasa pahit, karena mungkin aku sedang mensyukuri kemunafikan”.

“Kyai!”, kata saya kemudian, “Kehidupan adalah proses…”

“Sejak sebelum lahir aku sudah tahu itu!”, ia membentak.

“Maksud saya begini Kyai. Syukurlah seseorang melakukan shalat, pertama-tama karena demi merayu calon mertua. Semoga Allah memberinya hidayah sehingga selanjutnya ia shalat benar-benar karena keikhlasan ibadah kepada-Nya”.

“Tetapi wajib hukumnya bagiku untuk menangis!”, mendadak ia menendang-nendang tanah lagi dan menangis meraung-raung.

“Betapa tak tahu dirinya aku di hadapan Kekasihku kalau aku tak menangis!”, lanjutnya, “hamba-hamba Kekasihku semakin tidak memiliki keyakinan religius. Impian mereka tidak terkontrol karena akal sehat mereka menurun. Mencapai tahap kualitas Idul Fitri yang wajar dan pada standar minimal secara objektif tak bisa-bisa, sehingga mereka mencoba mengatasinya dengan cara subjektif. Yakni dengan mengarang sebutan baru, misalnya Mega Idul Fitri, Ultra Lebaran, Giga Allahu Akbar, atau entah apa lagi. Itu eufemisme subjektif: boleh tak bisa makan ayam, asalkan ada bumbu rasa kari ayam…”

Saya memotong—”Tidakkah Kyai merasa bahwa ucapan Kyai itu kasar dan menusuk perasaan?”

“Kalau hamba-hamba Kekasihku itu memang benar-benar lemah dan tak berdaya, aku masih punya alasan untuk mensyukuri batas pencapaian mereka. Tapi kalau sebenarnya mereka kuat dan sesungguhnya memiliki kesanggupan untuk berubah, maka Ibrahim yang harus datang kemari membawa kapaknya. Apakah kapak Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala itu kau sebut kasar dan menusuk perasaan Bapaknya?”

“Kapan Ibrahim datang Kyai?”

Sudrun meraung-raung semakin keras. “Itulah yang kutangisi. Aku takut Kekasihku tidak menegur mereka, karena memang hanya hamba-hamba yang dikasihi-Nya saja yang cepat ditegur, diingatkan dan dihukum. Sedangkan mereka yang sudah jauh dari kasih-Nya, dibiarkan saja….”[]

**Diambil dari buku “Tuhan Pun ‘Berpuasa'”, diterbitkan oleh penerbit Zaituna, 1997.

sumber: www.caknun.com


Tuesday, May 7, 2019

Menggali Makna Puasa Dalam Kehidupan

Keutamaan Puasa Bagi Manusia
Meme Tentang Puasa Yang Beredar di Media Sosial
Tak terasa Ramadan kembali menyapa kehidupan manusia. Bulan yang di dalamnya Tuhan menyediakan rahmat, berkah, dan maghfirah itu hadir kembali di tengah situasi sosial politik bangsa yang carut marut oleh berbagai problematika tak berkesudahan. Tragedi-tragedi kemanusiaan kian merajalela, korupsi menggurita, perilaku budaya yang hina dina, serta berbagai kemungkaran sosial lainnya.

Apalagi bangsa ini baru saja usai menyelenggarakan hajat lima tahunan, tensi politik masih meninggi. Saling hujat antar pendukung tak juga selesai. Manusia hilang manusianya, yang tertinggal adalah cebong dan kampret. Bahkan hingga hari ini, masing-masing kubu masih saling serang, dan bersikukuh dengan kebenarannya masing-masing.

Dalam konteks inilah, Ramadan adalah momentum yang tepat bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan reinstropeksi terhadap pola keberagamaannya dalam konteks yang lebih manusiawi. Hadirnya Ramadan, seyogyanya mampu mengendapkan "yang bergejolak", hingga yang tampak adalah keheningan dan kebeningan.

Salah satu keutamaan Ramadan adalah diwajibkannya puasa sebagai upaya agar menjadi insan bertaqwa. Puasa adalah media pendadaran agar manusia mampu mencapai derajat lebih tinggi. Namun demikian, dibutuhkan pemahaman yang tepat agar puasa tak hanya memiliki fungsi meningkatkan kesalehan personal semata.

Ada beberapa hal yang menyebabkan puasa memiliki kandungan nilai yang begitu tinggi dalam kehidupan. Pertama, puasa mengajarkan kepada pelakunya untuk mampu mengendalikan diri. Dengan mencegah makan dan minum, nafsu syahwat, serta hal-hal dilarang lainnya sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, adalah latihan batin yang efektif bagi manusia untuk mengontrol mental dan sikap hidupnya.

Hal ini tak hanya diperlukan, bahkan menjadi sesuatu yang penting di tengah arus global kehidupan. Bukankah modernisasi dengan industri kapitalismenya cenderung mengajarkan manusia untuk melampiaskan, dan bukan mengendalikan?

Kedua, puasa adalah ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan dan pelaku puasa. Saking rahasianya, Tuhan berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi,“ Puasa adalah untukKu, dan Aku sendiri yang akan membalasNya.” Sedemikian romantisnya Tuhan dalam merespon puasa, sehingga Dia, yang segala hamparan kehidupan langit dan bumi tergenggam di tanganNya berjanji akan memberi balasan sendiri pada pelaku puasa.

Pada sisi ini, nilai-nilai kejujuran, kesetiaan mengikuti hati nurani menjadi pertimbangan utama. Boleh saja manusia mengatakan dirinya berpuasa, walaupun pada hakekatnya tidak. Tapi percayalah, akan terjadi konflik internal sedemikian dahsyat dalam batinnya, karena manusia telah mengingkari hati nuraninya.

Ketiga, puasa mengajarkan kepedulian kepada sesama. Lazim diketahui, puasa identik dengan lapar dan dahaga. Dewasa ini, ditengah himpitan kehidupan yang semakin menyesakkan di negeri ini, harga-harga kebutuhan pokok yang kian tak terjangkau, serta akumulasi problem-problem sosial lainnya menyebabkan jumlah penduduk miskin semakin bertambah.

Salah satu fungsi puasa adalah melatih kepekaan sosial. Sudah barang tentu bahwa pelaku puasa hanya merasakan perihnya lapar dan dahaga dalam skala waktu yang telah ditentukan. Namun, bagi mereka yang terjebak kemiskinan dan ketidakberuntungan dalam hidupnya, rasa lapar dan dahaga adalah menu utama yang menjadi icon keseharian mereka.

Selama ini, salah satu kelemahan umat islam adalah gampang terpeleset pada kesalahan cara berpikir. Ibadah mahdhah misalnya. Seringkali ibadah tak dipahami sebagai sarana mendekatkan diri pada Sang Pencipta (tentu saja melalui hubungan horisontal dengan sesama manusia). Justru ibadah diletakkan sebagai tujuan akhir yang harus dicapai.

Maka, tak penting apakah shalat akan membawa dampak seperti mencegah perbuatan keji dan munkar. Justru keberhasilan shalat diukur dari kontinuitas masing-masing pribadi sampai pada tingkat kesalehan personal yang tak memiliki kaitan apapun dengan kehidupan pada tingkatan praktis.

Begitu juga puasa, ketika puasa diletakkan sebagai tujuan dan bukan sarana. Maka, puasa tak memiliki kontribusi apa-apa dalam kehidupan. Puasa hanyalah input. Outputnya adalah pribadi yang bertaqwa. Predikat taqwa bukanlah sesuatu yang digapai dengan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, dengan amalan-amalan sunnah secara formal tanpa upaya mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Justru aktualisasi Idul Fitri adalah manusia pasca Ramadan yang sanggup menjalani kehidupan dengan mengaktualisasikan nilai-nilai Ramadan sejak 1 Syawal hingga Ramadan pada tahun berikutnya.

