Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, June 1, 2019

Menjelang Idul Fitri

Cerpen Idul Fitri
Ilustrasi : Matahari Terbenam Menjelang Idul Fitri
“KETIKA Ramadan akan segera berakhir, alam semesta mencucurkan air mata. Langit dengan cakrawalanya tak terbatas tak kuasa membendung air mata. Sementara bumi yang menopang kehidupan umat manusia menangis meraung-raung seperti anak kecil yang ditinggal pergi kedua orang tuanya.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Kiai Saleh, saya dengarkan dua puluh dua tahun silam, saat bersama kakek mengikuti pengajian selepas tarawih yang dilaksanakan di masjid. Kalimat-kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya hingga kini, bahkan ketika telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak.

“Kepergian Ramadan adalah musibah,” kalimat Kiai Saleh terngiang lagi,”Dinamakan musibah, karena ia bulan penuh cahaya yang segala keistimewaan dihamparkan. Doa-doa yang dipanjatkan meluncur menembus langit. Tak ada satupun rintangan yang menyebabkan doa itu tak dikabulkan oleh Tuhan. Sementara kebaikan menjelma bebutiran pahala tikel matikel. Segala siksa dan derita menjadi tertahan dan tertangguhkan.”

Suara-suara Kiai Saleh terus terngiang berloncatan memenuhi ruangan masjid yang tidak seberapa luas. Sebagai anak kecil, saya belum bisa mencernanya ketika itu. Saya hanya duduk disamping kakek sembari mempermainkan tasbih yang biasa dipergunakan untuk wirid. Ketika kalimat-kalimat itu masuk ke telinga saya, sederet tanya justru berkeliweran memenuhi ruang kepala. Mengapa kepergian Ramadan adalah musibah? Bukankah Ramadan tak berbeda dengan bulan-bulan lain yang memiliki keniscayaan bergulir mengikuti irama waktu? Bukankah ketika Ramadan pergi, justru hal itu merupakan pertanda datangnya hari raya. Bukankah hari raya adalah hari kemenangan yang ditunggu-tunggu setelah sebulan penuh mengekang nafsu, berpuasa berjuang mengalahkan rasa lapar dan dahaga?

***

Bagi bocah seperti saya, kehadiran Ramadan memang menyulutkan kegembiraan teramat sangat. Namun kegembiraan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan ibadah. Saya ingat, kebiasaan yang membuat saya bersuka cita ketika Ramadan tiba adalah menjadikan masjid sebagai rumah kedua bagi saya dan teman-teman. Selepas sekolah, kami biasanya langsung menuju masjid melaksanakan shalat dluhur berjamaah, tak kalah dengan bapak-bapak kami yang begitu antusias menyambut Ramadan hingga membentuk shafberderet-deret. Usai berjamaah, kami tiduran di serambi sembari berceloteh hal bermacam-macam laiknya anak kecil. Sebagian teman ada yang bermain skak atau macan-macanan. Ketika matahari terbenam, kami lantas pulang ke rumah masing-masing menunggu azan maghrib untuk menyantap menu berbuka yang telah disediakan oleh orang tua kami di rumah.

Hal paling mengesankan yang terbawa bahkan ketika kami dewasa adalah masa-masa selepas shalat tarawih. Kami tadarus barang sepuluh atau lima belas menit sebelum digantikan para pemuda desa atau bapak-bapak. Selama tadarus itulah, berbagai makanan kecil bisa kami dapatkan. Ada kolak kacang ijo, rondo royal, ote-ote, tahu berontak, getuk lindri, sawut singkong, serta jajanan tradisional lainnya. Makanan itu sengaja dikirimkan oleh penduduk kampung secara bergantian untuk mereka yang bertadarus. Setelah puas menyantap jajanan itu, kami lantas bermain jumpritan dan gobak sodor. Beberapa teman bermain sepak bola di lapangan, mencari jangkrik di sawah-sawah milik penduduk. Ketika dini hari menjelang, kami kembali berkumpul di masjid mempersiapkan alat-alat kotekan. Kami kemudian berkeliling kampung membangunkan ibu-ibu agar mempersiapkan makan sahur untuk keluarganya.

Begitulah, Ramadan akhirnya menjadi bulan yang begitu mengasyikkan. Apalagi saat-saat terakhir menjelang hari raya. Kegembiraan kami sebagai anak kecil semakin bertambah-tambah. Tradisi weweh membuat isi kantong kami akan segera penuh. Kami juga akan mendapatkan baju baru dari orang tua masing-masing sebagai hadiah karena telah mampu berpuasa. Bermacam-macam makanan dan minuman yang jarang ditemui di bulan-bulan lain, akan segera kami rasakan ketika hari raya tiba.

Maka, ketika Kiai Saleh mengatakan bahwa kepergian Ramadan adalah musibah, saya hanya mengernyitkan kening. Saya sama sekali tak mengerti dengan yang dituturkannya itu.

***

Baru ketika usia saya mulai beranjak dewasa, saya lantas mengetahui bahwa yang disampaikan Kiai Saleh itu dilhami ucapan Kanjeng Nabi Muhammad, bahwa Ramadan adalah bulan yang menawarkan berjuta kemuliaan. Sehingga wajar, jika Ramadan meninggalkan kehidupan umat manusia adalah musibah paling besar. Sebab, tak ada jaminan jika manusia dapat kembali menemui Ramadan di tahun-tahun berikutnya.

Namun yang membuat saya sedikit agak tertegun adalah pertanyaan yang tiba-tiba saja dilontarkan oleh anak saya yang masih berumur delapan tahun. Saat saya ceritakan ucapan Kanjeng Nabi itu padanya (tentu saja dengan pemahaman seorang anak kecil), dengan begitu saja ia mempertanyakan hal yang sama, sebagaimana yang pernah membuat saya musykil semasa kecil dulu.

“Mengapa ketika Ramadan akan segera berakhir, langit dan bumi menangis, Ayah?”

“Karena Ramadan adalah bulan penuh cahaya, anakku. Di bulan ini, segala jenis doa dikabulkan, setiap kebaikan dilipatgandakan, setan-setan dibelenggu, dan manusia memperoleh kemungkinan lahir kembali menjadi manusia yang suci dan bersih dari dosa-dosa, karena dosa dan kesalahannya telah diampuni oleh Tuhan semesta alam.” jawaban yang sama saya berikan, meskipun saya bumbui dengan sejengkal pengetahuan baru seiring dengan pertambahan usia.

“Untuk apa manusia harus berpuasa? Bukankah makan dan minum adalah pekerjaan mengasyikkan bagi seorang manusia?" pertanyaan anak saya sekali lagi. Kali ini saya terdiam, sebelum kemudian berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjawabnya.

Entahlah, anak saya ini memang berbeda.Sejak kecil, ia sering kali mempertanyakan hal-hal yang mengusik pikirannya. Memang sedari kecil, sering saya ajak ia berjalan-jalan menziarahi setiap tempat yang menawarkan cakrawala baru bagi perkembangan akal dan pikirannya. Terkadang saya bawa dia ke pantai. Saya ajak dia bercengkrama dengan luasnya laut, dengan ombak berdebur yang saling berkejaran, dengan angin laut yang berhembus kencang menerbangkan bebutiran pasir yang menghampar, dengan matahari yang hampir tenggelam di kaki langit, dengan kelepak sayap camar yang menembus angkasa.

Suatu waktu, saya dedahkan padanya keindahan purnama dengan mencengkramai langit yang dipenuhi gugusan bintang gemintang. Saya perkenalkan padanya hijaunya daun yang menampung tetes-tetes embun yang mengantarkannya menemui cahaya, pada burung-burung berkicau yang menasbihkan simponi pada semesta waktu yang kian bergulir, pada air terjun yang turun dari atas bukit menciptakan suara gemuruh, serta pada keindahan alam yang demikian eloknya.

