Showing posts with label Oase. Show all posts
Showing posts with label Oase. Show all posts

Saturday, April 6, 2019

Kisah Sabrang (Noe Letto) Ketika Mencium Hajar Aswad

Kisah Noe Letto saat Umrah dengan Bapaknya

Mencium Hajar Aswad. Barangkali itu adalah keinginan semua orang ketika melaksanakan Ibadah Haji atau Umrah. Sebab, sebagaimana banyak diterangkan dalam hadits, salah satu amalan yang disunnahkan adalah mencium hajar aswad yang terletak di salah satu pojok ka'bah. Itulah sebabnya, beragam cara dilakukan untuk mencium hajar aswad mulai dari berjejalan, saling sikut antar jamaah, saling jegal, hingga memakai jasa calo di sekitar ka'bah.

Hajar aswad memang bukan batu biasa. Ia adalah sebongkah batu yang berasal dari surga. Secara bahasa artinya memang batu hitam. Namun sesungguhnya, hajar aswad asalnya berwarna putih lebih putih dari susu. Dosa-dosa manusia-lah yang menyebabkan batu itu berubah warna menjadi hitam legam. Kelak di hari kiamat, ia akan memberi persaksian kepada siapa saja yang pernah memegang dan menciumnya.

Terkait dengan hajar aswad itulah, sebuah kisah menarik dituturkan oleh Sabrang Mawa Damar Panuluh. Lelaki yang lebih dikenal dengan panggilan Noe Letto itu menceritakan pengalamannya ketika bersama keluarga besarnya melaksanakan umrah, tak terkecuali dengan bapaknya, yaitu Simbah Emha Ainun Nadjib.

Awalnya, sebagaimana jamaah umrah yang lain, Noe juga berkeinginan untuk mencium hajar aswad, demi mengungkapkan cintanya kepada Allah Swt. dan Kanjeng Nabi Muhammad saw. Namun ketika melihat suasana yang sangat tidak kondusif, saling berdesakan, saling jegal menjegal dan sikut menyikut untuk sama-sama memiliki keinginan mencium hajar aswad, Noe akhirnya memilih mundur dan menepi dari jejalan jama'ah.

Noe berpikir, ini mekkah, ini baitullah, sebuah tempat yang sangat mulia. Untuk apa melampiaskan nafsu keinginan mencium hajar aswad demi menuntaskan cinta kepada Allah Swt. dan Nabinya. Sedangkan pada saat bersamaan, cara untuk meloloskan keinginan itu dengan cara menyakiti orang lain, dengan saling jegal, dengan intrik kotor, apalagi melalui calo dengan membayar sejumlah uang. Noe tak sanggup melakukan itu. itulah sebabnya ia pilih undur diri dan menepi dalam sunyi.

Dalam ketermenungan itulah, tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Suara Mbah Nun, yang tak lain bapaknya sendiri.

"Kowe pingin ngambung hajar aswad, to brang?"

"Sakjane pingin, tapi ndelok kahanan koyok ngunu kuwi, yo minggir wae."

"Pingin ora?" Suara bapaknya lagi.

"Yo pingin."

Singkat kata, akhirnya Noe mengikuti bapaknya, diminta menata niat dan melakukan ritual tertentu. Ketika semua sudah siap, Mbah Nun meminta agar Noe berjalan mengikuti di belakangnya.

Ketika mengikuti bapaknya itulah, Noe merasakan sebuah keajaiban yang luar biasa. Betapa tidak. Di tengah berjejalnya jamaah yang melakukan thawaf, Mbah Nun berjalan tegap menuju arah ka'bah tanpa sedikitpun menyibak lautan manusia. Manusia seperti terbelah membentuk jalan lurus. Noe tentu saja dengan begitu gampangnya mengikuti langkah kaki Sang Bapak.

Ketika sampai di depan hajar aswad, barulah Noe merasakan suasana saling berdesakan antar jamaah. Namun entah dari mana, tiba-tiba saja ada seseorang yang berbaju berbeda dengan jamaah pada umumnya, bertanya kepada Noe dengan logat jawanya yang kental.

"Sampun mencium hajar aswad, den?"

"Dereng."

"Monggo ndang diambung." tuturnya sembari melindungi sabrang dari desakan jamaah.

Ketika ritual mencium hajar aswad selesai dilakukan, Sabrang tiba-tiba merasa seperti dicengkiwing dari lautan manusia, diarahkan keluar dari jamaah yang saling berdesakan ingin mencium hajar aswad, hingga sampailah ia di tempat yang aman.

Begitulah kisah yang dituturkan oleh Sabrang ketika melakukan umrah dengan bapaknya. Yang patut digarisbawahi dengan kisah itu menurut Sabrang bukan tentang keajaibannya. Tapi dalam menuntaskan sebuah kebutuhan, seseorang tak boleh terfokus pada satu jalan. Ada jalan lain yang bisa ditempuh, sebagaimana saudara-saudara Yusuf diperintahkan oleh Ayahnya agar ketika menemui Yusuf masuk melalui pintu yang berbeda-beda.(*)

*) Kisah ini dibahasakan ulang dari cerita Sabrang Mawa Damar Panuluh pada acara Padhang Mbulan bersamaan dengan #60th Mbah Nun di Jombang.

Wednesday, March 27, 2019

Alangkah Indah Hidup di Desa


Zaman dahulu kala, ketika teknologi informasi belum semoncer sekarang, menjalani kehidupan di desa (apalagi desa terpencil yang jauh dari pusat ibu kota) ternyata gampang-gampang susah. Di satu sisi, hidup di desa memang nyaman jika dibandingkan dengan hidup di kota yang kebak polusi. Namun di sisi lain, akses untuk menyerap informasi ternyata tidak segampang sebagaimana di kota.