Memang, harus ada pemaknaan yang serius terhadap masalah ini. Sebab tanpa itu, manusia akan terjebak pada rutinitas budaya setiap kali Ramadhan tiba. Bukankah Rasulullah telah memberikan gambaran, betapa banyak orang berpuasa yang tak memperoleh apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga semata. Wallahu a’lam bi ash-shawab.***

penulis: Em. Syuhada, admin www.komunitasngopi.com

Saturday, April 27, 2019

Bagaimana Mendidik Anak di Era Digital?

Bagaimana Mendidik Anak di Era Digital?
Ilustrasi: Anak-anak sedang Bermain saat Istirahat dalam Kegiatan Belajar di Sekolah 
Didiklah anak sesuai dengan zamannya. Karena mereka hidup di zamannya sendiri yang berbeda dengan zamanmu.
Maqalah dari Sayyidina Ali di atas cukup terkenal di kalangan umat islam. Tentang pendidikan anak, bagaimana orang tua, guru, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan anak memahami bahwa anak memiliki dunianya sendiri. Tidak semata-mata anak dilahirkan dari seorang ibu, lantas orang tuanya menganggap bahwa anak adalah milik mereka, dan memperlakukan anak sesuai dengan kehendaknya.

Kata Gibran,"Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya sendiri. Ia lahir melalui engkau, tapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan kepunyaanmu. Berikan kasih sayangmu, tapi tidak pikiranmu. Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Berikan rumah bagi raganya, tapi tidak dengan jiwanya. Sebab, jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tak bisa engkau kunjungi, meskipun dalam mimpi-mimpimu...."

Memang anak adalah permata. Setiap orang tua pasti menginginkan memiliki anak yang saleh, cerdas, berakhlak dan berkepribadian yang luhur, sehingga bisa mengangkat derajat dan menjadi kebanggaan kedua orang tua. Sayangnya, banyak orang tua yang kurang memiliki pengetahuan dalam mendidik anak. Tak jarang, banyak juga orang tua yang mendidik anak dengan menerapkan pola asuh seperti orang tua zaman dahulu. 

Padahal zaman terus berubah. Setiap zaman memiliki masanya sendiri. Dan anak-anak, seperti kata Sayyidina Ali, hidup dengan zamannya sendiri, yang jauh berbeda dengan zaman orang tuanya dulu. Tentunya, mendidik anak di zaman milenial ini pasti lebih sulit dan kompleks karena tantangan yang dihadapi juga semakin besar.

Saat ini, anak-anak hidup di sebuah zaman dengan kecanggihan teknologi yang memudahkan akses informasi kapan pun dan dimana pun. Disinilah peran orangtua sangat dibutuhkan. Menurut sejumlah pakar psikolog, untuk membentengi anak dari pengaruh negatif teknologi, yang dibutuhkan adalah kehadiran orangtua untuk mendampingi proses tumbuh-kembang anak, serta memonitor apa yang mereka lakukan.

Lantas, apa saja yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak di era digital?

Membangun Komunikasi Dua Arah

Faktor terpenting dalam mendidik anak di era digital adalah membangun komunikasi dua arah antara anak dan orang tua. Komunikasi menjadi sesuatu yang sangat penting agar keinginan anak betul-betul dipahami oleh orang tua. Orangtua tidak hanya sekedar melarang atau memberikan perintah begitu saja kepada anak, tetapi juga bisa menjadi pendengar yang baik, dan memberikan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi anak.

Jika komunikasi telah terbangun, maka hubungan anak dan orang tua akan menjadi enjoy. Anak tidak akan menumpahkan permasalahannya kepada dunia luar, dan lebih mempercayakan kepada orang tua. Dalam proses ini, orang tua bisa mengkomunikasikan secara terbuka perihal apa saja yang belum pantas dilakukan atau dilihat oleh seorang anak. Ketika melarang sesuatu misalnya, orang tua harus menjelaskan mengapa orangtua melarang, dan akibat apa saja yang bisa ditimbulkan, sehingga anak tidak justru melakukan apa yang dilarang orang tua akibat rasa penasarannya.

Komunikasi terbuka antara orangtua dan anak terbukti efektif dalam membentengi anak dari pengaruh negatif , baik yang ditimbulkan oleh gadget, internet, atau lainnya.

Mengembangkan Kreatifitas Anak

Gadget adalah produk kecanggihan teknologi. Sebagai alat, ia memang layak diperalat. Meski ada akibat negatif, namun manfaat positif yang diberikan juga besar, tergantung pada kemampuan orang tua dalam mengontrol dan memberikan bimbingan terhadap anak.

Melalui gadget dan internet, anak bisa banyak belajar. Bahkan dalam menggunakan gadget,  kemampuan anak akan muncul dengan sendirinya, meski tanpa diajari sekalipun. Ini memang soal naluri, soal kecerdasaan ilahiyah. Maka, keberadaan gadget hendaknya dipergunakan untuk merangsang proses belajar anak agar menjadi lebih variatif dan menyenangkan.

Seyogyanya kecanggihan teknologi dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mengembangkan bakat anak. Ada banyak aplikasi pembelajaran berbasis android yang bisa dimanfaatkan. Begitu juga, ada beragam video-video tutorial terkait pengembangan bakat maupun kemampuan yang bisa dikonsumsi oleh anak.

Pada anak usia sekolah, orang tua dan anak bisa saling berkreasi membuat dan mengedit video  dengan memanfaatkan aplikasi pengedit video di playstore. Kemudian karya anak tersebut diunggah ke sosial media. Tentu hal tersebut akan memantik rasa percaya diri.  Dengan begitu, teknologi menjadi alat untuk mengembangkan kreativitas dan bakat anak, bukan malah sebaliknya.

Batasi Penggunaan Gadget

Tak hanya narkoba, keberadaan gadget juga bisa membuat kecanduan penggunanya jika dipergunakan berlebihan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, jangan biarkan anak-anak menggunakan gadget dalam durasi lama, bahkan mungkin tak terkontrol. Di samping berbahaya bagi pikirannya, radiasi yang ditimbulkan tentu berakibat fatal jika tak diatur penggunaannya.

Anak bukan dilarang menggunakan gadget, tapi dibatasi penggunaannya. Buatlah kesepakatan dengan anak kapan ia boleh menggunakan gadget dan berapa lama waktu pemakaiannya. Pada waktu-waktu tertentu, anak harus tetap bersosialisi dengan lingkungannya.

Selain itu, harus dibuat kesepakatan tentang jenis konten apa saja yang boleh dan tidak boleh dilihat oleh anak-anak. Atur pola pengaturan pada gadget agar anak tidak dapat melihat konten orang dewasa.

Jangan Lupakan Pendidikan Agama

Tidak ada yang lebih penting bagi orang tua selain memberikan pendidikan agama sejak dini terhadap anak. Tak hanya pendidikan agama secara legal formal, tapi inti dan esensi dari pendidikan agama itu yang terutama. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Itulah sebabnya, nilai-nilai agama harus diperkenalkan kepada anak sejak kecil sebagai bekal baginya untuk membentengi diri dari pengaruh buruk lingkungan di sekitarnya.

Mendidik anak di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu. Meski sulit, namun hasilnya akan terus membekas dalam diri anak bahkan kelak hingga ia dewasa.

Apalagi mendidik anak di era digital seperti sekarang ini, tentu bukan perkara mudah. Jika orangtua menerapkan disiplin yang terlalu ketat dan kaku, dikhawatirkan anak akan menjadi pembangkang dan tidak mandiri. Disisi lain, jika orang tua terlalu memberikan kebebasan terhadap anak, resikonya anak akan terbawa pengaruh negatif dan lingkungan pergaulan yang salah.

Oleh sebab itu, peran orangtua sangat penting dan dibutuhkan untuk selalu mendampingi anak. Terapkan aturan dan disiplin tanpa membuat anak merasa tertekan. Orangtua hendaknya mampu memosisikan dirinya sebagai ‘sahabat’ yang selalu dapat diandalkan dan dipercaya oleh anak-anak untuk menumpahkan masalah-masalahnya.