Terhadap semua itu, tujuan saya hanya satu, ingin mengenalkannya pada asal-usul hidupnya. Bahwa kemegahan alam semesta ini tak mungkin ada dengan sendirinya tanpa adanya zat yang menciptakan. Maka perjalanan itulah yang saya gunakan untuk mengenalkan dia pada Tuhan semesta alam. Saya berharap, ketika sejak dini saya perkenalkan ia pada alam semesta dengan hamparan keindahannya yang niscaya, ia akan memperoleh kesadaran ketuhanan yang berujung pada kekagumannya pada Tuhan. Menurut saya, itulah modal awal yang amat berharga baginya ketika ingin menempuh jalan ketuhanan pada kehidupannya kelak ketika dia telah dewasa.

Maka ketika ia bertanya tentang seluk beluk puasa, saya berusaha mengantarkannya pada situasi terdalam dari hakekat puasa. Saya tak ingin jika anak saya kelak memahami puasa sebagai kegiatan yang hanya menahan lapar dan minum semata. Saya harus menunjukkan, bahwa puasa juga memiliki fungsi sosial yang jelas dalam kehidupan.

“Makan dan minum memang pekerjaan manusia, anakku. Agar ia tetap hidup dan dapat melakukan aktifitas kehidupan sebagaimana mestinya,” jawab saya hati-hati,”Namun suatu saat, manusia juga butuh puasa, agar ia bisa menjadi manusia yang menyenangkan.” .

“Maksud ayah?”

“Kamu tahu kupu-kupu?” anak saya mengangguk.“Kupu-kupu bisa menjadi kupu-kupu yang indah karena bersedia melakukan puasa. Kamu pasti sudah diajari gurumu. Sebelum kupu-kupu berbentuk kupu-kupu, ia masihlah berwujud seekor ulat. Betul bukan?” kembali anak saya mengangguk.

“Kamu tahu anakku, pekerjaan utama ulat adalah makan. Ia makan apa saja yang dihinggapinya. Tak perduli apakah itu dedaunan liar yang tumbuh dari pohon-pohon, ataukah dari tanaman petani yang telah diusahakan sedemikian rupa pertumbuhannya. Ulat tak pernah berpikir apa-apa selain makan. Ketika pekerjaan utama seekor ulat hanyalah makan, keberadaannya begitu dibenci oleh banyak orang. Ulat sangat ditakuti oleh anak kecil sepertimu. Oleh petani, ulat menjadi musuh yang harus dimusnahkan karena mengganggu tanamannya. Itulah sebabnya kenapa ulat menjadi hewan yang harus dibasmi keberadaannya.”

Saya mengambil nafas sebelum kemudian melanjutkan, “Tapi perhatikan ketika ulat bersedia berpuasa beberapa waktu dengan menjadi kepompong, ia akan berubah wujud menjadi kupu-kupu yang sedap dipandang mata. Tak hanya manusia yang begitu suka dengan keindahan warnanya, namun kuncup-kuncup bunga selalu menantikan kehadiran kupu-kupu demi supaya bisa mempersembahkan bebuah dalam kehidupan manusia.”

“Jadi puasa berfungsi merubah manusia menjadi kupu-kupu?” dengan lugunya anak saya bertanya.

Saya tersenyum,“Betul, anakku. Puasa memang merubah manusia menjadi kupu-kupu, namun dalam sifatnya. Maka kelak ketika engkau dewasa, engkau harus mampu puasa dalam segala bentuknya, agar engkau bisa menjadi kupu-kupu dan lulus menjadi manusia.”

***

Beberapa waktu kemudian, selepas berbincang-bincang dengan anak saya itu, denyar kerinduan tiba-tiba saja begitu menyengat jiwa saya pada Ramadan kali ini. Entahlah, harum tanah pedesaan, bau apek tikar masjid, gema teriakan anak-anak kecil ketika bermain petak umpet menyeruak begitu saja ke permukaan tanpa bisa dihalang-halangi, membuat kenangan puluhan tahun silam itu mencuat kembali ketika perjalanan waktu mengantarkan kehidupan saya seperti sekarang ini. Tiba-tiba saja saya ingin segera pulang ke kampung halaman. Maka tak seperti biasanya, kurang satu minggu sebelum lebaran, sengaja saya niatkan mudik lebih awal. Disamping agar bisa leluasa bersilaturrahmi dengan sanak famili, yang terpenting sesungguhnya saya ingin merasakan kembali kenangan masa lalu itu.

Namun apa lacur, baru sehari merasakan udara di kampung, saya hanya mampu memungut perih. Alih-alih bisa merasakan kenangan masa kecil, justru kegetiran demikian pahit yang saya rasakan. Seiring dengan perjalanan waktu, semuanya telah berubah. Masjid yang dulu bangunan kuno tempat saya berdiam diri selama Ramadan bersama teman-teman, kini berdiri megah dengan arsitektur tak kalah dengan masjid yang ada di kota. Suasana masjid lengang ketika siang hari. Tak ada lagi celotehan riang bocah-bocah kecil bermain skak atau macan-macanan.

Ketika malam menjelang, hanya ada bapak-bapak renta yang melaksanakan tadarus dengan suara terbata-bata. Kata Kang Wagiman ketika saya berbincang dengannya selepas taraweh, saat ini para pemuda enggan berlama-lama tinggal di kampung ketika mereka beranjak remaja, mereka lebih tergiur mengais rezeki pada gemerlapnya kota dan baru pulang kampung ketika lebaran akan tiba. Kian malam, masjid kian sepi. Tak ada lagi anak-anak kecil berkumpul dan kotekan menjelang sahur. Anak-anak sekarang lebih suka berdiam diri di rumah sembari bermain game atau menikmati acara-acara televisi.

Dan malam ini, rasa perih itu kian menikam. Ketika sedang bertadarus, seorang tetangga mengabarkan bahwa baru saja terjadi peristiwa menggemparkan di desa sebelah. Seorang anak yang masih SMP tega menusuk bapaknya dengan pisau dapur. Si anak minta sepeda motor. Bukannya si Bapak tak mau membelikan, tapi bagi seorang buruh tani, terlalu sulit baginya memenuhi keinginan anaknya itu.

Si anak tak mau tahu, ia kemudian marah-marah. Tanpa pikir panjang, ia ambil pisau dan menikamkan begitu saja ke dada bapaknya hingga berdarah-darah. Si anak marah, karena motor itu rencananya akan digunakan membonceng pacarnya untuk melihat pertunjukan orkes dangdut di alun-alun kota, sehari setelah lebaran di rayakan.(*)

Lamongan, Ramadan 1430-1431 H


Cerpen: Em. Syuhada'

Tuesday, April 2, 2019

Honorer Bukan Pengemis: Balada Seorang Guru Honorer

Guru Honorer Menuntut SK Pengangkatan dari Bupati

Pada suatu waktu di bulan april tahun kesekian, Kepala Sekolah mengumumkan bahwa guru honorer tidak lagi bisa menerima gaji untuk bulan ini. Juknis BOS sebagai pedoman pengelolaan dana BOS di sekolah menyatakan, bahwa sekolah boleh mengeluarkan gaji untuk guru honorer sebesar 15% dari dana bos yang diterima. Itu pun dengan syarat guru honorer memiliki SK Pengangkatan dari Bupati atau Dinas Pendidikan. Kata kepala sekolah, kebijakan itu berlaku surut mulai bulan januari.

“Mengapa kami tidak bisa menerima gaji, Pak?” tanyaku ketika itu.