Kasus yang kerap menghampiri waktu itu, ketika menginginkan sebuah buku, atau yang paling ringan adalah selembar koran (terutama koran minggu khusus untuk mengontrol tulisan), secercah resah acap kali terasa. Bagaimana tidak? Saya harus menempuh jarak sekian kilometer, itupun yang bisa diperoleh hanyalah koran nasional semacam Jawa Pos atau Kompas. Sementara untuk Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, serta beberapa koran nasional yang lain sukarnya bukan main. ”Harus langganan dulu, Bung. Soalnya kalau dijual umum, koran-koran itu hampir tidak laku.” itu jawaban yang kerap saya peroleh dari masing-masing agen. Jawabannya nyaris sama. Sungguh mengenaskan. 

Memang, menemukan agen yang khusus menjual bahan bacaan di desa bukanlah perkara mudah. Hampir jarang ditemui ada agency yang menjual buku, koran atau majalah. Bahkan dalam satu kecamatan pun, para penjual koran bisa dihitung dengan jari. Pedagang tetaplah manusia yang selalu mengedepankan untung rugi. Mereka cenderung memilih menjual barang yang laris manis semacam vcd lagu dangdut koplo atau goyang ngebornya artis-artis hot, ketimbang menjual koran yang belum tentu laku. Apalagi buku yang setahun berlalu belum tentu disentuh.

Ini barangkali hanyalah akibat dari problem klasik yang kerap melanda penduduk negeri ini: apalagi kalau bukan rendahnya minat baca masyarakat.

****

Tapi memang begitulah hidup di desa. Mungkin bagi sebagian orang, hidup di desa itu susah, terutama bagi mereka yang tak pernah bersentuhan dengan udara desa sepanjang hidupnya, dan lebih menikmati gemerlapnya kehidupan kota. Tapi saya pribadi lebih memilih hidup di desa daripada di kota. Meski untuk mendapatkan selembar koran saya harus ‘berjuang’ keras mendapatkannya, itu adalah irama keasyikan tersendiri bagi saya.

Saya teringat sepucuk surat yang pernah ditulis oleh seorang kawan,” Bung, meski sampean di desa, jangan pernah berhenti bercengkrama dengan kata-kata. Teruslah menulis. Kau tahu Zawawi Imron, bukan? Kenapa di depan namanya terpampang huruf D. Itu lantaran sedemikian dahsyatnya ia dalam berkarya. Kau tahu, Kawan. Ia bahkan rela berjalan kaki puluhan kilometer dari desanya di Guluk-guluk Sumenep hanya untuk membeli sebuah koran untuk mengecek tulisan-tulisannya. Dan ketika si Celurit Emas itu namanya telah berkibar ke seantero negeri, ia tak hendak hijrah dari tempat tinggalnya. Ia tetap memilih tinggal di desanya dengan intensitas budayanya.

Dan kau pasti kenal dengan almarhum Hardjono WS. Lelaki kelahiran bondowoso itu, yang naskah teaternya pernah terpilih oleh UNESCO mewakili naskah teater anak Indonesia di terbitkan dalam kumpulan “TOGETHER IN DRAMLAND” bersama 14 penyair Asia Pasifik, yang beberapa kali menjadi penyair favorit Surabaya dan pernah mendapatkan award of teater dari LIA (Lembaga Indonesia Amerika) lewat Dewan Kesenian Jakarta tahun 1978. Bukankah ia tetap istiqamah untuk tetap tinggal di desa?

Bagi Hardjono, semilir angin di desa, gemericik air yang mengalir dari pegunungan, udara yang sejuk dan bersahabat, itu semua adalah sumber inspirasi yang mengilhami puisi-puisinya.”

Begitu juga dengan Herry Lamongan, begawan puisi yang kesetiaannya berpuisi tak diragukan, yang kebersahajaan puisinya kerap lahir dari secangkir kopi. Namanya sekarang populer di kalangan sastrawan akibat karya-karyanya yang berserakan dimana-mana. Bukankah ia tak hendak hengkang dari tanah kelahirannya, kampung lamongan yang dulu kerap dihina-hina. Bukankah ia justru mencantumkan Lamongan itu bersanding dengan namanya?

***

Dan sampai hari ini, ketika waktu masih memperkenankan saya mengikuti perputaran bulan dan matahari. Ketika takdir menyeret saya pada ketentuan hidup yang tak mungkin ditawar-tawar, saya tetap masih hidup di desa, bahkan sehari-harinya harus menyusuri sebuah desa sangat terpencil yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata demi menjalankan tugas. 

Desa masihlah energi yang selalu mengiramai denyut jantung. Tapi entahlah, beberapa waktu terakhir, saya merasakan udara desa tidak senyaman dulu. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan desa sebagaimana yang pernah saya rasakan sebelumnya. Apalagi modernisasi dengan segala bala tentaranya telah merenggut nafas anggun desa, hingga yang tersisa hanyalah kenangan demi kenangan.

Apalagi ketika wajah-wajah di baliho itu semakin lama semakin bertebaran.....***

Monday, March 18, 2019

Meruwat Kebersamaan

Meruwat Kebersamaan

Sore menjelang senja. Seperti biasa, cangkruk sambil nyruput teh poci khas nasgitel di angkringan mbakyu yang masih ayu, saya mengedarkan mata. Dalam sekali pandang tampak sekerumun anak-anak muda dan seorang perempuan paruh baya. Sebab berjarak sepelemparan batu, maka obrolan dan gerak-gerik mereka pun saya tahu.

"Ngalkamdulilah, entok mayan okeh dina iki yak. Inyong seneng kiyek. Rika sing andum Yu Darmi."