Ini memang bukan perkara mudah. Namun kelak ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang positif berkat kepengasuhan kita, itu adalah kenikmatan dan kebanggaan yang tak akan ada habisnya. Semoga.(*)

Sunday, April 21, 2019

Mengenang Kartini tak Cukup Hanya Melalui Sanggul dan Kebaya

Peringatan Hari Kartini dalam Sebuah Lembaga Pendidikan
Peringatan Hari Kartini dalam Sebuah Lembaga Pendidikan
Tanggal 21 April adalah hari lahir R.A. Kartini. Tanggal itulah yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Kartini yang diperingati setiap tahunnya. Lazim diketahui, tiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini dengan peringatan yang cenderung seragam. Mulai dari lomba beraroma feminisme semacam lomba-lomba memasak, peragaan busana, dan lain-lain.

Tak jarang, di berbagai instansi juga menyemarakkan Hari Kartini dengan instruksi mengenakan busana ala kartini, perempuan khas jawa dengan kebaya dan sanggulnya. Jarang ditemui. peringatan hari kartini disemarakkan dengan mengeksplorasi pemikiran-pemikiran dan semangat perjuangannya.

Lantas, bagaimana sebetulnya pandangan dan perjuangan Kartini sehingga diperingati setiap tahunnya? Apakah memperingati kartini cukup melalui gebyar pakaian dengan dalih melestarikan budaya bangsa?

Pejuang Emansipasi Wanita

Terlepas dari perdebatan soal Kartini dengan emansipasi wanitanya, namun banyak yang menyebut Kartini adalah tokoh gerakan emansipasi wanita. Pemikiran-pemikirannya dapat ditemukan melalui surat-suratnya yang dikumpulkan dalam bukunya yang terkenal Door Duisternis Tot Lieht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. 
Pandangan Pendidikan R.A. Kartini
R.A. Kartini dengan Seluruh Keluarganya
Dilahirkan 21 April 1879 di Kota Jepara, nama lengkap Kartini adalah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Ia memiliki darah keluarga bangsawan, sehingga mendapatkan gelar R.A (Raden Ajeng). Gelar Raden Ajeng dipergunakan sebelum menikah. Setelah menikah, maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu) sesuai dengan tradisi jawa.

Ayahnya seorang bupati jepara bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV.  Sedangkan ibunya M.A. Ngasirah adalah anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini adalah keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI. Bahkan ada yang mengatakan jika keturunan ayahnya berasal dari tlatah kerajaan Majapahit.

Kartini memiliki 10 orang saudara, baik saudara kandung maupun saudara tiri. Ia anak kelima, merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai bangsawan, Kartini berkesempatan  bersekolah karena memperoleh hak mendapatkan pendidikan, berbeda dengan perempuan pada umumnya, meski usia 13 tahun ia harus berhenti karena dipingit.

Di masa lalu, memang tak ada ceritanya kaum perempuan biasa bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Wanita selalu dipingit, tak boleh keluar rumah. Kondisi itulah yang menimbulkan pergolakan batin bagi seorang Kartini. Dalam bukunya. Kartini banyak mengungkapkan keinginannya memperjuangkan kaum perempuan Jawa yang termarginalkan. 

Meski sudah tak lagi sekolah, bukan berarti Kartini berhenti belajar. Ia membuka wawasannya dengan berlangganan surat kabar, majalah, dan membeli buku-buku. Kegelisahannya terhadap adat dan situasi yang membelenggu kaum bumiputra (demikian Kartini selalu menyebut Indonesia dengan istilah Bumiputra) untuk mendapatkan pendidikan layak, ia ungkapkan dalam surat-surat yang dikirimkan kepada temannya di Belanda, Nyonya Abendanon. Dalam salah satu suratnya, Kartini mengutarakan tentang pendidikan sebagai kewajiban yang mulia dan suci.

Pemikiran Kartini tentang Pendidikan

Mengutip tulisan Agus Widiarto, Direktur Center For Historical and Policy Studies (CHIPS) yang dimuat di Koran Republika (19/04/2016), bahwa sebagian besar pemikiran Kartini dipengaruhi oleh realitas sosial di sekitarnya, juga interaksi gagasannya dengan rekan-rekannya di Belanda. Meski demikian, sifat progresif tersebut juga diwarisi dari ayahnya, bahwa pendidikan sebagai instrumen penting kemajuan bangsa dan ilmu pengetahuan adalah pintu kebahagiaan individu dan masyarakat. Hal itu tampaknya begitu membekas dalam diri Kartini.

Sebagai seorang Bupati Jepara, Ayah Kartini menyekolahkan semua anaknya ke sekolah Belanda, Europese Lagere School. Akses dan fasilitas pendidikan yang diperoleh Kartini itulah yang semakin membukakan pandangannya bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan begitu penting bagi kemajuan bangsanya, terutama kaum perempuan.

Dalam usianya yang masih belia, Kartini muda sudah mampu memformulasikan gagasan pendidikan secara filosofis dan sosiologis. Ketika kaumnya sedang terimpit tradisi kolot akibat budaya, dan bangsanya masih terbelenggu oleh rantai kebodohan, ia tuangkan seluruh kegelisahannya itu dalam lembaran surat kepada sahabatnya di Belanda.

Dalam bahasa yang disederhanakan Abendanon sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini seakan-akan mencoba mengubah alam kegelapan yang mengitari bangsanya, dikikis habis melalui pendidikan. Hanya melalui pendidikan, bangsanya akan menuju ke zaman terang benderang.

Lebih jauh tentang pendidikan, Kartini juga memiliki pemikiran mendalam. Ia mengerti, bahwa yang terutama bagi manusia adalah moral. Maka, ia mengkritik perilaku guru yang hanya berfokus pada transfer pengetahuan, sehingga melupakan penanaman budi pekerti. Bukankah pemikiran tersebut kompatibel di zaman ini, dimana pemerintah tak henti-hentinya merumuskan formulasi yang tepat untuk pelaksanaan pendidikan karakter?

Kartini adalah Murid Kiai Sholeh Darat

Kehidupan Kartini memang diliputi kemewahan hidup sebagai kaum bangsawan dan priyayi. Namun sebagai penganut Islam, ia sangat membutuhkan pencerahan agama. Apalagi keluarganya dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang memiliki ketaatan dan ketekunan dalam beragama, serta dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang kemungkinan dipengaruhi oleh idiom islam "minadzulumati ilannuri". Sepertinya, buku tersebut adalah usaha Kartini untuk menerjemahkan wahyu ilahiah terhadap pemaknaan kegelapan sebagai kondisi kekufuran menuju kepada cahaya terang sebagai manifestasi bentuk keimanannya kepada Allah.

Sayangnya, ketika ingin mendalami ajaran islam, Kartini bertemu dengan kebuntuan. Dalam mempelajari al-Qur'an, Kartini hanya belajar mengeja dan membaca tanpa mengetahui Isi kandungan al-Qur’an. Hal tersebut membuatnya hampa. Ia mengatakan, belajar al-Qur’an dengan model semacam itu akan menjadikan umat Islam tak akan mengetahui mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya.

Diungkapkan oleh M. Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo Semarang dalam laman nu.or.id, suatu saat ketika Kartini meminta kepada guru ngajinya agar mengartikan al-Qur’an, justru ia dimarahi. Hal itulah yang membuat Kartini menjadi gelisah dan semakin gelisah.

Maka saat masih berumur 20 tahun, kegelisahan itu ia uangkapkan dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang  tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an tanpa mengerti dengan apa yang dibacanya. Saya anggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Kritik Kartini terhadap pembelajaran agama saat itu merupakan bukti nyata betapa Kartini sangat peduli terhadap kuatnya minat mempelajari isi dan esensi agama seperti yang terkandung dalam al-Qur’an. Jika Kartini menjadi sedemikian penasaran dengan isi al-Qur'an, itu hal yang wajar. Sebab, kala itu belum ada tafsir al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa.