Kepala sekolah lantas menjelaskan, setelah dihitung berdasarkan dana bos yang di terima oleh sekolah, dana tersebut dibagi dengan jumlah guru honorer yang berjumlah 18 orang. Hasilnya, sekolah hanya boleh membayar 15.000/jam pelajaran. Sedangkan selama ini guru honorer telah menerima 30.000/jam pelajaran, dan sudah dibayarkan dari bulan januari.

“Seharusnya, bapak ibu guru honorer mengembalikan setengah dari gaji yang telah diterima selama 3 bulan. Tapi tak mungkin itu saya lakukan. Jadi saya buat kebijakan agar bapak ibu tidak perlu mengembalikan. Caranya, bapak ibu guru honorer dengan terpaksa harus tidak menerima gaji selama 3 bulan untuk membayar hutang dari gaji yang telah diterima.” tutur kepala sekolah menjelaskan.

“Ya Tuhan, baru kali ini aku tahu ada pekerjaan semacam ini, seperti bekerja dengan penjajah saja.” batinku bergejolak, “Tapi sudahlah, terpaksa pekerjaan ini harus tetap kujalankan. Kalau tidak, bagaimana caraku bisa membayar hutang yang tiga bulan itu?” aku membatin.

Dengan rasa malu sekaligus sedih, kusampaikan berita ini pada anak-anakku yang sudah menunggu ibunya pulang gajian saat itu. Raut kekecewaan terpancar jelas dari muka mereka.

“Yaa, gak jadi makan ayamlah kita besok.” begitu reaksi si bungsu.

“Kakak gak mau ke sekolah besok pagi, pasti nanti ditagih uang buku lagi sama bu guru. Kan malu belum bisa bayar.” ganti si sulung menunjukkan reaksinya.

“Lalu, selama tiga bulan ke depan ini, bagaimana cari bunda mengisi bensin buat transportasi pergi ke sekolah?” suami, ayah dari anak-anakku turut menimpali.

Aku hanya bisa tertunduk dan tersenyum kecut mendengarkan reaksi dari semuanya. Bagaimana bisa aku menjawab, sedang aku sendiri bingung memikirkan ibu warung sebelah rumah yang sudah menagih janjiku untuk bayar bensin bulan ini.

Dalam kegalauanku itu, aku tiba-tiba teringat dengan sahabatku yang memiliki suami seorang kepala sekolah. Aku coba untuk menghubunginya, sekedar curhat, siapa tahu ada solusi untuk masalah yang aku alami saat itu. Segera saja aku ambil handphone di atas meja.

“Assalammualaikum.” sapaku ketika telepon telah tersambung.

“Waalaikumsalam.” jawab suara di seberang sana. Ternyata yang mengangkat telepon adalah suami sahabatku sendiri. Kebetulan sekali, jadi aku bisa berkomunikasi secara langsung.

“Yati lagi di kamar mandi bu, nanti saya suruh telpon ibu balik ya.” kata Pak Iwan, suami sahabatku itu.

“Maaf pak, sebenarnya saya perlunya sama bapak.”

“Ohh, ada yang bia saya bantu, bu?” jawabnya santun.

“Saya mau menanyakan tentang kebijakan dana bos untuk honorer yang dibatasi 15 %," tanyaku selanjutnya. "Bagaimana kebijakan itu diterapkan di sekolah bapak? Soalnya, di sekolah kami terjadi pemotongan gaji hingga separuh. Dan itu berlaku surut mulai bulan januari. Akibatnya, honorer di sekolah kami tidak menerima gaji hingga bulan juni untuk membayar gaji yang sudah terlanjur kami terima.”

“Memang seharusnya begitu, bu. Harus disesuaikan pendapatan sekolah melalui dana BOS dengan jumlah guru honorer, untuk menggaji sesuai dengan ketentuan pemerintah. Tapi di sekolah saya, tidak ada pemotongan, saya malu memotong gaji honorer yang cuma sedikit. Jadinya saya mengambil kebijakan membayar penuh dengan mengambilnya dari pos-pos lain yang bisa ditekan pengeluarannya.” ujar Pak Iwan menjelaskan.

“Bukannya itu berarti memanipulasi data, pak?” tanyaku heran.

“Memang betul, bu. Itu memanipulasi data. Tapi demi rasa kemanusiaan, saya akan tanggung resikonya. Kalau memang dianggap berdosa, saya siap. Allah Swt. maha tahu dengan semua yang kita lakukan, dan tentu memiliki penilaian tersendiri untuk itu.”

“Terima kasih penjelasannya, Pak. Maaf telah menggangu istirahat bapak.” ujarku sembari menutup telepon.

Dengan bermodalkan sedikit keberanian, esok harinya aku mencoba untuk menyampaikan informasi itu kepada kepala sekolahku. Aku tahu, pasti reaksinya akan sangat tidak mengenakkan. Tapi biarlah, demi aku dan kawan kawanku. Aku membatin.

Benar saja dugaanku, ketika informasi itu aku sampaikan kepada kepala sekolah, beliau menganggapku sebagai pembankang. Ia tak rela jika kepemimpiannya dibanding-bandingkan dengan orang lain

“Itu kebijakan di sana, kepala sekolahnya dia. Sedangkan di sini, kepala sekolahnya adalah saya. Kalau ibu tidak setuju dan tak senang dengan kebijakan saya, silahkan mengundurkan diri. Sudah banyak yang ingin mendaftar diri untuk menggantikan ibu disini.” tutur Kepala Sekolah dengan suara keras.

Aku hanya menunduk. Setelah berpamitan dan meminta maaf, aku keluar dari ruangan kepala sekolah dengan air mata berderai. Kalau tidak karena hutang ini, dan takut memberatkan keluarga, sudah kutinggalkan pekerjaan mulia, tapi sekaligus menghinakanku ini.

Demi menyambung nyawa selama tiga bulan tak bergaji, kuberanikan diri melalukan apapun saja yang bisa dilakukan untuk menyambung hidup, sekedar membantu suami yang penghasilannya tak seberapa. Tiga bulan kulalui bersama kawan-kawan honorer lainnya dengan tabah, dan tentu saja dengan deraian air mata.

Hingga tibalah bulan juli. Saat itu libur ramadan, seluruh dewan guru diundang oleh Kepala Sekolah via telpon untuk berkumpul di sekolah, tanpa terkecuali. Di ruangan rapat, Kepala Sekolah memberikan pengumuman kepada seluruh guru, terutama untuk guru PNS.

“Bapak dan Ibu Dewan Guru, terutama untuk guru PNS dan telah bersertifikasi. Alhamdulillah, dana Tunjangan Profesi Guru telah cair bersamaan dengan dana THR. Untuk itu, saya minta kepada bapak ibu agar mengikhlaskan dengan menyisihkan sebagian rezeki tersebut untuk disumbangkan pada guru-guru honorer, agar guru-guru honorer juga merasakan nikmat yang sama." kata kepala sekolah.

Semua guru PNS mengangguk, meskipun tak ada yang tahu dengan kondisi batin mereka.

Sedangkan aku dan kawan-kawan honorer lainnya, tanpa ada komando, serentak berdiri, meskipun dengan air mata meleleh. Apalagi ketika salah seorang guru honorer perempuan yang sedang mengandung tiba-tiba saja mengeluarkan suara.

“Maaf Bapak Kepala Sekolah. Saya memang orang susah, tapi saya tidak akan membiarkan anak saya memakan uang belas kasihan. Kami bukan pengemis, pak. Kami adalah guru yang sama-sama bekerja memanggul beban dalam mencerdaskan anak bangsa. Gaji yang kami peroleh memang tak ada apa-apanya jika dibanding gaji bapak ibu PNS sekalian yang telah sertifikasi. Tapi sekali lagi, saya tak butuh belas kasihan, bapak!”