Saya tersenyum. Dari logat ngapaknya, saya menduga di antara mereka berasal dari daerah kulonan. Sekitaran Tegal. Tapi nama Yu Darmi mengingatkan saya pada tokoh serial komedi kartun animasi yang langganan kasbon di warung Bu Inah, istri Pak Somat. Atau mungkin anak-anak muda dalam kerumunan itu ada Dudung, Aldo, dan Nipon. Hayya, owe olang tak tahulah.

Mereka lantas beringsut. Menuju meja dan duduk di kursi bersanding dengan saya. Dari kaos yang dikenakan, tertulis "Angklung New Kharisma". Musisi jalanan yang tak biasa. Dalam hitungan menit, saya bisa gantian berayun tawa. Berbagi ceria dengan cerita.

Beberapa di antara mereka memang bukan warga pribumi Jogja. Bukan pula saudara sebab berasal dari kota berbeda. Datang ke kota budaya dengan tujuan sama. Memperjuangkan nasib. Semula ada yang jadi peloper koran, pengasong jajanan, pengamen angkutan, dan sejenisnya. Nasib adalah kesunyian masing-masing. Nasib pula yang mempertautkan mereka dalam simpul persaudaraan. Sadumuk Bathuk, Sanyari Bumi.

Orang lain menjadi saudara. Sementara acap ditemui ikatan batih saudara justru bubrah diakibatkan amuk perkara.
Mereka datang dan pulang bersama. Kecuali Yu Darmi, mereka pun tinggal di kontrakan yang sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Tapi magrib keburu datang. Kita pun sama-sama bergegas pulang.(*)

Tuesday, March 5, 2019

Pakai Otak Dong, Pak!

Seluruh penghuni pesantren Kiai Hamam terlihat sibuk. Beberapa minggu ke depan, pesantren dijadwalkan akan menerima kunjungan bupati yang baru saja terpilih. Sebagaimana layaknya ajaran islam, akrimuu dlaifakum (muliakanlah tamu-tamumu), maka semua penghuni pesantren berlomba-lomba melaksanakan ajaran tersebut.

Alhasil, keadaan pesantren yang sehari-harinya santai dan biasa-biasa saja berubah seratus delapan puluh ribu derajat. Bagian seksi perlengkapan sibuk menata tiap sudut ruangan. Dinding-dinding dicat, pagar-pagar dibenahi, MCK direnovasi, hingga kamar-kamar hunian santri yang biasanya acak-acakan dengan segala macam busana, baik luar maupun dalam, disulap menjadi tempat yang indah nian. Sementara, seksi perdapuran sibuk mempersiapkan menu yang akan disuguhkan pada bupati dan rombongan.

“Ada apa tho, Kang. Semua manusia kok mendadak jadi super sibuk, sih.” tanya Kang Jun, santri yang sehari-harinya biasa dimintai tolong tetangga untuk memetik kelapa.

Cak Kris yang ditanya mengernyitkan kening,”Sampean ini bagaimana tho, Kang. Lha wong pesantrennya bakal kedatangan priyayi agung macam Pak Bupati kok malah ndak tahu. Memangnya kuping sampean itu dimana, sih?” tuturnya kesal.

Kang Jun malah cengengas-cengenges, tak peduli dengan penjelasan Cak Kris. Dalam dunia perpondokan, Kang Jun memang dikenal sebagai santri yang super cuek. Maklum, Kang Jun adalah santri ngenger yang sehari-harinya jarang berada di pesantren. Seharian kadang berada di sawah milik Sang Kiai. Kalau tak ada kerjaan di ndalem, Kang Jun mencari pekerjaan di kampung. Kadang memetik buah kelapa, mengisi jeding tetangga dengan senggot. Singkat kata, hanya pada malam hari saja Kang Jun thalabul ggilmi, ikut kegiatan pesantren.

Hari-hari yang ditunggu pun datanglah. Sejak pagi menjelang, seluruh santri telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan bupati dan rombongan. Petugas kebersihan sejak shalat subuh usai telah melakukan cek dan ricek ke seluruh area. Singkat cerita, Bupati beserta segenap rombongan telah terlihat berjalan-jalan meninjau keadaan pesantren. Mulai dari kantor pengurus, kamar-kamar santri, ruang perpus, dapur, dan yang tak ketinggalan adalah koperasi pesantren yang terletak di ujung sebelah barat.

Setelah puas melihat-lihat, Pak Bupati tiba-tiba saja tercengang ketika sepasang matanya menatap ke sebuah tiang bendera yang terpancang di depan aula. Tiang bendera itu menjulang demikian tingginya hingga bendera yang terpasang berkibar demikian gagahya.

“Berapa tingginya tiang itu?" Pak Bupati tiba-tiba saja bertanya pada salah seorang santri, yang ternyata adalah Kang Jun, yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja telah berada di samping bupati.

Kang Jun yang ditanya tak menjawab. Ia justru berlari begitu saja ke ruang perlengkapan, mengambil seperangkat alat ukur. Lantas, karena terbiasa naik kelapa, dengan sangat cekatan memanjat tiang bendera bak seekor kera, sampai akhirnya Kang Jun berada di ujung yang paling atas.

Seluruh santri, tak terkecuali Pak Bupati, terhenyak. Seluruhnya memendam rasa penasaran, disamping juga diliputi kecemasan yang sangat. Apalagi melihat tiang bendera yang dinaiki Kang Jun pentiang-pentiung tidak kuat menahan berat badannya.

Dalam kecemasannya, Pak Bupati berteriak,”Hei, turun kamu. Turun!”

Mendengar teriakan Pak Bupati, Kang Jun melongok ke bawah. Iia langsung melorot turun sebelum sempat menyelesaikan pekerjaan mengukur ketinggian tiang.

“Kamu ini tolol, apa bagaimana,” tukas pak Bupati seketika,”Mestinya kamu mikir, pakai otak!” Tukas Pak Bupati sambil menunjuk-nunjuk jidatnya.