Lanjutan kalimat Kartini dalam suratnya: “Sama halnya ketika kamu mengajari saya membaca buku bahasa Inggris, tanpa kamu terangkan artinya kepada saya. Kalau saya ingin mengenal dan memahami agama saya, saya harus pergi ke negeri Arab untuk belajar bahasa di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?

Kalimat itu jelas menandakan tak berdayanya Kartini dalam memahami bahasa Arab. Kartini dipusingkan dengan bahasa Arab dan dibikin penasaran oleh kitab suci agamanya yang berbahasa Arab. Maka ia rindu negeri Arab untuk belajar bahasa arab di sana. Tapi apakah mungkin? Sebab sebelumnya, harapan ke Belanda dengan bahasa yang telah dikuasainya saja gagal dan digantikan Agus Salim.

Tak ada jalan lain, Kartini menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi al-Qur’an kepadanya. Siapakah dia? Dialah Mbah Sholeh Darat, seorang kiai yang merupakan guru dari pendiri organisasi besar di negeri ini: NU dan Muhammadiyah.

Kisah tentang sosok Raden Ajeng Kartini dilukiskan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) dalam Kitab karangannya, Tafsir Faidlur Rahman. Mbah Sholeh Darat adalah kiai yang telah membuka wawasan dan pemahaman Islam R.A. Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci maknanya dibukakan dengan gamblang oleh Mbah Sholeh Darat sehingga Kartini dapat memahaminya. (*)

Saturday, April 13, 2019

Manusia itu Bukan Kambing, Maka Belajarlah!

Hakekat Belajar bagi Manusia
Belajar di Alam Terbuka
Tuhan menciptakan seremeh apapun makhluk di muka bumi ini tak ada satupun yang sia-sia. Manusia sebagai khalifah dapat belajar pada alam semesta. Ketika melihat langit terbentang di cakrawala, dedaunan yang gugur, matahari menyinari bumi, hujan turun dari langit, desiran angin, gejolak ombak, burung-burung beterbangan di angkasa, itu semua adalah media pembelajaran bagi manusia.
Kalau Anda berkecimpung dalam dunia pendidikan, atau paling tidak pernah bersentuhan dengan dunia penerbit dan perbukuan, Anda tentu tak asing dengan kalimat matematika berikut: B – B = 0, yang diterjemahkan menjadi Belajar Tanpa Buku adalah Omong Kosong. Kalimat itu bisa ditemukan dalam sebuah kalender milik sebuah perusahaan penerbitan terkemuka, yang kerap berhubungan dengan dunia sekolah.

Awalnya, saya tidak mengalami peristiwa apa-apa ketika membaca kalimat itu. Namun ketika mencoba merenungkan dan menghela nafas sejenak, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal. Pertanyaan yang kemudian begitu menggelitik, betulkah buku adalah sesuatu yang vital, sehingga tanpa buku seorang manusia tidak akan bisa belajar? Betulkah belajar tanpa didampingi buku, akan menyebabkan manusia tak akan memperoleh hasil apa-apa, selain hanya omong kosong belaka?

Saya kemudian mencoba melakukan semacam transendensi. Bahwa penerbit yang sebagian besar produknya adalah buku-buku sekolahan itu sedang menjalankan strategi marketing. Artinya, sesungguhnya kalimat itu lebih ditujukan kepada mereka yang terlibat dalam dunia akademisi. Lebih jauh, penerbit tetaplah bagian dari dunia kapital. Itulah sebabnya, harus ada ide kreatif agar eksistensinya dikenal pasar atas produk-produk yang diterbitkan, sehingga tetap bisa hidup dan berkembang.

Namun satu hal yang harus digarisbawahi, kalimat yang dipopulerkan itu harus dipahami bahwa ia tidak bisa digeneralisir. Bukankah Sang Nabi Saw. pernah bersabda, bahwa mencari ilmu (baca; belajar) tidak dibatasi usia. Bahwa kewajiban mencari ilmu berlaku untuk setiap makhluk yang bernama manusia, dan tidak hanya didominasi oleh mereka yang kebetulan diperkenankan mengenyam bangku sekolah?

Maka, pada tulisan ini saya lebih memfokuskan kaitan antara belajar dan buku jika dihubungkan dengan kemanusiaan secara utuh.

Buku dan Kemanusiaan
Tak dimungkiri, bahwa belajar adalah hal yang sangat esensial dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi intelektualitas, tentu harus belajar untuk mempertahankan harkat kemanusiaannya. Ia harus secara ajeg melakukan aktifitas itu selagi hayat masih dikandung badan. Permasalahannya kemudian, bagaimana manusia harus belajar? Apakah jalan satu-satunya belajar adalah dengan melalui sebuah lorong yang bernama sekolah, dimulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi? Dan dengan demikian, manusia tak memiliki kemungkinan lagi untuk memasuki lorong-lorong yang lain?

Dilihat dari ranah kognitif, belajar adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk merubah dari kondisi tidak tahu menjadi tahu. Ketika seseorang tidak tahu terhadap disiplin ilmu tertentu, ia bisa belajar dengan menggunakan bantuan media, baik yang berupa sekolahan, guru maupun buku-buku secara umum. Pengertian belajar dari sudut pandang ini sifatnya parsial. Artinya, ilmu yang diperoleh masihlah ilmu al-madrasah, masih berada dalam tahap pengetahuan, dan tak ada jaminan apakah pengetahuan itu akan diterjemahkan kedalam sikap maupun perilaku, apalagi akhlak.

Bukti konkrit adalah keadaan riil sosial masyarakat pada zaman modern seperti sekarang ini. Betapa peningkatan jumlah sarjana-sarjana universitas ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan moral atau akhlak. Bukankah tiap hari dapat kita saksikan melalui layar televisi, melalui media massa, maupun media-media lainnya betapa degradasi moral telah demikian akutnya merambah kebudayaan masyarakat, bahkan terhadap semua strata?

Namun ada model belajar yang kedua, ialah belajar dengan pengertian secara integral dan utuh. Proses dimana manusia berusaha sedemikian rupa untuk secara terus menerus memahami kemanusiaannya. Tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia ada, dan akan kemana ia harus mengarahkan hidupnya. Belajar dengan pengertian semacam ini sungguh berbeda dengan pengertian yang pertama. Manusia sebagai makhluk yang memiliki sifat-sifat ketuhanan dituntut untuk setia kepada hati nuraninya, dan tentu saja ia harus menghidupkan sedemikian rupa potensi pada dirinya untuk menghayati dan merenungi segala sesuatu yang tersebar di alam semesta.

Pada tahap ini, yang diutamakan bukanlah mengetahui, tapi mengalami. Yang penting bukan pengetahuan, namun pengalaman. Inilah yang dinamakan ilmu al-hayat, ialah ilmu kehidupan. Maka keberadaan buku, guru atau sekolahan bukan menjadi sesuatu yang niscaya. Ia bahkan menjadi hal yang boleh tidak ada. Kecuali buku dalam tanda petik, berupa ayat-ayat qauliyah yang telah diturunkan olehNya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Tuhan menciptakan seremeh apapun makhluk di muka bumi ini tak ada satupun yang sia-sia. Manusia sebagai pemegang khilafah dapat belajar pada alam semesta. Ketika melihat langit terbentang di cakrawala, dedaunan yang gugur, matahari menyinari bumi, hujan turun dari langit, desiran angin, gejolak ombak, burung-burung beterbangan di angkasa, itu semua adalah media yang disediakan Tuhan untuk proses pembelajaran manusia.

Lebih dari itu, manusia juga bisa belajar kepada dirinya sendiri, kepada kesalahan-kesalahan masa lalu, kepada pengalaman-pengalaman, dan bahkan kepada setan atau iblis sekalipun. Bukankah setan yang notabene telah menyatakan perlawanan kepada-Nya ternyata masih takut kepada Tuhan? Bandingkan dengan perilaku kehidupan kebanyakan manusia-manusia saat ini. Bukankah mereka mengakui Tuhan? Namun apakah segala perilaku dan budaya hidup sehari-harinya telah mencerminkan rasa takut kepada-Nya?