Ruangan rapat akhirnya riuh dengan kejadian tak terduga itu. Bahkan ada guru PNS yang langsung bangun dari duduknya, dan memeluk kami satu persatu sebagai bentuk dukungannya.

Melihat kejadian itu, kepala sekolah akhirnya meminta maaf. Ia menjelaskan tentang niat sebenarnya tidak semacam itu. Tapi keadaan sudah tidak bisa dikuasai, semua dewan guru keluar dari ruangan satu persatu.

Satu kalimat yang terucap dari bibir temanku saat itu dan terus kuingat hingga kini: "Kami memang guru honorer, tapi kami bukan pengemis." (*)

*) Tulisan di atas bersumber dari tulisan Leny Bunda Kemri yang dibagikan di Grup Facebook Komunitas Bisa Menulis, dengan sedikit editing bahasa dan kalimat.

Thursday, March 28, 2019

Aku Pingsan disambar Geledek

Cerpen Aku Pingsan disambar Geledek
Sebagaimana manusia yang lain, engkaupun seorang manusia, yang tidak hanya tersusun dari badan kasar. Engkau punya hati, punya jiwa. Jasad hanyalah bungkus lahir yang kadang menipu. Raga adalah seonggok tulang terbungkus daging yang suatu saat pasti musnah tertelan waktu. Sementara yang sejati hanyalah jiwa, hanyalah ruh. Untuk apa bersusah payah memburu dunia hanya jika supaya terbebas dari lapar. Untuk apa bekerja mati-matian hanya supaya kebutuhan fisikmu terpenuhi dan tidak kalah dengan tetangga kiri kananmu. Sementara kebutuhan rokhanimu kau biarkan terlantar. Esensi jiwamu ternyata kau biarkan terdampar di sudut ruangan nun jauh disana...
Terngiang-ngiang suara itu memenuhi gendang telingaku, menggema menggelayuti alam batinku. Apa yang dituturkan Pak Wongso beberapa waktu yang lalu itu seolah-olah tidak lagi memberikan ruang bagiku untuk berkutik. Keleluasaanku sirna, kebebasanku musnah. Serentetan kalimat itu bagai raksasa berkekuatan luar biasa yang mampu mengekang setiap sekat kebebasan yang pernah aku miliki, mencengkram eksistensiku, menguasai sepetak ruangan yang sekian lama terabaikan begitu saja dalam batinku, sebuah ruangan yang terbiarkan kumuh oleh seliweran sawang-sawang. Dan mau tidak mau, aku pun hanya mampu bersimpuh, luruh dalam eksistensi yang kian rapuh.

“Apa sih yang sebenarnya yang dicari manusia?” Suara Pak Wongso terdengar lagi,” Dia ada kan, sekedar diadakan, kemudian menjadi hidup, besar, kawin, beranak pinak, lantas mati. Apakah hanya sekedar itu manusia ada. Apakah tidak ada kemungkinan lain bagi manusia untuk mencapai tingkat teratas bagi harkat kemanusiaannya?"

Suara itu terus menggema. Ibarat aliran air yang membasahi tiap petak kekeringan, ia terus mengalir, berkelok-kelok, menganak sungai. Ketika aliran itu melewati tanah jiwaku yang kering kerontang, aku pun tergeragap. Sebuah kesadaran akhirnya mengendap ke permukaan, betulkah diriku selama ini adalah manusia? Pantaskah aku disebut sebagai sesosok makhluk Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan pikiran? Ketika yang terangkum dalam setiap langkah kehidupanku adalah kemegahan mengumbar nafsu, keberdayaan meletakkan diri hidup tanpa kendali, selalu menerjang batas dan kewajiban.

Pantaskah jika kemudian aku disebut sebagai seorang manusia?

***

Pesawat telepon yang besebelahan dengan komputer yang tengah aku hadapi mendadak berdering. Aku sedikit tersentak. Gema suara Pak Wongso yang berseliweran itu berlalu dan buyar seketika. Dengan gerakan sedikit agak malas, kuraih gagang, dan...............

“Hallo?”

Hening. Tak ada suara. Hanya suara gemerisik yang aku temui.

“Hallo?” Suaraku sekali lagi. Kali ini sedikit agak kutekankan. Aku agak jengkel.

“Brengsek!” Kata umpatan akhirnya meluncur dari bibirku secara tak sadar. Gagang kembali kuletakkan di tempatnya semula.

Entahlah, akhir-akhir ini sering kutemui kejadian semacam itu. Telepon berdering, kungkat, ditutup. Hal itu tidak hanya berlangsung sekali dua kali. Bahkan berulang kali. Mungkinkah ada maksud-maksud tersembunyi dibalik telepon itu? Ataukah memang ada manusia jahil yang sengaja iseng menggodaku. Ataukah....

Tiba-tiba saja terbayang di memori kepalaku sesosok makhluk yang berada nun jauh disana, dalam cakrawala tak terbatas. Sesosok makhluk yang telah membawaku ke sebuah dunia baru yang tak jelas maknanya. Antara hitam dan putih, hijau dan biru, kuning dan kelabu. Tiba-tiba saja aku ingat, bahwa seringkali aku ingin menelponnya, sekedar mengajaknya berbicara, ingin mendengarkan syahdu suaranya, atau bahkan menikmati lemah lembut tutur katanya.

Tapi entahlah, ketika suara yang tengah aku rindukan itu menjelma mengiramai pendengaranku, yang kulakukan justru diam dan tak mampu berkata apa-apa. Entahlah, lidahku mendadak kelu, suaraku tercekat. Tak ada yang bisa kulakukan kemudian selain memaki diriku sendiri. Tiba-tiba saja aku berfikir, tidakkah perempuan itu juga mengalami kekesalan yang sama, sebagaimana yang kualami saat ini?

Mengingat itu semua, aku jadi tersenyum sendiri. Mengapa aku berubah menjadi makhluk tolol semacam itu. Apa salahnya kalau hanya sekedar berbicara. Toh berbicara adalah hal yang wajar dan lumrah bagi seorang manusia. Dan semuanya tahu, bahwa dalam sebuah negara yang meskipun didera kemelut kayak apapun, berbicara toh tidak pernah dilarang?

“Aku tidak munafiq, bahwa aku memang tertarik pada perempuan itu,” Gaung batinku menggema,”Aku tertarik bahkan jauh sebelum mengenalnya. Ketika kuketahui bahwa perempuan sepertinya, yang telah sekian puluh tahun menikmati anggur kota metropolitan yang memabukkan. Namun ia ternyata masih bersedia memasuki sebuah dunia yang menurut sebagian orang adalah dunia tradisional, dunia kaum sarungan yang kumuh. Sungguh, dengan tekad dan keinginan yang membara itu yang menyulut kekaguman luar biasa bagi diriku.”

“Ia itu sudah tunangan, Kang. Dengan seorang putra Kiai dari kota B. Mungkin ia berkemauan keras menuntut ilmu di pesantren lantaran akan menjadi keluarga seorang Kiai. Sementara pengetahuan agamanya masih sangat minim, bahkan mungkin nol sama sekali,” Tutur seorang teman yang kebetulan teman dekatnya.

Aku hanya tercenung. Mendadak Gema suara Pak Wongso kembali menyuara dalam benakkum, "Segala sesuatu tergantung niat. Kalau engkau melakukan sesuatu yang sifatnya dunia, namun niat yang terpasang di hatimu adalah akherat, maka engkau akan mendapatkan akherat, disamping dunia juga akan katut dengan sendirinya. Tapi meskipun engkau melakukan sesuatu yang sifatnya akherat, sedang niat yang terpasang hanya demi dunia, maka akherat hanya menjadi bayang-bayang yang tak pernah bisa engkau raih, sementara dunia juga tidak ada kepastian apakah bisa engkau raih atau tidak.”