“Maksud, Bapak?” Kang Jun hanya melongo.

“Kalau memang ingin mengukur, mestinya kamu rubuhkan itu tiang. Kemudian kamu ukur di atas tanah. Jadi ndak usah petangkri’an seperti yang kamu lakukan barusan. Kalau kamu jatuh, kamu bisa celaka, tolol!”

“Lho, Pak Bupati ini bagaimana?” tiba-tiba saja Kang Jun menjawab.

Semua penghuni pesantren kaget.

“Pak Bupati tadi bertanya ketinggian tiang, tho?”

Pak Bupati mengangguk.

“Mestinya Bapak yang harus pakai otak. Mikir dong, Bapak!” ganti Kang Jun yang menunjuk-nunjuk jidatnya. "Kalau tiang itu saya rubuhkan, kemudian saya ukur di atas tanah. Itu bukan tinggi, itu panjang namanya, Pak!”

Semua santri pun makin terkesima, sementara Kiai Hamam hanya tersenyum dikulum melihat kejadian itu. Oalah, Kang Jun..Kang Jun. (*)

Saturday, February 23, 2019

Melihat Dunia dari Secangkir Teh

Melihat Dunia dari Secangkir Teh

Siapa tak kenal dengan Emha Ainun Nadjib. Mbah Nun, demikian beliau kerap dipanggil sekarang, adalah sosok multidimensi. Berbagai status disematkan padanya mulai dari budayawan, penyair, seniman, ustadz, hingga ulama dan kiai. Meski tak berijazah legal formal tapi pemikiran-pemikiannya liar, 'nakal', dan cenderung menabrak mainstream. Tak heran jika Gus Mus pernah menjuluki beliau sebagai kiai tanpa surban, santri tanpa sarung, guru tanpa sekolah, ksatria tanpa kuda, haji tanpa peci, sarjana tanpa wisuda, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, ketika membuka catatan-catatan lama, saya menemukan dua hal menarik yang pernah diungkapkan oleh Mbah Nun. Ringan sebetulnya, tapi penting bagi siapapun yang bersedia membuka diri terhadap proses dan cara berpikir, yaitu tentang Melihat Dunia dari Secangkir Teh dan Membuka Gudang Ilmu. Lho!
Baca juga: Lelaki yang Bercengkrama dengan Mimpi
Belajar memang tak selalu identik dengan sekolah. Belajar bisa kapan saja dan di mana saja, tergantung bagaimana manusia mengolahnya. Bahkan ketika melihat secangkir kopi, sebatang kretek, atau segelas teh.

"Nggak usah jauh-jauh," demikian dikatakan Mbah Nun, "Teh misalnya, jika Anda minum teh tiap pagi, tapi gagasan Anda tentang teh tak ada perkembangan. Ya sama saja. Sampai kapanpun Anda hanya berpendapat bahwa teh itu kecoklat-coklatan, dimasukkan gula, dimasukan airnya, diminum, selesai."

"Tidak ...! Tidak hanya itu. Anda harus berlatih perkembangan berpikir. Bahwa melalui secangkir teh, Anda bahkan bisa melihat dunia. Sewaktu melihat teh, Anda lantas teringat petanian teh, berapa manusia yang nasibnya sama dengan petani teh, sistem pemerintah dalam menangani teh, monopoli pemerintah tentang teh, dan sebagainya."

"Begitu juga ketika melihat sebatang kretek, jangan berhenti hanya pada rokok membunuhmu, rokok merugikan kesehatan, dan semacamnya. Tapi berpikirlah mengapa sampai lahir iklan semacam itu. Rokok hubungannya dengan "perang" dalam dunia farmasi, mutu tembakau indonesia yang tak ada duanya, kebijakan pemerintah terhadap petani tembakau, hingga terapi kesehatan yang justru memanfaatkan asap rokok."

Lantas, bagaimana dengan membuka gudang ilmu?

"Jika ingin membuka gudang ilmu dengan mudah," tutur Mbah Nun, "Maka pertama, Anda harus melatih kepekaan, kecerdasan, imajinasi, analisa, dan lain-lain terus menerus. Kalau sudah dilatih, nanti nggak sukar memikirkan masalah, karena sudah terlatih."

"Kedua, yang namanya gudang ilmu itu luas. Banyaknya ilmu Anda tergantung pada aktifitas Anda dalam mengelola kepekaan, kecerdasan, imajinasi dan analisa. Kalau Anda cangkir, maka ilmu yang Anda dapatkan sebesar cangkir. Jika Anda drum, maka ilmu yang Anda dapatkan sebesar drum. Sekarang terserah Anda, mau jadi cangkir, jadi drum, atau menjadi sungai."
Baca Juga: Kopi Joss, Jangan Omong saja, Suu!
"Ketiga, Anda harus menjadi kunci untuk membuka gudang ilmu. Untuk mencari kehendak Allah Anda harus berlatih terus. Anda tidak bisa menendang bola yang tingginya satu meter dan bisa memasuki gawang, kecuali Anda harus latihan terus walaupun kadang-kadang salah. Anda jangan berpikir setelah saya kasih resep Anda langsung bisa. Tidak!"

"Sekarang Anda boleh ambil seratus sosiolog dan suruh pergi bersama saya menuju sebuah kampung. Mereka telah memiliki ilmu banyak dari kampus, dari sekolah, serta telah mengetahui banyak cara menendang bola. Yang menjadi persoalan, apakah cukup hanya tahu bagaimana menendang bola? Tidak bukan?"

"Begitu juga dengan Anda yang sudah cukup tahu bagaimana menendang bola dengan baik, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah “what next?” Apa yang akan Anda lakukan sesudah mengetahui?"