Maka, belajar itu memang perlu, dan bahkan harus. Tanpa belajar, manusia hanyalah akan menjadi organ yang mati, dan ia sama sekali tak berbeda dengan batu, keledai, kambing, atau mungkin kucing. Maka jika tak ingin sama dengan kambing, jalan satu-satunya adalah terus belajar. Kitalah yang akan menentukan siapa kita, bukan orang lain.(*)

Friday, April 12, 2019

Sentilan Gus Baha': Antara Kematian dan Pilihan Presiden

Antara Kematian dan Pilpres
Gus Baha' atau lengkapnya KH. Baha'udin Nursalim
Memakai kopiah hitam yang ditarik agak ke belakang, mengenakan kostum kemeja putih berlengan panjang dengan bolpen di saku bajunya, tak ketinggalan senyum tersungging menghiasi wajahnya. Itulah penampakan khas Gus Baha’. Sangat biasa. Sangat sederhana. Gus Baha' adalah fenomena baru dengan kajian-kajiannya yang menggelitik. Tak jarang, kajian-kajian itu banyak dibagikan di media sosial mencermati fenomena yang berkembang di masyarakat.

Seperti ketika pilihan presiden menciptakan kehingar-bingaran dalam kehidupan sosial, kemudian masing-masing pihak saling mengklaim paling baik dan paling benar atas capres yang didukungnya. Apa yang dikatakan Gus Baha' kemudian? Beliau menyamakan kematian dan pilpres. Lho, kok bisa?

“Ada orang bilang, 'Saya jangan meninggal dulu, jika saya meninggal, bagaimana nasib anak istri saya?' Itu pernyataan apa? Mati ya mbok mati saja. Tak usah lebay. Mati itu kehendak Gusti Allah. Jika mati, jenazahmu ya diurus, diantar ke kuburan, setelah dikubur lalu ditahlili, selesai."

Tapi, bagaimana dengan nasib anak dan istri saya?

“Kamu kok gak percaya sama Gusti Allah, sih. Kalau kamu mati, nasib anak istrimu itu urusan Allah. Kan faktanya banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, perempuan yang dulunya miskin, sengsara, hidupnya kembang kempis, begitu ditinggal mati oleh suaminya, ia menikah lagi dengan laki-laki lain. Ternyata setelah menikah lagi, hidupnya tambah baik, menjadi tambah kaya dan bahagia. Anak-anaknya juga begitu, ia mempunyai bapak baru yang lebih sayang, lebih terhormat, dan lebih kaya." tutur Gus Baha'.

“Makanya, gak usah lebay dan didramatisir. Biasa saja. Jika ente mati, ya mati saja. Kok seakan-akan kematianmu itu menyebabkan nasib orang lain menjadi semakin buruk. Ada-ada saja."

Lantas, apa hubungannya kematian dengan pilihan presiden?

“Nyoblos, ya nyoblos saja. Gak usah sok-sokan mengklaim jika si Anu terpilih jadi presiden, hidupmu sejahtera, rakyat kecil akan sentosa. Mana ada ceritanya rakyat terjamin hidupnya gara-gara presiden? Apalagi sampai bilang, kalau si Anu ndak terpilih jadi presiden, bagaimana nasib Islam kelak?"

"Itu pernyataan sembrono. Itu pernyataan sangat-sangat ngawur. Sejarahnya, islam itu pernah ditinggal wafat oleh Kanjeng Nabi, oleh para sahabat, oleh orang-orang saleh. Apakah islam menjadi lebih buruk, menjadi tak terurus dan ditinggal penganutnya? Nyatanya tidak. Islam makin baik karena itu sudah merupakan kehendak Allah. Islam makin banyak penganutnya. Itu sudah ketetapan Allah. Islam sama sekali tak ada urusannya dengan capres pilihanmu itu."

“Jadi, milih itu ya milih saja. nyoblos ya nyoblos saja. Sewajarnya saja. Gak usah lebay. Jadi orang itu yang biasa-biasa saja.”

"Silakan yang mau ikut pilpres. Milih baik, gak milih juga baik. Jangan merasa jika kamu memilih, terus kamu menjadi mulia. Jika kamu kerja bakti saja gak pernah ikut, sedekah maunya juga yang ngirit, malas dan jarang membantu orang, pelitnya tujuh turunan, sukanya menjelek-jelekkan orang, punya hobi memfitnah sana-sini, cuma karena merasa ikut nyoblos pilpres saja kok merasa lebih mulia dibanding orang lain."

"Padahal, siapa tahu mereka yang gak ikut nyoblos itu, justru yang gemar bersedekah, tak pernah telat menyantuni anak yatim, juga sangat berbakti terhadap orang tua, rajin mengikuti kerja bakti, memiliki andil dalam menyelamatkan lingkungan dengan berbagai program penghijauan, ia juga aktif mengajar, tidak rakus, tidak sombong, dan sebagainya".

"Lha kamu, cuma nyoblos saja kok sombongnya amit-amit. Merasa lebih baik dan lebih mulia dari yang gak nyoblos. Sejak kapan kebaikan dan kemuliaan manusia diukur hanya dari urusan cuma coblos-coblosan? Jadi orang kok sembrono.."

Siapakah Gus Baha'?
Gus Baha’ atau lengkapnya KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Beliau merupakan santri kesayangan Mbah Maimoen Zubair. Prof. Quraish Syihab, bahkan memuji kecerdasan Gus Baha dan menyebutnya sebagai sosok langka karena menguasai tafsir dan fikih sekaligus.

Ihwal belajar ilmu agamanya, Gus Baha' menghafal Al Quran kepada ayahandanya, Kiai Nursalim di Kragan, Rembang. Selanjutnya, ia melanjutkan pengajiannya di pesantren Mbah Moen Rembang. Di bawah asuhan Mbah Moen itulah, Gus Baha' menghafalkan berbagai kitab klasik, mulai dari Fathul Mu’in yang merupakan kitab fiqih, juga Shahih Muslim lengkap beserta matan dan sanadnya dalam hadis, serta kitab-kitab lain. Tak ketinggalan adalah pelajaran tata bahasa Arab seperti Imrithi dan Alfiyah yang lazim diajarkan di pesantren, tandas dihafalnya.

Sekalipun hanya mengaji di pesantren, kepakaran Gus Baha mulai meramaikan jagat intelektual Islam Indonesia. Seperti dikutip dari alif.id, Gus Baha' masuk dalam jajaran Dewan Tafsir Nasional, Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, Penasehat BAZNAS, dan lain-lain. Konon, beliau juga pernah ditawari gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Indonesia (UII), namun ditolaknya. Gus Baha adalah produk pesantren Indonesia, dengan kealiman yang pilih tanding.

Penampilannya yang sederhana, justru menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat. Tak ada serban yang menjuntai ataupun jubah. Bahkan, cara memakai pecinya yang agak semrawut, seperti santri yang sedang leyeh-leyeh di serambi asrama. Kemewahannya adalah sikap tawadlu'-nya, juga kepiawaiannta saat mengutip beragam referensi kitab-kitab klasik.(*)

Tuesday, April 2, 2019

Honorer Bukan Pengemis: Balada Seorang Guru Honorer

Guru Honorer Menuntut SK Pengangkatan dari Bupati

Pada suatu waktu di bulan april tahun kesekian, Kepala Sekolah mengumumkan bahwa guru honorer tidak lagi bisa menerima gaji untuk bulan ini. Juknis BOS sebagai pedoman pengelolaan dana BOS di sekolah menyatakan, bahwa sekolah boleh mengeluarkan gaji untuk guru honorer sebesar 15% dari dana bos yang diterima. Itu pun dengan syarat guru honorer memiliki SK Pengangkatan dari Bupati atau Dinas Pendidikan. Kata kepala sekolah, kebijakan itu berlaku surut mulai bulan januari.