“Kalau engkau mencari ilmu,” Suara Pak Wongso kemudian,” Tata niatmu sejak awal. Jangan engkau mencari ilmu hanya demi dapat memperoleh dunia, supaya memperoleh pangkat, jabatan, kekayaan, istri yang cantik, dan lain sebagainya. Semua itu akan sia-sia. Ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan pernah diberikan kepada mereka yang mati hatinya, yang tidak peka perasaannya, yang hari-harinya selalu dikepung oleh perbuatan-perbuatan maksiat. Belajarlah prihatin selama di dunia. Rasul adalah manusia yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Dan engkau tahu kehidupan Rasul bukan? bahwa beliau adalah manusia yang tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.”

****

Pak Wongso adalah seorang Kiai yang gemar menulis puisi, memiliki pesantren khusus anak yatim yang segala kebutuhan santri sepenuhnya ia tanggung sendiri. Kehidupannya inklusif sebagaimana hakikat islam. Siang kadang ke sawah, bergulat dengan lumpur dan tanah, dan malam adalah saat-saat dimana harus rela menyerahkan waktu istirahatnya untuk menemui para tamu. Sebagian ada yang meminta wejangan batin, memintanya menjadi dukun, bahkan sebagian yang lain sering mengajak dialog kecil-kecilan sampai menjelang subuh. Sehingga otomatis, malam tidak lagi merupakan saat-saat istirahat bagi Pak Wongso.

“Bagi saya, tidur bukan merupakan pekerjaan budaya, melainkan alamiah. Sebagaimana makan adalah pekerjaan alam. Mengapa kita mesti membiarkan lidah mengumbar nafsu keinginannya hanya demi makanan beraneka ragam, padahal butuhnya perut sebagai penampung keinginan lidah hanya satu, bahwa ia minta diisi paling banter sepiring atau paling banyak tiga piring setiap hari."

“Mengapa sesekali tidak mencicipi makanan modern, Pak? Biar tidak ndeso dan ketinggalan zaman." Pertanyaaanku berkelakar.

Pak Wongso melemparkan senyum,” Masalahnya bukan itu. Kalau saya bersedia, bisa saja setiap hari saya menyantap makanan ala restoran-restoran super mahal. Tapi saya pikir, kenapa kita mesti dibikin bertele-tele mengurusi soal makanan. Makanan kan berbeda pada saat di lidah, waktu diperut, sama saja kan fungsinya? bahkan makanan yang macem-macem itulah pintu bagi manusia untuk bermesraan dengan penyakit. Islam kan jelas mengatakan, sumber penyakit adalah perut, dan menyedikitkan makan adalah obatnya.”

***

Ingatanku kembali melayang pada sosok perempuan itu. Ketika dalam waktu yang lama harus istirahat lantaran sebuah penyakit. Apa yang sedang ia lakukan disaat-saat seperti sekarang ini?

“Kamu harus sabar, ya?” Nasihatku suatu saat,“Tuhan itu maha kasih kepada hamba-hamba-Nya. Bukan berarti kalau engkau sakit, lantas Tuhan tidak lagi sayang kepadamu. Mungkin Tuhan sedang menguji sejauh mana kesungguhanmu setia kepada-Nya. Nabi Ayub mencapai derajat tertinggi pun harus rela menempuh sakit selama bertahun-tahun. Untung engkau hanya sakit, orang-orang disekitarmu masih setia menemanimu, materi pun engkau sangat berkecukupan. Sementara Nabi Ayub, disamping sakit, ia juga harus rela dicampakkan oleh orang-orang yang dicintainya. Hartanya pun musnah sedemikian rupa.”

“Itu kan Nabi Ayub, sedang aku................”

“Apa bedanya,” Potongku cepat,”Masalahnya bukan apakah seseorang itu nabi atau bukan nabi. Masalahnya bahwa sesama hamba Allah, kita harus selalu bersedia mewaspadai segala apa yang dititahkan-Nya atas kita.”

Seseorang yang muncul misterius tiba-tiba saja bertanya,”Engkau mencintainya, ya?”

Aku sedikit tersentak, kemudian hanya bisa melemparkan senyum.

“Kalau engkau mencintainya, katakan terus terang itu padanya!”

“Entahlah. Aku tak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Aku sendiri bahkan berdoa agar perasaan itu tidak pernah tumbuh dalam relung hatiku. Aku tidak ingin mengekang persahabatan ini dengan kotak-kotak cinta yang pasti akan melahirkan tuntutan satu sama lain. Cuma yang tidak pernah aku pahami, mengapa selama ini ia begitu sering hadir menemani hari-hariku. Ditengah kekagumanku padanya, ternyata aku menyimpan sebuah harapan bisa membantu mengatasi masalahnya, terlepas apakah ia bersedia atau tidak.”

“Itu berarti kamu memang mencintainya,” Pak Wongso kini yang bersuara,”Sudahlah, kamu mesti bersyukur dengan semua itu, ditengah pengembaraanmu yang hampir gila, ternyata Tuhan masih membukakan pintu kasih-Nya dengan menumbuhkan perasaan cinta itu dalam hingar bingarnya perasaanmu. Sepanjang perasaan itu tidak menjadi penghalang bagimu untuk bermesraan dengan-Nya, engkau harus berbahagia. Sebagai manusia, kita toh ndak bisa melepaskan diri dengan semua yang dititahkan-Nya atas kita.”

Aku lebih memilih diam menanggapi suara Pak Wongso.

Sebuah suara tiba-tiba bergema sedemikian kerasnya,”Ia sudah tunangan, Kang!”

Langit pun mendung seketika. Aku pingsan disambar geledek. ***

Tuesday, March 5, 2019

Pakai Otak Dong, Pak!

Seluruh penghuni pesantren Kiai Hamam terlihat sibuk. Beberapa minggu ke depan, pesantren dijadwalkan akan menerima kunjungan bupati yang baru saja terpilih. Sebagaimana layaknya ajaran islam, akrimuu dlaifakum (muliakanlah tamu-tamumu), maka semua penghuni pesantren berlomba-lomba melaksanakan ajaran tersebut.

Alhasil, keadaan pesantren yang sehari-harinya santai dan biasa-biasa saja berubah seratus delapan puluh ribu derajat. Bagian seksi perlengkapan sibuk menata tiap sudut ruangan. Dinding-dinding dicat, pagar-pagar dibenahi, MCK direnovasi, hingga kamar-kamar hunian santri yang biasanya acak-acakan dengan segala macam busana, baik luar maupun dalam, disulap menjadi tempat yang indah nian. Sementara, seksi perdapuran sibuk mempersiapkan menu yang akan disuguhkan pada bupati dan rombongan.

“Ada apa tho, Kang. Semua manusia kok mendadak jadi super sibuk, sih.” tanya Kang Jun, santri yang sehari-harinya biasa dimintai tolong tetangga untuk memetik kelapa.

Cak Kris yang ditanya mengernyitkan kening,”Sampean ini bagaimana tho, Kang. Lha wong pesantrennya bakal kedatangan priyayi agung macam Pak Bupati kok malah ndak tahu. Memangnya kuping sampean itu dimana, sih?” tuturnya kesal.

Kang Jun malah cengengas-cengenges, tak peduli dengan penjelasan Cak Kris. Dalam dunia perpondokan, Kang Jun memang dikenal sebagai santri yang super cuek. Maklum, Kang Jun adalah santri ngenger yang sehari-harinya jarang berada di pesantren. Seharian kadang berada di sawah milik Sang Kiai. Kalau tak ada kerjaan di ndalem, Kang Jun mencari pekerjaan di kampung. Kadang memetik buah kelapa, mengisi jeding tetangga dengan senggot. Singkat kata, hanya pada malam hari saja Kang Jun thalabul ggilmi, ikut kegiatan pesantren.