Begitulah, alam seisinya adalah sekolah kehidupan yang tak ada habisnya. Ayat tuhan bukan hanya qauliyah, tapi ada ayat-ayat kauniyah. Itu semua adalah media bagi manusia untuk belajar dan berproses.(*)

Thursday, February 14, 2019

Wibawa Guru dan Geremengan Pakde Mus


"Sangat merendahkan martabat, tidak mengindahkan harga diri. Bagaimana bisa, seorang guru hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa diperlakukan muridnya semacam itu?" Pakde Mus bersungut-sungut geram. Gemeretak giginya menunjukkan ia sangat emosional ketika Kang Narto menunjukkan padanya sebuah video, seorang murid begitu pongahnya memperlakukan gurunya di kelas dengan tak beradab.
"Jika saya gurunya, sudah saya lumat habis itu anak. Memang dianggapnya kelas itu terminal, yang bisa berbuat seenak udelnya. Terminal saja masih ada aturan, bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. Itu kelas, di sekolah, tempat dimana akhlak dan etika dibelajarkan." suara Pakde makin meninggi.

"Guru sekarang serba salah, Pakde. Penuh dilematis. Jika ia melakukan seperti yang pakde katakan, ceritanya akan lain," Kang Narto yang duduk di hadapannya menyela.

"Lain bagaimana?"

"Kalau Pak Guru bertindak, tak usah jauh-jauh menamparnya, sekedar menjewer saja umpamanya, orang tuanya nanti tak terima dan melaporkannya ke polisi. Pak Guru akan berhadapan dengan hukum, dengan komisi perlindungan anak, dengan HAM. Ujung-ujungnya ia masuk penjara. Lantas, bagaimana nasib anak istrinya jika Pak Guru mendekam di balik jeruji?"

"Halah, HAM lagi HAM lagi, lagi-lagi HAM." tukas pakde sengit, intonasinya menirukan salah seorang komedian di televisi, "Apa yang diperbuat HAM jika anak itu kelak jadi brandal, tak tahu sopan santun, tak mengerti bagaimana mestinya bersikap kepada sesama manusia."

Kang Narto hanya terdiam. Tak mengerti bagaimana harus menanggapi pertanyaan Pakde Mus. Ia pikir, benar juga yang dikatakan lelaki paruh baya itu. Selama ini, selalu HAM yang dijadikan alasan jika ada persoalan anak di sekolah. Apalagi, orang tua kadang tak selalu bisa berbuat bagaimana mestinya menjadi orang tua, tak seperti orang tuanya dulu, ketika ia masih anak-anak.
Baca Juga: Balada Seribu Guru
Sejurus kemudian, suasana tampak hening. Pakde Mus menyerahkan kembali HP kepada Kang Narto dengan menghela nafas dalam-dalam. Kang Narto menerimanya tanpa suara. Di meja, berjejer cangkir kopi dan beberapa bungkus kretek. Pakde Mus lantas mengambil cangkir, meneguk isi di dalamnya beberapa teguk, ketika sebatang kretek diselipkan di bibirnya, asap tembakau itu berkeliaran memenuhi udara.

"Guru sekarang memang berbeda," Pakde Mus kembali bersuara. Kali ini nada suaranya datar, tak lagi meledak-ledak.

"Video itu jelas menggambarkan betapa Pak Guru itu sama sekali tak memiliki wibawa di hadapan murid-muridnya. Bagaimana bisa ia berada di kelas, sedang murid tak menghargai keberadaannya."

"Tak jelas video itu, Pakde. Apa Pak Guru itu sedang mengajar, atau kebetulan hanya masuk kelas saat mendengar kegaduhan di kelas karena kelas kosong." sanggah Kang Narto.

"Tak jelas bagaimana. Jelas-jelas Pak Guru di dalam kelas. Tapi anak-anak berkeliaran. Mereka bergurau tak tahu aturan. Bahkan terang-terangan salah seorang di antara mereka merokok, lantas memperlakukan Pak Guru seperti anak kemarin sore, seolah-olah mau menonjok mukanya, dan siswa lainnya bersorak sorai seolah-olah itu tontonan badut atau komedi bedes. Di mana wibawa guru ketika itu?"

Kang Narto kembali tak buka suara. Ia duduk tepekur mendengarkan Pakde Mus yang mulai menyerocos.

"Mungkin betul kata sampean. Pak Guru serba salah dalam kondisi seperti itu. Berada pada situasi dilematis antara bertindak atau tidak bertindak menghadapi perilaku anak yang demikian. Atau, Pak Guru memang terlalu sabar dan tak mau mengambil resiko di tengah pergeseran cara pandang orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Tapi membiarkan anak berbuat sedemikian pongah dan tak beretika bukanlah sikap yang arif bagi seorang guru menurut saya."

"Lantas menurut Pakde?"

"Suatu saat, anak-anak perlu dihadapkan dengan kekerasan, agar ia mengerti keteguhan dan ketegasan. Agar ia tahu martabat dan harga diri."

"HAM Pakde, HAM!"

"Kekerasan tidak selamanya buruk, asal diberikan sesuai dengan porsinya. Kalau saya, saya lebih memilih dipenjara daripada membiarkan anak-anak tak beretika. Persetan dengan HAM. Kekerasan dibutuhkan agar anak bermental baja dan tidak cengeng. Kalau segala bentuk kekerasan itu buruk dan dilarang, mengapa Rasul menyuruh memukul anak, jika si anak tak bersedia menjalankan shalat pada usia tertentu? Kekerasan tak sama dengan penyiksaan atau penindasan."

Lelah berkata, Pakde Mus lantas menengadah. Sorot matanya menembus jauh ke ruang hampa. Pikirannya menerawang ke masa silam, memendarkan wajah gurunya di ruang kesadarannya secara tiba-tiba.