“Mengapa kami tidak bisa menerima gaji, Pak?” tanyaku ketika itu.

Kepala sekolah lantas menjelaskan, setelah dihitung berdasarkan dana bos yang di terima oleh sekolah, dana tersebut dibagi dengan jumlah guru honorer yang berjumlah 18 orang. Hasilnya, sekolah hanya boleh membayar 15.000/jam pelajaran. Sedangkan selama ini guru honorer telah menerima 30.000/jam pelajaran, dan sudah dibayarkan dari bulan januari.

“Seharusnya, bapak ibu guru honorer mengembalikan setengah dari gaji yang telah diterima selama 3 bulan. Tapi tak mungkin itu saya lakukan. Jadi saya buat kebijakan agar bapak ibu tidak perlu mengembalikan. Caranya, bapak ibu guru honorer dengan terpaksa harus tidak menerima gaji selama 3 bulan untuk membayar hutang dari gaji yang telah diterima.” tutur kepala sekolah menjelaskan.

“Ya Tuhan, baru kali ini aku tahu ada pekerjaan semacam ini, seperti bekerja dengan penjajah saja.” batinku bergejolak, “Tapi sudahlah, terpaksa pekerjaan ini harus tetap kujalankan. Kalau tidak, bagaimana caraku bisa membayar hutang yang tiga bulan itu?” aku membatin.

Dengan rasa malu sekaligus sedih, kusampaikan berita ini pada anak-anakku yang sudah menunggu ibunya pulang gajian saat itu. Raut kekecewaan terpancar jelas dari muka mereka.

“Yaa, gak jadi makan ayamlah kita besok.” begitu reaksi si bungsu.

“Kakak gak mau ke sekolah besok pagi, pasti nanti ditagih uang buku lagi sama bu guru. Kan malu belum bisa bayar.” ganti si sulung menunjukkan reaksinya.

“Lalu, selama tiga bulan ke depan ini, bagaimana cari bunda mengisi bensin buat transportasi pergi ke sekolah?” suami, ayah dari anak-anakku turut menimpali.

Aku hanya bisa tertunduk dan tersenyum kecut mendengarkan reaksi dari semuanya. Bagaimana bisa aku menjawab, sedang aku sendiri bingung memikirkan ibu warung sebelah rumah yang sudah menagih janjiku untuk bayar bensin bulan ini.

Dalam kegalauanku itu, aku tiba-tiba teringat dengan sahabatku yang memiliki suami seorang kepala sekolah. Aku coba untuk menghubunginya, sekedar curhat, siapa tahu ada solusi untuk masalah yang aku alami saat itu. Segera saja aku ambil handphone di atas meja.

“Assalammualaikum.” sapaku ketika telepon telah tersambung.

“Waalaikumsalam.” jawab suara di seberang sana. Ternyata yang mengangkat telepon adalah suami sahabatku sendiri. Kebetulan sekali, jadi aku bisa berkomunikasi secara langsung.

“Yati lagi di kamar mandi bu, nanti saya suruh telpon ibu balik ya.” kata Pak Iwan, suami sahabatku itu.

“Maaf pak, sebenarnya saya perlunya sama bapak.”

“Ohh, ada yang bia saya bantu, bu?” jawabnya santun.

“Saya mau menanyakan tentang kebijakan dana bos untuk honorer yang dibatasi 15 %," tanyaku selanjutnya. "Bagaimana kebijakan itu diterapkan di sekolah bapak? Soalnya, di sekolah kami terjadi pemotongan gaji hingga separuh. Dan itu berlaku surut mulai bulan januari. Akibatnya, honorer di sekolah kami tidak menerima gaji hingga bulan juni untuk membayar gaji yang sudah terlanjur kami terima.”

“Memang seharusnya begitu, bu. Harus disesuaikan pendapatan sekolah melalui dana BOS dengan jumlah guru honorer, untuk menggaji sesuai dengan ketentuan pemerintah. Tapi di sekolah saya, tidak ada pemotongan, saya malu memotong gaji honorer yang cuma sedikit. Jadinya saya mengambil kebijakan membayar penuh dengan mengambilnya dari pos-pos lain yang bisa ditekan pengeluarannya.” ujar Pak Iwan menjelaskan.

“Bukannya itu berarti memanipulasi data, pak?” tanyaku heran.

“Memang betul, bu. Itu memanipulasi data. Tapi demi rasa kemanusiaan, saya akan tanggung resikonya. Kalau memang dianggap berdosa, saya siap. Allah Swt. maha tahu dengan semua yang kita lakukan, dan tentu memiliki penilaian tersendiri untuk itu.”

“Terima kasih penjelasannya, Pak. Maaf telah menggangu istirahat bapak.” ujarku sembari menutup telepon.

Dengan bermodalkan sedikit keberanian, esok harinya aku mencoba untuk menyampaikan informasi itu kepada kepala sekolahku. Aku tahu, pasti reaksinya akan sangat tidak mengenakkan. Tapi biarlah, demi aku dan kawan kawanku. Aku membatin.

Benar saja dugaanku, ketika informasi itu aku sampaikan kepada kepala sekolah, beliau menganggapku sebagai pembankang. Ia tak rela jika kepemimpiannya dibanding-bandingkan dengan orang lain

“Itu kebijakan di sana, kepala sekolahnya dia. Sedangkan di sini, kepala sekolahnya adalah saya. Kalau ibu tidak setuju dan tak senang dengan kebijakan saya, silahkan mengundurkan diri. Sudah banyak yang ingin mendaftar diri untuk menggantikan ibu disini.” tutur Kepala Sekolah dengan suara keras.

Aku hanya menunduk. Setelah berpamitan dan meminta maaf, aku keluar dari ruangan kepala sekolah dengan air mata berderai. Kalau tidak karena hutang ini, dan takut memberatkan keluarga, sudah kutinggalkan pekerjaan mulia, tapi sekaligus menghinakanku ini.

Demi menyambung nyawa selama tiga bulan tak bergaji, kuberanikan diri melalukan apapun saja yang bisa dilakukan untuk menyambung hidup, sekedar membantu suami yang penghasilannya tak seberapa. Tiga bulan kulalui bersama kawan-kawan honorer lainnya dengan tabah, dan tentu saja dengan deraian air mata.

Hingga tibalah bulan juli. Saat itu libur ramadan, seluruh dewan guru diundang oleh Kepala Sekolah via telpon untuk berkumpul di sekolah, tanpa terkecuali. Di ruangan rapat, Kepala Sekolah memberikan pengumuman kepada seluruh guru, terutama untuk guru PNS.

“Bapak dan Ibu Dewan Guru, terutama untuk guru PNS dan telah bersertifikasi. Alhamdulillah, dana Tunjangan Profesi Guru telah cair bersamaan dengan dana THR. Untuk itu, saya minta kepada bapak ibu agar mengikhlaskan dengan menyisihkan sebagian rezeki tersebut untuk disumbangkan pada guru-guru honorer, agar guru-guru honorer juga merasakan nikmat yang sama." kata kepala sekolah.

Semua guru PNS mengangguk, meskipun tak ada yang tahu dengan kondisi batin mereka.

Sedangkan aku dan kawan-kawan honorer lainnya, tanpa ada komando, serentak berdiri, meskipun dengan air mata meleleh. Apalagi ketika salah seorang guru honorer perempuan yang sedang mengandung tiba-tiba saja mengeluarkan suara.

“Maaf Bapak Kepala Sekolah. Saya memang orang susah, tapi saya tidak akan membiarkan anak saya memakan uang belas kasihan. Kami bukan pengemis, pak. Kami adalah guru yang sama-sama bekerja memanggul beban dalam mencerdaskan anak bangsa. Gaji yang kami peroleh memang tak ada apa-apanya jika dibanding gaji bapak ibu PNS sekalian yang telah sertifikasi. Tapi sekali lagi, saya tak butuh belas kasihan, bapak!”