Hari-hari yang ditunggu pun datanglah. Sejak pagi menjelang, seluruh santri telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan bupati dan rombongan. Petugas kebersihan sejak shalat subuh usai telah melakukan cek dan ricek ke seluruh area. Singkat cerita, Bupati beserta segenap rombongan telah terlihat berjalan-jalan meninjau keadaan pesantren. Mulai dari kantor pengurus, kamar-kamar santri, ruang perpus, dapur, dan yang tak ketinggalan adalah koperasi pesantren yang terletak di ujung sebelah barat.

Setelah puas melihat-lihat, Pak Bupati tiba-tiba saja tercengang ketika sepasang matanya menatap ke sebuah tiang bendera yang terpancang di depan aula. Tiang bendera itu menjulang demikian tingginya hingga bendera yang terpasang berkibar demikian gagahya.

“Berapa tingginya tiang itu?" Pak Bupati tiba-tiba saja bertanya pada salah seorang santri, yang ternyata adalah Kang Jun, yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja telah berada di samping bupati.

Kang Jun yang ditanya tak menjawab. Ia justru berlari begitu saja ke ruang perlengkapan, mengambil seperangkat alat ukur. Lantas, karena terbiasa naik kelapa, dengan sangat cekatan memanjat tiang bendera bak seekor kera, sampai akhirnya Kang Jun berada di ujung yang paling atas.

Seluruh santri, tak terkecuali Pak Bupati, terhenyak. Seluruhnya memendam rasa penasaran, disamping juga diliputi kecemasan yang sangat. Apalagi melihat tiang bendera yang dinaiki Kang Jun pentiang-pentiung tidak kuat menahan berat badannya.

Dalam kecemasannya, Pak Bupati berteriak,”Hei, turun kamu. Turun!”

Mendengar teriakan Pak Bupati, Kang Jun melongok ke bawah. Iia langsung melorot turun sebelum sempat menyelesaikan pekerjaan mengukur ketinggian tiang.

“Kamu ini tolol, apa bagaimana,” tukas pak Bupati seketika,”Mestinya kamu mikir, pakai otak!” Tukas Pak Bupati sambil menunjuk-nunjuk jidatnya.

“Maksud, Bapak?” Kang Jun hanya melongo.

“Kalau memang ingin mengukur, mestinya kamu rubuhkan itu tiang. Kemudian kamu ukur di atas tanah. Jadi ndak usah petangkri’an seperti yang kamu lakukan barusan. Kalau kamu jatuh, kamu bisa celaka, tolol!”

“Lho, Pak Bupati ini bagaimana?” tiba-tiba saja Kang Jun menjawab.

Semua penghuni pesantren kaget.

“Pak Bupati tadi bertanya ketinggian tiang, tho?”

Pak Bupati mengangguk.

“Mestinya Bapak yang harus pakai otak. Mikir dong, Bapak!” ganti Kang Jun yang menunjuk-nunjuk jidatnya. "Kalau tiang itu saya rubuhkan, kemudian saya ukur di atas tanah. Itu bukan tinggi, itu panjang namanya, Pak!”

Semua santri pun makin terkesima, sementara Kiai Hamam hanya tersenyum dikulum melihat kejadian itu. Oalah, Kang Jun..Kang Jun. (*)

Friday, February 22, 2019

Lelaki yang Bercengkrama dengan Mimpi

Lelaki Yang Bercengkrama dengan Mimpi
Cerpen: Em. Syuhada'
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kang Thawil selain berdiri mematung menatapi pemandangan di sekelilingnya yang membuat batinnya miris. Sejauh mata memandang, yang terpampang adalah hektaran sawah dengan tanaman porak poranda. Genangan air bercampur lumpur telah membuat tanaman padi siap panen itu menjadi onggokan benda tak ubahnya sampah, timbul tenggelam dipermainkan semilir angin yang menciptakan riak-riak kecil. Dan lelaki itu, tanpa sepatah kata mencoba menyibakkan batang demi batang, seperti berusaha memungut harapan hidupnya yang terserak tak keruan entah kemana.

Dia kemudian menghela nafas. Sesuatu dirasakannya begitu berat menghimpit rongga dadanya. Sungguh berat. Bahkan untuk sekedar menarik nafas pun terasa susah. Kenyataan yang dihadapinya sekarang menjelma ribuan jarum dihunjamkan begitu saja ke relung hatinya. Menusuk-nusuk kemanusiaannya. Dan batinnya terasa begitu perih. Ah, andai saja ia menuruti perkataan istrinya beberapa waktu yang lalu, tentu kenyataan akan berkata lain.

"Kenapa tidak kita panen saja, Kang, toh hanya tanaman ini yang bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan kita. Apa kita tidak malu terus-terusan ditagih sama Lek Sakri." itu saran istrinya seminggu yang lalu, ketika keduanya tengah menghalau padi yang telah menguning itu dari serbuan pipit.

"Ndak usah terburu-buru bune, mungkin seminggu atau dua minggu lagi padi ini kita panen. Biarlah aku nanti yang ngomong sama Lek Sakri, yang penting kan, ada yang kita jagakne untuk melunasi hutang."

Dan ia memang hanya seorang manusia, yang tak pernah tahu dengan apa yang terjadi esok. Sama sekali tak menyangka jika takdir kembali memaksanya harus menelan kegetiran demi kegetiran.

Lelaki itu, Kang Thawil, demikian orang biasa memanggilnya, memang petani yang seluruh penghidupannya bertumpu pada sawah. Bagi lelaki setengah baya itu, sawah adalah muara dari berliku-likunya air sungai persoalan kehidupan yang sehari-hari digelutinya. Mulai dari sambatan si Iwik, anak semata wayangnya yang merengek-rengek minta dibelikan seragam sekolah. Juga hutangnya pada Lek Sakri, yang hampir setengah tahun belum mampu ia lunasi.

Apalagi istrinya yang mengeluhkan biaya hidup yang makin membengkak dari hari kehari. Belum lagi jika mulutnya ingin menikmati sebatang dua batang kretek. Apa yang bisa ia janjikan selain harapan yang seluruhnya ia tumpuhkan pada sebidang tanah yang berada di ujung desa.

Lantas ketika banjir itu datang begitu saja secara tiba-tiba...........

Ada beribu tanya yang tak pernah mampu ia jawab. Ada setumpuk beban memenuhi rongga dadanya yang menyebabkan ia merasa sesak. Barangkali benar, bahwa keresahan adalah ketika harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Bahwa penderitaan adalah, ketika yang bersemayam dalam angan-angan adalah setetes madu, namun yang dihadapi adalah sebotol racun yang siap menelan nyawa kehidupannya, kapan saja dan dimana saja? Apa yang bisa dilakukan oleh orang susah seperti dia?
***

Bagi orang kecil sepertinya, Kang Thawil tak pernah berharap bisa menjadi orang kaya, seperti tetangganya yang setiap hari bisa ganti mobil sesuka hati, yang tiap tahun bahkan bisa pergi haji ke tanah suci. Tak pernah sedikitpun terbersit dihatinya keinginan memiliki rumah dan mobil mewah, apalagi tanah berhektar-hektar. Yang didambakannya sederhana, yaitu bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa pernah dikejar-kejar hutang. Ia ingin bisa memberikan makan bagi anak dan istrinya tanpa mengalami kesulitan.

