Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

Sunday, April 14, 2019

Herwin Hamid, Guru Inovatif asal Kendari yang Berwawasan Global

Herwin Hamid dinobatkan sebagai Ikon Guru Prestasi
Herwin Hamid dinobatkan Sebagai Ikon Guru Prestasi
"Guru saat ini bukan lagi pahlawan tanda jasa. Tapi, mereka adalah pahlawan pendidikan yang menumbuhkan generasi masa depan. Jika yang diberikan pada anak didiknya adalah cinta dan kasih sayang, maka kelak akan lahir pemimpin bangsa yang penuh dengan kasih sayang. Mereka akan menaburkan cinta dan kasih sayang itu dalam setiap relung kehidupan."

Itulah yang dikatakan Herwin Hamid, guru SMPN 6 Kendari ketika ditanya tentang kepahlawanan. Ungkapan itu tertuang dalam acara Dongeng Kebangsaan episode "Bagimu Negeri" spesial memperingati Hari Pahlawan di Kompas TV beberapa tahun silam. Dipandu Garin Nugroho dan Ayushita, dongeng kebangsaan merupakan program civic education. Program tersebut bertujuan menumbuhkan rasa cinta bangsa lewat pendidikan kebangsaan yang menghibur dan bersahaja.

Sambil sesekali diiringi musik, beragam kisah serta obrolan dihadirkan, baik kisah yang bersumber dari legenda, sejarah maupun buku fiksi hingga kisah personal. Khusus memperingati Hari Pahlawan tahun 2017, tema yang diangkat adalah tentang kepahlawanan. Selain Herwin, narasumber lain yang hadir adalah Abdulah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi Jawa Timur. Juga ada Aleta Baun, seorang aktivis lingkungan dan perempuan dari Nusa Tenggara Timur, dan sutradara film Wage John De Rantau.
Herwin Hamid menjadi Narasumber dalam Dongeng Kebangsaan Kompas TV
Herwin Hamid diundang Sebagai Narasumber Dongeng Kebangsaan di Kompas TV
Herwin diundang dalam acara tersebut kapasitasnya sebagai guru dengan segudang kreatifitas dan prestasi. Seabrek penghargaan pernah diraihnya, baik lingkup nasional maupun internasional. Di tingkat nasional, ia pernah menjuarai Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran Interaktif tahun 2012 sebagai juara pertama.

Dilanjutkan tahun 2013 dan 2014, Herwin kembali berhasil meraih juara pertama tingkat nasional untuk bidang Multimedia Edukasi (M-Education). Bahkan tahun 2014, Herwin juga mendapatkan penghargaan atas prestasinya sebagai juara pertama tingkat nasional untuk Lomba Kreatifitas kategori guru.

"Selama menjadi guru sejak tahun 2006, saya telah memperoleh 14 kali juara dan penghargaan nasional pada berbagai macam kompetisi dan penghargaan dalam bidang pendidikan. Ditambah dua penghargaan internasional," tutur Herwin pada suatu ketika.

Dari banyaknya prestasi itulah, Pemerintah Indonesia lantas mengirimnya untuk mengikuti lomba tingkat internasional yang diselenggarakan di Thailand Tahun 2015. Awalnya, Herwin sempat 'menolak" karena merasa belum pantas. Menurutnya, banyak guru-guru hebat dari Indonesia yang lebih baik dibanding dirinya. Namun setelah diyakinkan, ia pun bersedia. Terbukti, Herwin akhirnya berhasil mendapatkan penghargaan Princess Maha Chakri Award dari Kerajaan Thailand.
Herwin Hamid menerima Penghargaan Maha Chakri Award dari Kerajaan Thailand
Herwin Hamid Memperoleh Penghargaan Princess Maha Chakri Award dari Kerajaan Thailand
Tak berhenti sampai disitu, Herwin Hamid juga satu-satunya guru yang dinobatkan sebagai ikon guru prestasi di negeri ini. Prestasi itu diraihnya setelah mengikuti kegiatan Festival Prestasi Indonesia yang diselenggarakan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-Pancasila) di Jakarta Convention Center pada tanggal 21 dan 22 Agustus 2017. Acara yang digelar untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-72 itu sekaligus pemilihan dan pemberian penghargaan kepada 72 tokoh, salah satunya guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Herwin menuturkan, UKP – Pancasila memberikan penghargaan kepada putra-putri Indonesia terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap 72 ikon berprestasi tanah air yang telah memberikan kinerja positif kepada negara. Ada banyak tokoh nasional yang terpilih menjadi 72 ikon prestasi tersebut, diantaranya adalah Putu Wijaya, Garin Nugroho, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Prof. Taruna Ikrar  sebagai Nominator Inobel Kedokteran 2016, Prof. Khoirul Anwar yang merupakan penemu dan pemegang paten jaringan 4G, serta tokoh-tokoh lainnya.