Ruangan rapat akhirnya riuh dengan kejadian tak terduga itu. Bahkan ada guru PNS yang langsung bangun dari duduknya, dan memeluk kami satu persatu sebagai bentuk dukungannya.

Melihat kejadian itu, kepala sekolah akhirnya meminta maaf. Ia menjelaskan tentang niat sebenarnya tidak semacam itu. Tapi keadaan sudah tidak bisa dikuasai, semua dewan guru keluar dari ruangan satu persatu.

Satu kalimat yang terucap dari bibir temanku saat itu dan terus kuingat hingga kini: "Kami memang guru honorer, tapi kami bukan pengemis." (*)

*) Tulisan di atas bersumber dari tulisan Leny Bunda Kemri yang dibagikan di Grup Facebook Komunitas Bisa Menulis, dengan sedikit editing bahasa dan kalimat.

Wednesday, March 27, 2019

Alangkah Indah Hidup di Desa


Zaman dahulu kala, ketika teknologi informasi belum semoncer sekarang, menjalani kehidupan di desa (apalagi desa terpencil yang jauh dari pusat ibu kota) ternyata gampang-gampang susah. Di satu sisi, hidup di desa memang nyaman jika dibandingkan dengan hidup di kota yang kebak polusi. Namun di sisi lain, akses untuk menyerap informasi ternyata tidak segampang sebagaimana di kota.

Kasus yang kerap menghampiri waktu itu, ketika menginginkan sebuah buku, atau yang paling ringan adalah selembar koran (terutama koran minggu khusus untuk mengontrol tulisan), secercah resah acap kali terasa. Bagaimana tidak? Saya harus menempuh jarak sekian kilometer, itupun yang bisa diperoleh hanyalah koran nasional semacam Jawa Pos atau Kompas. Sementara untuk Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, serta beberapa koran nasional yang lain sukarnya bukan main. ”Harus langganan dulu, Bung. Soalnya kalau dijual umum, koran-koran itu hampir tidak laku.” itu jawaban yang kerap saya peroleh dari masing-masing agen. Jawabannya nyaris sama. Sungguh mengenaskan. 

Memang, menemukan agen yang khusus menjual bahan bacaan di desa bukanlah perkara mudah. Hampir jarang ditemui ada agency yang menjual buku, koran atau majalah. Bahkan dalam satu kecamatan pun, para penjual koran bisa dihitung dengan jari. Pedagang tetaplah manusia yang selalu mengedepankan untung rugi. Mereka cenderung memilih menjual barang yang laris manis semacam vcd lagu dangdut koplo atau goyang ngebornya artis-artis hot, ketimbang menjual koran yang belum tentu laku. Apalagi buku yang setahun berlalu belum tentu disentuh.

Ini barangkali hanyalah akibat dari problem klasik yang kerap melanda penduduk negeri ini: apalagi kalau bukan rendahnya minat baca masyarakat.

****

Tapi memang begitulah hidup di desa. Mungkin bagi sebagian orang, hidup di desa itu susah, terutama bagi mereka yang tak pernah bersentuhan dengan udara desa sepanjang hidupnya, dan lebih menikmati gemerlapnya kehidupan kota. Tapi saya pribadi lebih memilih hidup di desa daripada di kota. Meski untuk mendapatkan selembar koran saya harus ‘berjuang’ keras mendapatkannya, itu adalah irama keasyikan tersendiri bagi saya.

Saya teringat sepucuk surat yang pernah ditulis oleh seorang kawan,” Bung, meski sampean di desa, jangan pernah berhenti bercengkrama dengan kata-kata. Teruslah menulis. Kau tahu Zawawi Imron, bukan? Kenapa di depan namanya terpampang huruf D. Itu lantaran sedemikian dahsyatnya ia dalam berkarya. Kau tahu, Kawan. Ia bahkan rela berjalan kaki puluhan kilometer dari desanya di Guluk-guluk Sumenep hanya untuk membeli sebuah koran untuk mengecek tulisan-tulisannya. Dan ketika si Celurit Emas itu namanya telah berkibar ke seantero negeri, ia tak hendak hijrah dari tempat tinggalnya. Ia tetap memilih tinggal di desanya dengan intensitas budayanya.

Dan kau pasti kenal dengan almarhum Hardjono WS. Lelaki kelahiran bondowoso itu, yang naskah teaternya pernah terpilih oleh UNESCO mewakili naskah teater anak Indonesia di terbitkan dalam kumpulan “TOGETHER IN DRAMLAND” bersama 14 penyair Asia Pasifik, yang beberapa kali menjadi penyair favorit Surabaya dan pernah mendapatkan award of teater dari LIA (Lembaga Indonesia Amerika) lewat Dewan Kesenian Jakarta tahun 1978. Bukankah ia tetap istiqamah untuk tetap tinggal di desa?

Bagi Hardjono, semilir angin di desa, gemericik air yang mengalir dari pegunungan, udara yang sejuk dan bersahabat, itu semua adalah sumber inspirasi yang mengilhami puisi-puisinya.”

Begitu juga dengan Herry Lamongan, begawan puisi yang kesetiaannya berpuisi tak diragukan, yang kebersahajaan puisinya kerap lahir dari secangkir kopi. Namanya sekarang populer di kalangan sastrawan akibat karya-karyanya yang berserakan dimana-mana. Bukankah ia tak hendak hengkang dari tanah kelahirannya, kampung lamongan yang dulu kerap dihina-hina. Bukankah ia justru mencantumkan Lamongan itu bersanding dengan namanya?

***

Dan sampai hari ini, ketika waktu masih memperkenankan saya mengikuti perputaran bulan dan matahari. Ketika takdir menyeret saya pada ketentuan hidup yang tak mungkin ditawar-tawar, saya tetap masih hidup di desa, bahkan sehari-harinya harus menyusuri sebuah desa sangat terpencil yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata demi menjalankan tugas. 

Desa masihlah energi yang selalu mengiramai denyut jantung. Tapi entahlah, beberapa waktu terakhir, saya merasakan udara desa tidak senyaman dulu. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan desa sebagaimana yang pernah saya rasakan sebelumnya. Apalagi modernisasi dengan segala bala tentaranya telah merenggut nafas anggun desa, hingga yang tersisa hanyalah kenangan demi kenangan.

Apalagi ketika wajah-wajah di baliho itu semakin lama semakin bertebaran.....***

Wednesday, March 6, 2019

Jalan Lain Kampanye Melalui Buku


Pentas politik kian riuh menjelang pileg pilpres 2019. Meski kampanye terbuka belum dimulai, berbagai upaya telah dilakukan oleh caleg untuk mendapatkan suara. Di pelbagai tempat di segala penjuru arah, tampang para caleg di poster atau baliho bertebaran di mana-mana. Wajah-wajah ganteng, ayu, elok, nan rupawan. Tentu saja dibumbuhi dengan kata-kata yang sebaik-baiknya.

Memang, untuk memperoleh suara signifikan pada pemilu 17 April mendatang, calon legislatif tak boleh berpangku tangan. Mereka harus menyusun strategi efektif agar namanya dikenal oleh khalayak, terutama di daerah pemilihannya. Dan itu, tentu butuh biaya yang tidak sedikit.

Sayangnya, upaya para caleg dalam menarik calon pemilih itu cenderung narsis. Dalam atribut kampanyenya (terutama baliho), rata-rata memampangkan gambarnya dengan mencanangkan kalimat sebagai pembela rakyat dengan menonjolkan diri sebagai yang paling jujur, paling oke, paling mampu, paling baik, paling cerdik, dan lainnya.