Namun ketika kesulitan demi kesulitan selalu saja mengepungnya, Kang Thawil mendapatkan dirinya berubah menjadi seekor cacing kepanasan ditengah terik matahari. Ia mengeliat-geliat kepayahan, jempalitan tak karuan bagai seekor kambing yang baru saja disembelih. Dan itu barangkali yang membuatnya terengah-engah, dari waktu ke waktu.

"Kita mesti sabar Kang. Apapun semua ini telah menjadi kehendak Gusti Kang Murbeng Dumadi. Kita mesti nrimo. Ndak mungkin kita protes dengan kegagalan panen ini. Beliau pasti memiliki alasan sendiri yang tak bisa kita duga. Pasti ada sesuatu yang bisa kita petik dari keadaan ini," tutur istrinya berusaha menghibur.

Kang Thawil hanya diam. Barangkali memang beginilah hidup, demikian ia membatin. Tapi kenapa kehidupan itu tak pernah memberikan ruang kepadanya? Kenapa kehidupan selalu tak mengizinkan dirinya dapat bergerak leluasa, setidaknya untuk hanya sekedar menggerakkan tangan dan kepala?
****

"Saudara-saudara, kita semua memang sedang susah. Banjir menyebabkan kita tak bisa panen tahun ini. Namun satu hal yang ingin saya katakan, anggaplah kesusahan ini ujian dari Tuhan. Bahwa kita ternyata masih dikepung oleh kasih sayang-Nya. Bukankah salah satu pertanda bahwa kita masih diperhatikan oleh-Nya adalah dengan keharusan menjalani laku ujian yang akan menentukan kadar kesetiaan kita masing-masing? Bukankah sangat indah kalau kita semua masih berada dalam naungan perhatian-Nya?" kata khatib dari atas mimbar pada sebuah jumat. Kang Thawil mendengarnya sambil terkantuk-kantuk.

Beberapa waktu yang lalu, seorang kiai muda pernah juga berceramah:
"Cobaan hanya berlaku bagi orang-orang yang sanggup meletakkan diri di wilayah-wilayah keridlaan-Nya. Fungsinya untuk menguji seberapa jauh dan dalam kesetiaan seseorang kepada-Nya. Kalau kemudian ia sukses, patut diacungi jempol bahwa kesetiaannya betul-betul teruji. Dan ia pun meraih predikat yang setingkat lebih tinggi dibanding kedudukan sebelumnya.”

"Dan peringatan adalah sebentuk mekanisme, ketika seorang hamba yang menyatakan diri bersetia kepada-Nya itu tiba-tiba saja terjatuh di jurang yang digali oleh iblis, yang merupakan kebalikan sisi mata uang dari pancaran cahaya. Maka Tuhan dengan bersegera akan menurunkan tangga peringatan kepadanya agar bisa naik kembali ke permukaan, dan ia pun dapat kembali merengkuh cahaya dalam menelusuri jalan panjang kehidupan."

"Kemudian azab merupakan bentuk siksaan. Ia hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah jauh menyebrang dari garis yang ditentukan oleh-Nya. Dan ingatlah, bahwa azab Tuhan itu sangat-sangat pedih."

Kang Thawil masih ingat, ceramah itu disampaikan oleh seorang kiai muda yang sengaja didatangkan ke desanya untuk mengisi acara rutinan di masjid. Dan ia juga ingat betul, betapa ceramah itu disampaikan selang sehari sebelum bencana banjir itu terjadi.

Lantas sekelumit pertanyaan tiba-tiba saja menyelimuti batinnya. Bencana yang beruntun menyelimuti desa ini, mulai angin topan yang memporak-porandakan rumah penduduk, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, bencana banjir, penyakit yang demikian beraneka ragam, dan entah apa lagi bencana yang akan datang kemudian. Betulkah itu semua merupakan ujian dari Tuhan?

Kang Thawil tiba-tiba memendam semacam kekawatiran. Jangan-jangan semua yang telah berlangsung itu adalah sebentuk peringatan, bahwa kelakuan manusia benar-benar telah melampaui batas. Namun siapa yang bisa menjamin, bahwa semua itu bukan sebentuk azab yang telah diturunkan-Nya?
*****

Kekhawatiran yang demikian memang bukan hal yang tidak berdasar. Kang Thawil sebagai penduduk yang telah mendiami sekian puluh tahun tanah perdesaan itu tentu tahu dengan perilaku kehidupan warga setempat.

Tentang bagaimana sikap orang-orang dalam menjalani kehidupan. Juga perilaku petinggi desa yang sudah tidak lagi mencerminkan pemimpin, bahkan dengan terang-terangan menyatakan sebagai penguasa. Sehingga untuk meraih kekuasaan itu diperlukan berbagai cara, biarpun harus mengorbankan berlembar-lembar rupiah.

Lantas ketika peraturan langit hanya dapat bersuara di kolong-kolong masjid. Ketika kedudukan Tuhan selalu ditempatkan dalam nomor ke sekian dalam setiap urusan. Apakah hal semacam itu belum cukup dijadikan alasan bahwa Tuhan sudah benar-benar telah murka?

Dan kekawatirannya semakin bertambah-tambah, ketika orang-orang bahkan tidak pernah merasa bersalah. Kang Thawil lantas berfikir: Untuk menyadari bahayanya api, haruskah seseorang dibakar sehingga percaya bahwa api memang betul-betul panas dan berbahaya?
****

Apa yang bisa dilakukan oleh Kang Thawil kemudian selain hanya duduk di beranda rumahnya yang reot, sambil menatapi kayu-kayu rumahnya yang telah lapuk dimakan waktu. Sesekali kreteknya itu dipermainkan dengan jemari tangannya yang kering. Genting-genting, meja, kursi, dan semua yang berserakan di halaman rumah itu seolah-olah berbicara kepadanya, buat apa menjadi manusia kalau tak mampu berbuat sebagaimana layaknya manusia.

Ada kalanya ia bermimpi bisa menjadi Nabi, atau Kiai, atau yang remeh-temeh barangkali utusan Tuhan yang ditugasi mengatasi zaman. Tapi apalah artinya manusia macam dia. Manusia yang selalu dicampakkan oleh nasib, yang terpinggirkan oleh kesejahteraan hidup, yang setiap saat terpesona dengan megahnya kata kemakmuran. Sementara sekedar mempertahankan hidup anak istrinya saja ia bahkan selalu dilanda kebingungan.

Kang Thawil akhirnya hanya mampu menerawang, membiarkan dirinya menatap sebuah dunia baru yang sama sekali berbeda, jauh di seberang sana, di ketinggian awan, di pucuk-pucuk langit, sampai kemudian ia disentakkan oleh sebuah suara perempuan, suara istrinya:

"Pak, seragam Iwik sobeknya makin melebar. Pagi tadi ia sudah tidak mau lagi pergi sekolah. Sepertinya ia sudah tak tahan dengan ejekan teman-temannya."

Kang Thawil tersentak. Seketika tersadar bahwa kakinya masih berpijak di bumi. Ia mendesah ketika menyadari bahwa ia memang tak pernah bisa berbuat apa-apa.(*)

Friday, January 25, 2019

Pak Zaki Pergi Ke Australi

Pak Zaki Pergi Ke Australi

Waktu pembelajaran tinggal beberapa menit. Ruang kelas yang tadinya riuh kini tampak hening. Para siswa serius memperhatikan Pak Zaki yang sibuk dengan laptopnya di meja guru.


“Baiklah anak-anak, sekarang waktunya penilaian,” kata Guru Agama Islam itu sambil berjalan ke arah siswa, pandangan matanya beredar ke seluruh ruangan, “Seperti biasa, penilaiannya online. Nanti kalian harus menjawab sejumlah soal di layar. Cara menjawabnya melalui gawai masing-masing. Perlu diperhatikan, satu soal waktunya hanya dua menit. Jadi, kalian harus betul-betul konsentrasi untuk mendapatkan hasil terbaik. Semuanya paham?”