Ia ingat betul dengan tabiat gurunya waktu itu. Guru yang begitu dihormati dan disegani olehnya, juga kawan-kawannya. Perawakan gurunya memang kecil, seolah-olah tak berdaya, tapi aura kewibawaannya demikian kentara.

Kala itu, jangankan memperlakukan gurunya seperti di video itu, bahkan mendengar telapak kakinya saja, ia dan teman-temannya sudah tertata sikapnya. Ia tidak ditakuti, tapi anak-anak segan terhadapnya. Ia mengajar, bahkan sebelum mengajar.

"Itulah wibawa. Itulah perlunya olah batiniah," Pakde Mus membatin.

"Pak guru hari ini memang harus banyak belajar. Tidak cukup hanya mengasah intelektualitas, tapi sisi-sisi ruhani harus disentuh, agar energi itu memancar dari dirinya, berpendar menerangi jalan anak didiknya."

"Sayangnya, Pak Guru sekarang terlalu sibuk, lebih tepatnya disibukkan dengan hal remeh temeh, dengan kertas-kertas berserakan, dengan rumbai-rumbai permukaan yang begitu menggoda. Entah, bagaimana nasib pendidikan ini ke depan."

Langit mendung. Anak-anak berlarian pulang. Pakde Mus tergeragap. Suara dengkuran Kang Narto di depannya membuat angannya buyar seketika. Gerimis perlahan turun. Kopi tinggal ampas.(*)

Monday, February 11, 2019

Sekolah Biasa yang Luar Biasa

Sanggar Anak Alam di Nitiprayan Bantul DIY
Sanggar Anak Alam (SALAM) Nitiprayan Bantul DIY
KOMUNITASNGOPI.com - “Pendidikan itu tidak harus sekolah, tapi orang dibilang tidak berpendidikan jika tidak bersekolah. Inilah dosa pertama sekolah!” Itulah kalimat pertama yang dituturkan oleh penulis Buku Sekolah Biasa Saja, Toto Rahardjo, pada suatu ketika dalam acara bedah buku yang ditulisnya. Sekolah Biasa Saja adalah upaya Mas Totok menjelasakan tentang SALAM, Sanggar Anak Alam, sebuah sekolah alam alternatif yang diinisiasinya bersama istrinya di Yogyakarta.

Jika ke Yogjakarta, mampirlah ke Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Bantul Yogyakarta. Di sana kita akan menemui sebuah sekolah yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Ya. SALAM, Sanggar Anak Alam. Tidak seperti sekolah lain, SALAM adalah sekolah biasa-biasa saja, yang proses pendidikannya luar biasa berada di areal persawahan penduduk yang sama sekali tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat sekitarnya.

SALAM merupakan ikhtiyar Mas Totok dalam menjawab permasalahan pendidikan yang kerap menghampiri. Ia meyakini, penyelenggaraan pendidikan tidaklah cukup berada di dalam ruang kelas antara guru dan siswa. Lebih dari itu, diperlukan proses belajar yang secara holistik terbangun relasi dengan orang tua murid dan lingkungan setempat.

Itulah sebabnya SALAM tak 'berjarak' dengan kehidupan sekitar dengan membiarkan siswanya terjun secara langsung dalam kehidupan nyata. Proses belajar yang dilakukan adalah berusaha menemukan nilai-nilai serta pemahaman hidup yang lebih baik. Itulah hakekat dari “Sekolah Kehidupan”. 
“Sekolah itu asal katanya schola, artinya waktu luang. Dulu orang Yunani mengisi waktu luang dengan mengunjungi suatu tempat dan di sana diberi wejangan oleh seorang bijak. Masalahnya, sekolah yang ada saat ini bukan hanya mengalami masalah, bahkan menjadi masalah. Sekolah yang oleh banyak orang diidentikkan dengan pendidikan rupa-rupanya tak selalu merupakan tempat pendidikan. Sebab tak sedikit sekolah yang sejatinya lebih pas disebut perusahaan, dengan guru sebagai pekerjanya,” kata Toto Rahardjo.
Pernyataan itu memang menampar dan tak enak didengar. Tapi memang demikian nyatanya. Banyak sekolah yang meletakkan dirinya tak ubahnya perusahaan, dengan cara berpikir sama seperti mengelola bisnis, mendirikan toko kelontong, dengan harapan bisa menguntungkan secara ekonomi.

"Padahal, mendirikan sekolah itu lebih dekat dengan mengabdi pada kemanusiaan yang posisinya terletak di pelosok kesunyian, " tutur Toto Rahardjo lebih jauh,

Toto Rahardjo adalah seoarang autodidak, menghabiskan masa mudanya sekitar 20 tahun lebih aktif sebagai fasilitator pendidikan kerakyatan (popular education) dan pengorganisasian rakyat terutama di Jawa Tengah, Yogjakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Papua bersama alm. Romo Mangunwijoyo di Kali Code. Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST, Direktur ReaD (Research Education and Dialogue), Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia, pengarah di Indonesian Volunteers for Social Movement (INVOLMENT), pendiri Akademi Kebudayaan Yogja (AKY), juga sebagai salah seorang penggerak utama advokasi hak-hak petani.

Buku setebal 252 halaman ini bukan hanya teori, tapi berisi pemikiran yang sudah menjelma tindakan konkret selama 17 tahun dalam mengelola Sanggar Anak Alam (SALAM)  bersama istri tercinta Sri Wahyaningsih, juga para fasilitator lainnya.

Ketika menemani suaminya dalam sebuah perjalanan acara, Bu Wahya, demikian panggilan akrab istri Mas Totok juga angkat bicara. Menurutnya, salah satu keunikan SALAM adalah menjadikan semua komponen untuk sama-sama saling belajar.

"Di SALAM, guru mengajar itu haram, karena anak adalah mahaguru,” cetus wanita itu.