Padahal bagi sebagian besar orang, dengan semakin terbukanya era informasi dan pengetahuan masyarakat, kata-kata itu bukan hanya tidak menarik, bahkan cenderung “memuakkan”. Kenapa tidak mencari cara lain, bagi-bagi uang, eee. .sory stypo, bagi-bagi buku umpamanya

Dulu sekali, pada perhelatan politik 2009, Muhidin M. Dahlan menuturkan seorang aktifis buku Diana A.V. Sasa yang nyaleg (2019 kembali nyaleg) dan telaten membagikan 20 buku pada setiap rumah yang didatangi tiap harinya. Sasa memutuskan diri memasuki dunia politik praktis dengan hanya berbekal tiga amunisi berupa tenaga, pikiran, dan buku. (Suara Hening Aktifis Buku di Karnaval Politik yang Riuh, JP, 8/03/09).

Di tempat berbeda, caleg DPR RI dari Padang Sumatra Barat memiliki satu lagi tambahan amunisi yang lebih ampuh: apalagi kalau bukan fulus. Pak Caleg menyumbangkan 500 buku ke seluruh kelurahan yang ada di Padang. Setidaknya, ia harus merogoh kocek satu milyar lebih untuk keperluan itu.

Di tempat lainnya lagi, ada caleg DPRD di sebuah kabupaten di Jawa Timur juga menjadikan buku sebagai salah satu media menarik massa. Buku-buku waktu itu semacam Petunjuk Tekhnik Budidaya Tanaman Unggul, dan semacamnya, di terbitkan bekerja sama dengan sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta.

Yang memprihatinkan, ada caleg membagi-bagikan buku bernuansa keagamaan (Buku Yasin, Istighfar dan Tahlil) dengan memampangkan foto, nomor urut partai, dan atribut lain. Tragisnya, caleg yang mengedarkan buku-buku itu beragama non muslim. Tak ayal, MUI pun berang saat itu. Penggunaan simbol agama Islam oleh caleg nonmuslim dinilai telah melanggar etika keagamaan.

Tak ada yang salah dengan caleg bagi-bagi buku. Bahkan adalah angin segar ketika calon anggota dewan itu memiliki greget pada dunia perbukuan dengan berupaya meningkatkan minat baca masyarakat (setidaknya dengan membagi-bagikan buku secara gratis).

Entah dengan 2019. Kalangan perbukuan dan pecinta buku tentu berharap ada caleg yang turut berkomitmen untuk mengangkat permasalahan literasi yang akut di negeri ini, dengan berkampanye tak hanya melalui baliho, tapi juga lewat buku. Namun, tak usahlah jual tampang dengan memasang gambar pada lembaran buku.

Tak penting siapa engkau. Engkau tak cukup terwakili dengan hanya gambar atau foto dirimu. Dirimu adalah keseluruhan perilaku yang telah engkau lakukan. Maka, adakah caleg yang berani membuang “diri”nya dalam Pileg mendatang, minimal dengan tak memamerkan wajahnya? Kita lihat saja!***

Pentingnya Website Sekolah Sebagai Sarana Penunjang

Pentingnya Website Sekolah Sebagai Sarana Promosi
Salah satu Contoh Website Sekolah
Pendidikan memang harus berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi. Teknologi diciptakan sebagai buah dari hasil pendidikan. Jadi, sudah sangat wajar jika sekolah memakai produk teknologi untuk mengembangkan sekolah, baik dari kualitas siswa, guru, serta untuk membangun komunikasi intensif dengan orang tua.

Website sekolah adalah salah-satu produk teknologi yang harusnya digunakan oleh sekolah untuk kegiatan pembelajaran. Sangat banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari pengadaan website untuk sekolah. Berikut beberapa alasan mengapa sebuah sekolah harus mempunyai website sebagai sarana penunjang:

Media Informasi

Penyampaian informasi dengan cara online memang selalu lebih cepat jika dibandingkan dengan penyampaian informasi dengan cara offline. Hal ini seiring dengan teknologi smartphone yang bisa mengakses informasi secara online dengan sangat cepat. Itulah sebabnya, kehadiran website sekolah dapat menjadi media informasi yang sangat efisien.

Tujuan penyampaian informasi yang dimaksud tidak hanya untuk siswa, namun juga untuk orang tua siswa. Artinya, dalam satu website bisa dikondisikan boleh diakses secara umum oleh siapapun pengguna, maupun diakses secara khusus oleh warga sekolah, baik guru, siswa, maupun orang tua siswa dengan terlebih dahulu login menggunakan username dan sandi. Hal ini diperlukan jika informasi yang disampaikan berupa informasi internal yang tidak bersifat publik.

Selain itu, manfaat bagi orang tua tentunya akan sangat mudah dalam memilih sekolah yang cocok untuk anaknya kelak. Melalui informasi yang disajikan melalui website sekolah, maka orang tua akan mengetahui sejarah sekolah tersebut, visi misi, prestasi, dan sebagainya. Manfaat bagi siswa sendiri pastinya juga sangat banyak. Selain memperkenalkan dan membiasakan pemakaian produk teknologi berbasis web, siswa juga mempunyai sumber informasi yang tepat untuk mengakses nilai hasil ujian, jadwal ujian, dan sebagainya. Website dapat berisi banyak informasi yang bermanfaat untuk siswa, baik untuk keperluan pendidikan formal, serta untuk pengembangan diri.

Media Aktualisasi Diri

Website bisa berperan sebagai media penerbitan berbagai konten yang bisa dilihat oleh banyak orang. Kondisi inilah yang dapat dijadikan sebagai ajang untuk aktualisasi diri bagi guru, dan para siswa yang berbakat. Misalnya, website sekolah menyediakan ruang khusus untuk menampilkan karya siswa maupun guru baik berupa artikel, cerpen, resensi buku, esai dan lainnya.

Artinya, website sekolah dapat berperan seperti layaknya majalah dinding. Siswa dapat menuliskan banyak hal sebagai bentuk aktualisasi diri. Selain itu, website juga dapat menampilkan galeri untuk menyimpan berbagai macam foto dan video kegiatan sekolah. Misalnya, foto terkait moment menarik seperti ketika sekolah menjuarai event tertentu, kegiatan pelepasan siswa, penerimaan siswa baru, juga kegiatan lainnya. Website dapat menjadi arsip yang dapat diakses kapan saja dan juga dimana saja.

Media Promosi Sekolah


Tak dimungkiri, setiap tahun selalu ada penambahan sekolah baru, baik sekolah swasta ataupun sekolah negeri. Tujuannya agar anak indonesia tersentuh oleh pendidikan formal, terutama di daerah-daerah tertentu. Akan tetapi, kian bertambahnya sekolah ternyata menimbulkan dampak tersendiri, terutama tingkat persaingan antar lembaga yang semakin ketat dalam menerima siswa baru.

Bagi sekolah yang difavoritkan, tentu tak ada masalah dengan hal itu, karena calon siswa justru berlomba-lomba untuk mendaftar di sekolah tersebut. Berbeda halnya dengan sekolah biasa, untuk memperoleh calon siswa, sekolah perlu melakukan promosi pada masyarakat. Dalam hal inilah, media promosi yang baik dan efektif ialah website sekolah. Masyarakat modern pastinya akan lebih senang mengakses informasi dengan online.

Memang, banyak manfaat positif yang bisa diambil dari website sekolah jika dikelola dengan benar. Ironisnya, ternyata sampai saat ini belum semua sekolah mempunyai website sendiri. Berbagai bantuan sarana TIK dari pemerintah, bahkan di alokasi dana khusus pada bantuan operasional sekolah sudah diberikan sebagai alat pancing. Namun, masih banyak sekolah yang belum memanfaatkan hal tersebut. Padahal, sebagai sebagai pendidik kita mesti ingat, bahwa teknologi diciptakan sebagai buah dari hasil pendidikan. Jadi, sudah seharusnya jika guru sebagai agen perubahan mencoba memanfaatkannya dengan membangun sebuah website sekolah yang berkualitas.(*)

*)Digunting dari Buku Mengenal Sekolah Melalui Website
Penulis Deni Ranoptri
DomaiNesia