“Paham, Pak,” seluruh siswa mnganggukkan kepala. Tanpa diperintah, mereka bergegas mengeluarkan gawai dari sakunya masing-masing. Di depan kelas, layar proyektor menampilkan sebuah alamat situs. Ada sebuah pin dengan empat digit angka tertulis di bawahnya.

Pak Zaki memang guru yang kreatif. Hampir dalam setiap kegiatan pembelajaran, ia selalu memanfaatkan piranti teknologi. Pak Zaki belajar secara otodidak mengemas materi pembelajaran ke dalam media berbasis powerpoint. Bahkan ketika melakukan penilaian, beliau memanfaatkan jaringan wifi sekolah, seperti kegiatan yang akan dilakukan pada kali ini.

“Sekarang ketik alamat seperti yang tertulis di layar, “ perintah Pak Zaki kemudian, “Saat login, username gunakan nama kalian masing-masing. Pin ketikkan seperti yang tertera di layar. Ingat, pastikan gadget kalian sudah tersambung ke wifi.” tegasnya lagi.

Para siswa mengikuti perintah gurunya itu. Beberapa saat kemudian, layar proyektor menampilkan nama-nama siswa, bergantian satu per satu sesuai dengan kecepatan login. Sampai pada nama terakhir, deretan nama yang awalnya bermunculan itu berhenti sama sekali, pertanda seluruh siswa telah berhasil terhubung dengan akun sang guru.

“Sekarang soal demi soal akan saya tampilkan. Sekali lagi ingat, satu soal hanya dua menit. Jadi kalian harus betul-betul konsentrasi. Silahkan kerjakan mulai dari sekarang!” perintahnya kemudian sambil mengklik sebuah tombol.

Berbarengan dengan itu, soal pertama muncul di layar proyektor. Soal pilihan ganda yang agak panjang itu memaksa para siswa harus betul-betul jeli dalam membaca. Beberapa waktu kemudian, beberapa siswa mulai mengotak-atik gawai, mengetik jawaban yang telah ditemukan. Sementara, tak sedikit yang masih berpikir dengan tatapan mata fokus pada layar.

Begitulah, soal demi soal akhirnya terselesaikan. Ketika waktu mengerjakan telah habis, muncul sebuah tombol dengan tulisan besar, Klik Hasil Penilaian. Sepuluh nama yang memperoleh nilai terbaik tampil di layar ketika tombol itu diklik. Para siswa riuh. Cinta, siswi yang duduk di bangku tengah berada pada urutan di atas.

***

Pak Zaki bersyukur bisa mengajar di sekolah ini. Meski belum genap setahun, tapi ia bisa memberikan warna bagi keberlangsungan pendidikan di tempat tugas yang baru. Dulu ketika masih mengajar di sekolah yang lama, Pak Zaki amat kesulitan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. Jangankan untuk membeli LCD proyektor, bahkan untuk ruang kelas masih sangat kekurangan. Sekolahnya waktu itu adalah sekolah terpencil berada di tengah hutan. Jalan menuju sekolah adalah jalan setapak yang ketika musim penghujan tiba berubah menjadi lautan lumpur yang tak mungkin dilewati dengan sepeda.

Sedangkan sekolahnya sekarang berada di kecamatan kota. Meski bukan sekolah unggulan, tapi infrastruktur sudah memadai. Peserta didik tak asing lagi dengan benda-benda teknologi semacam android, laptop, dan semacamnya.

Dulu, ketika pertama kali menjejakkan kaki di sekolah ini, sempat terjadi perdebatan tentang penggunaan ponsel pintar di sekolah. Banyak guru melarang siswa membawa ponsel ke sekolah. Alasannya ponsel adalah sumber masalah. Betapa banyak perkara di sekolah muncul diawali dari ponsel.

Seorang guru bercerita dalam rapat tentang sebuah kasus di sekolah tetangga. Ada siswa ditangkap polisi gara-gara menyebarkan video porno melalui ponselnya. Yang bikin ngeri, pelaku video porno itu adalah temannya sendiri siswa satu sekolah. Guru itu berkata, apa jadinya jika hal itu terjadi di sekolah ini. Tidakkah reputasi sekolah pasti akan hancur. Maka ia berharap agar penggunaan ponsel dilarang.

“Tapi ponsel kan tetap ponsel.” sergah Pak Zaki ketika itu.

“Maksudnya?”

“Ponsel hanyalah alat. Setiap alat tetap memiliki kemungkinan baik dan buruk. Pedang tak bisa dipersalahkan karena digunakan untuk menebas leher orang. Begitu juga pisau tak usah dipuji-puji karena digunakan untuk mengiris bawang. Maka, yang terutama bukan terletak pada alatnya, tapi bagaimana kita memperlakukan alat itu untuk kemaslahatan hidup manusia.”

“Tapi ini siswa, bukan manusia dewasa seperti kita.”

“Disinilah fungsinya kita, guru mereka,” tukas Pak Zaki,”Alat memang layak diperalat. Yang harus kita lakukan bukan melarang, tapi menanamkan kesadaran bagaimana memberlakukan alat untuk kebaikan hidup. Lagi pula, adakah jaminan ketika ponsel dilarang di sekolah, anak-anak tidak menggunakannya di tempat lain?”

“Lantas bagaimana menurut Pak Zaki?” pungkas Kepala Sekolah.

“Kalau menurut saya, boleh kita menganggap ponsel itu ancaman. Tapi, mari kita ubah ancaman itu menjadi peluang. Banyak sekali aplikasi berbasis android yang bisa digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Jika itu kita manfaatkan, kita pasti akan mendapatkan nilai lebih. Disamping siswa akan lebih tertarik, pembelajaran yang kita lakukan juga akan lebih bermakna.”

***

Berawal dari situlah, Kepala Sekolah kemudian memutuskan siswa tetap diperkenankan membawa ponsel pintar di sekolah. Hanya saja, tetap ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Siswa tidak diperkenankan membuka aplikasi media sosial ketika pembelajaran berlangsung, penggunaan ponsel tetap diarahkan untuk kegiatan pembelajaran. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seminggu sekali diadakan pemeriksaan untuk melihat isi ponsel dan riwayat browser apa saja yang pernah dibuka oleh siswa. Para siswa tentu saja senang. Tanpa diminta, mereka membuat komitmen untuk mematuhi rambu-rambu, meskipun ada beberapa yang kadang melanggar.

Hingga pada sebuah siang yang teduh, kabar menggembirakan itu muncul, Cinta, siswi yang dikenal pendiam itu meraih juara pertama dalam lomba pembuatan game berbasis android. Cinta akan diundang ke propinsi untuk menerima penghargaan dari gubernur.


Tak berselang lama, Pak Zaki menjuarai ajang My Teacher My Hero yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan IT terkemuka di Jakarta. Dalam ajang itu, para peserta diminta mengirimkan karya inovatif pembelajaran dengan membuat sebuah video pendek. Tak disangka, karya Pak Zaki masuk nominasi dan terjaring dalam delapan besar. Atas prestasinya itu, ia akan dikirim ke Australia untuk bertukar pengalaman dengan para guru di negeri kanguru itu.(*)

*)Em. Syuhada’, lahir di Lamongan, 31 Juli 1975. Tulisannya berupa artikel, cerpen, resensi pernah dimuat di Jawa Pos, Duta Masyarakat, Harian Surya, Radar Bojonegoro, dan lain-lain. Aktifitas sehari-harinya sebagai guru di SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan Jawa Timur.
DomaiNesia