Lebih lanjut Bu Wahya menuturkan, bahwa ia melihat ada kepentingan-kepentingan jangka panjang pihak luar yang patut diwaspadai dalam pendidikan di negeri ini. Salah satu contoh adalah gerakan mencuci tangan. Menurutnya, mengajarkan hal ini secara propagandis kepada anak Indonesia, merupakan penjauhan anak bangsa dari jati diri dan negerinya.

“Ini bangsa agraris, tapi anak-anak diajari mencuci tangan dengan sabun dengan segitu masif. Secara tak langsung, anak akan tumbuh dengan pemikiran kalau pegang tanah berkotor-kotor itu tidak baik. Ini pendidikan yang menjauhkan anak dari dirinya sendiri,” cetus Wahya.
Buku Sekolah Biasa Saja Karya Toto Rahardjo
SALAM diinisiasi oleh Toto Rahardjo sebagai respon atas ketidakberesan-ketidakberesan paradigma dan sistem pendidikan yang ada. Yang menjadi perhatian awal dalam mengonsep SALAM adalah faktor apa saja yang membuat siswa malas sekolah. Dari sanalah ia kemudian membangun SALAM.

Toto kemudian membeberkan sejarah Ki Hadjar Dewantoro dengan Taman Siswanya. Menurutnya, yang patut digarisbawahi adalah penggunaan kata “Taman” dalam menggambarkan proses penyelenggaraan pendidikan. Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar yang menyenangkan. Kenyataan yang terjadi sekarang, sekolah yang ada dimana-mana itu taman atau penjara?

Lebih lanjut Toto menyayangkan sikap pemerintah yang dari rezim ke rezim tidak pernah memberi harga pantas terhadap prinsip Taman Siswa. Prinsip Taman Siswa sering digembar-gemborkan dalam pidato, namun tak pernah dijadikan indikator penting dalam rencana dan tata laksana pendidikan. Sekolah negeri kita lebih mengacu pada pendidikan Barat, dengan melibas habis bakat dan potensi anak. Anak-anak disuruh mempelajari apa yang tidak mereka butuhkan. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi generasi follower, generasi yang bermental ikut-ikutan.

Untuk itulah, ia melakukan perlawanan dengan SALAM. Di salam, tak ada guru yang mengajar, pun tak ada mata pelajaran. Yang ada adalah laboratorium komunitas belajar dengan penghuninya warga belajar dan fasilitator. Mereka saling belajar dan bekerja sama. Pendidikan di SALAM berbasis riset. Warga belajar memperoleh banyak pelajaran setelah melakukan riset. Riset yang dilakukan merupakan pilihan masing-masing, sesuai minat masing-masing. Dari sebuah riset sederhana, mereka akan memperoleh berbagai bidang pelajaran. Matematika, sains, ilmu sosial, ekonomi, geografi, dan sebagainya.

Semua hal terkait pengelolaan SALAM, proses pendidikannya, dan lain-lain dikupas habis oleh Toto Rahardjo dalam buku ini. (*)

Friday, February 8, 2019

Berprasangka Baik Kepada Tuhan

Banjir di sebuah Sekolah Di Jabar
Banjir di Sebuah Daerah di Jawa Barat (sumber gambar: Liputan6.com)
KOMUNITASNGOPI.com - ALKISAH, dahulu kala hiduplah dua orang raja yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda, seorang Raja mukmin dan Raja kafir. Raja mukmin tentu saja sangat dicintai rakyatnya, karena perilakunya yang adil dan selalu menomorsatukan kepentingan rakyat. Sebaliknya, Raja kafir begitu dibenci karena perilakunya yang sewenang-wenang.

Suatu hari, Raja kafir menderita suatu penyakit. Setelah diperiksa oleh tabib istana, satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan penyakit sang raja adalah seekor ikan yang hidup di tengah samudra. Sayangnya, ikan yang dimaksud waktu itu tidak sedang musimnya, sehingga para tabib tak bisa berbuat apa-apa. Disamping sulit, untuk mendapatkan ikan tersebut adalah suatu hal yang mustahil.

Namun Tuhan ternyata berkehendak lain. Tuhan lantas mengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan-ikan yang dibutuhkan supaya keluar dari lubang di dasar laut, sehingga orang-orang dengan begitu mudah dapat menangkapnya. Para tabib, dan seluruh masyarakat awam tentu saja heran. Mereka menganggap kejadian itu suatu mukjizat luar biasa. Walhasil, ketika ikan itu berhasil ditangkap, Raja segera memakannya. Ia pun sembuh dari sakitnya.

Beberapa waktu kemudian, Raja mukmin juga menderita penyakit yang sama seperti yang dialami Raja kafir. Sebagaimana ihwal Raja kafir, penyakit Raja mukmin pun bisa disembuhkan dengan seekor ikan. Kebetulan, ikan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit sang Raja sedang berada pada musimnya, sehingga membuat para tabib optimis bahwa raja akan segera sembuh karena akan dengan mudah dapat menangkap ikan yang dimaksud.

Namun sekali lagi, Tuhan juga berkehendak lain. Tuhan justru mengutus kepada para Malaikat untuk menggiring ikan-ikan yang sedang berenang di permukaan laut agar masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Para tabib tentu saja heran. Singkat cerita, ikan-ikan yang mestinya mudah didapatkan untuk obat itu tak bisa diperoleh. Raja pun terus didera penyakit tak sembuh-sembuh.

Para Malaikat dan penduduk bumi tentu saja merasa keheranan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa ketika Raja kafir membutuhkan ikan itu, dengan begitu mudahnya ikan didapat, padahal keberadaan ikan saat itu tidak dalam musimnya. Sebaliknya, ketika Raja mukmin yang sakit, ikan yang dibutuhkan justru menghilang entah kemana, sedangkan waktu itu adalah musimnya ikan itu muncul ke permukaan.

Dalam kebingungan itu, Tuhan lantas mewahyukan kepada Malaikat langit dan kepada para nabi zaman itu,”Inilah Aku, Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Maha Kuasa. Tidak menyusahkan apa yang Aku berikan. Tidak bermanfaat bagiKu apa yang Kutahan. Sedikitpun Aku tak menzalimi siapapun. Adapun Raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mendapatkan ikan yang bukan musimnya. Dengan begitu, Aku telah membalas kebaikan yang pernah ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang, supaya kelak ketika ia datang kepadaKu pada hari kiamat, tidak ada lagi kebaikan-kebaikan pada lembaran amalnya. Ia akan aku masukkan ke neraka karena kekufurannya.”

“Adapun raja yang ahli ibadat itu, Aku tahan ikan pada saat musimnya, karena ia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahan itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya supaya kelak ketika ia datang padaKu di hari kiamat dalam keadaan suci tanpa dosa. Dan dia pun akan aku masukkan surga dengan rahmatKu.”

****

Sepenggal kisah diatas mungkin sebuah kisah yang ringan. Namun sungguh, mampu menyuguhkan pelajaran amat berharga untuk menjawab segala kebingungan kita tatkala menjumpai hal-hal yang musykil terkait keputusan Tuhan.

Tak dimungkiri, ada banyak kejadian-kejadian dalam kehidupan ini yang membuat manusia mengernyitkan kening. Ada seorang manusia yang begitu tulus hatinya. Ia arungi kehidupan dengan kesadaran bahwa tugas seorang hamba hanya mengabdi kepada tuannya. Sekuat-kuatnya perintah Tuhan dijalankan. Sedangkan larangan dan batasan-batasan selalu diusahakan agar tak diterjang. Namun kenyataannya, hidup orang tersebut ternyata selalu diwarnai kesengsaraan demi kesengsaraan tiada henti.

Pada saat yang sama, ada manusia lain yang berbuat semau-maunya. Jangankan memperhatikan perintah dan larangan, bahkan dengan Tuhan pun sangat berani. Baginya, hidup di dunia adalah segalanya. Menjadi raja adalah segalanya. Sehingga, tak ada kemungkinan lain bagi orang tersebut selain mengarungi kehidupan ini dengan logikanya sendiri. Namun faktanya, secara materi orang tersebut sangat berkecukupan. Setiap keinginannya selalu dipenuhi oleh Tuhan. Para kiai menyebut fenomena ini sebagai istidraj.

Waba’du. Tuhan memang berhak melakukan apa saja. Semusykil apapun keadaan yang menimpa, selalu berprasangka baik pada-Nya, itulah yang terutama. Maka, dalam perjalanan hidup, sedahsyat apapun penderitaan, sesunyi apapun perjalanan, jika jalan yang dipilih adalah jalanNya, itu merupakan rahmat Tuhan tak habis-habis. Dan tak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukurinya.

Terserah Tuhan mau meletakkan kita di mana. Kalau sampai akhir hayat nanti perjalanan hidup ini tetaplah sunyi - dan itu mungkin tak sesuai dengan keinginan kita -, anggaplah kita adalah Raja yang mukmin sebagaimana terukir dalam sepenggal kisah diatas.(*)

Wednesday, January 23, 2019

Selamat Datang di Komunitas Ngopi

Blog Media Silaturahmi

Komunitas Ngopi adalah blog media silaturahmi bagi yang bersedia berbagi, saling menginspirasi, tentu saja tak lepas dari hangatnya secangkir kopi. Awalnya, Komunitas Ngopi ini terbentuk akibat hiruk pikuk pendataan dalam dunia pendidikan dengan segala keluh kesahnya. Mulai dari awal-awal munculnya Dapodik, sebuah sistem managemen pendataan di lingkup Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Keniscayaan permasalahan pendataan itulah yang menyebabkan Komunitas Ngopi ini terbentuk menjadi semacam tempat untuk saling mencari solusi.

Seiring berkembangnya waktu, yang menjadi topik utama dalam Komunitas Ngopi ini ketika melingkar bukan hanya melulu tentang dunia pendataan. Lebih jauh, obrolan-obrolan yang mengalir adalah terkait tugasnya sebagai guru dalam dunia pendidikan. Tentang Kegiatan-kegiatan pengembangan diri semacam seminar-seminar pendidikan, diklat inovasi pembelajaran, workshop kepenulisan, dan lain-lain.

Bahkan, di tengah dunia yang sekarang ini katanya telah memasuki era revolusi industri 4.0, para guru yang tergabung dalam Komunitas Ngopi ini juga berusaha memberdayakan dirinya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pustekkom, seperti pembuatan bahan ajar berbasik TIK, pembuatan Video Pembelajaran, dan lain-lain. Tujuannya tak lain agar terjadi peningkatan kualitas pembelajaran.

Meskipun dilatarbelakangi persamaan profesi, siapapun boleh bergabung dalam komunitas ini. Syaratnya menjaga kesadaran mereguk hangatnya kopi dengan tidak ada yang merasa ‘lebih’ dari yang lain. Bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan dan kekurangan itulah yang harus disinergikan agar yang tercipta adalah saling menebar manfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah jika ia bermanfaat bagi manusia lain?

Walhasil, di tengah budaya ngopi yang kian membahana dari hari ke hari. Kita tentu berharap bahwa ngopi tidak hanya sekedar ngopi. Dari secangkir kopi, kreatifitas bisa dipacu sedemikian rupa. Dengan demikian, Komunitas Ngopi semoga bisa menawarkan secangkir inspirasi. Bahwa jika pahit dan manis di aduk dengan takaran yang pas, akan menghasilkan aroma kehangatan yang demikian menggoda.

Sudah ngopikah Anda hari ini?

Tabik....

DomaiNesia