Sebagai guru IPA, alumni pasca sarjana UNESA itu memulai kreatifitasnya ketika melakukan pembelajaran di kelas. Sebagai guru muda yang memiliki basis di bidang ICT, ia menginginkan siswanya lebih memahami pelajaran yang diberikannya. Jika dibandingkan dengan metode ceramah yang cenderung membosankan, tentu akan berbeda jika pembelajaran dikemas dalam metode yang menarik, apalagi mapel IPA yang abstrak. Maka, ia pun mengvisualisasikannya dalam media interaktif yang lebih menarik minat siswa. Dari situlah, ia terus berkreasi dan berinovasi dalam kegiatan pembelajaran, sesuai dengan tugas yang diembannya. 
Herwin Hamid dalam Acara Seminar Nasional Guru Prestasi di Jakarta
Admin Kompi bersama Herwin Hamid dalam Acara Seminar Nasional Kesharlindung Dikdas di Jakarta Tahun 2017
Saat ini, Herwin Hamid banyak diundang sebagai narasumber seminar maupun workshop di forum lokal maupun internasional. Di forum internasional, ia pernah berbagi pengetahun dan pengalaman di Singapura, Malaysia, Thailand hingga ke Belanda. Pada bulan april 2017, Herwin menjadi pembicara Internasional membahas STEM Education di Princess Maha Chakri Award Forum 2017- Bangkok. Pada kesempatan itu, sekaligus ia juga berbagi pengetahuan dan memberikan pelatihan kepada guru-guru Thailand. Kala itu, ketiga kalinya dia menjadi pembicara di Forum Internasional Pendidikan di Thailand.

"Dari semua yang saya lakukan, saya hanya ingin menginspirasi peserta didik. Seperti diketahui, siswa cenderung mencontoh dan mencari inspirasi dari orang-orang terdekat yang ada di sekitarnya. Karena itulah, saya ingin memberikan teladan dengan memberikannya contoh secara langsung. Meski berada di daerah, tidak mustahil seseorang bisa meraih kesuksesan jika bersedia memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya." demikian imbuhnya.

Begitulah. Herwin Hamid adalah satu dari sekian guru-guru di Indonesia yang telah mampu memberikan warna bagi dunia pendidikan di tanah air. Siapapun tentu berharap, apa yang ditorehkannya akan memantik inspirasi bagi siapa saja, tak hanya bagi siswanya, tapi juga bagi seluruh guru di penjuru negeri ini. Semoga.* (diolah dari berbagai sumber, Red)

Thursday, April 11, 2019

Teladan Moral Kiai Arief Hasan, Santri Kiai Hasyim Asy'ari Jombang

Buku Jejak Keteladanan Kiai Arief Hasan Beratkulon
KH. Arief Hasan, Pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyiin Beratkulon Kemlagi Mojokerto
Nama Kiai Arief Hasan memang belum begitu akrab di telinga masyarakat. Akan tetapi bagi masyarakat Mojokerto dan sekitarnya, nama Kiai Arief Hasan sudah tak asing. Beliau adalah santri KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1930-an. Walau tak begitu lama nyantri di Tebu Ireng, namun Kiai Arief Hasan berhasil mendirikan Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in Beratkulon Kemlagi Mojokerto yang terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.

Sejak wafat tanggal 31 Oktober 1988, kepengasuhan pesantren diamanatkan kepada putranya, yaitu Kiai Arifin dan Gus Irfan. Kiai Arifin dipercaya mengembangkan pendidikan di pondok pesantren dengan tradisi kitab kuningnya. Sedangkan lembaga pendidikan formal diserahkan sepenuhnya pada Gus Irfan, yang merupakan adik Kiai Arif. Meski dalam pandangan mata kebanyakan orang telah wafat, namun sejatinya Kiai Arief hanya istirahat. Ruhnya telah menjelma kekuatan moral-spiritual yang dahsyat. Apalagi, menurut penglihatan mata batin beberapa kiai sepuh, Kiai Arief selalu terlihat mengawal Kiai Arifin.

Seturut pengakuan keluarga, kerabat, dan sejumlah santri generasi awal, Kiai Arief telah mewariskan keteladanan moral yang layak ditapaktilasi. Ini sekaligus menjadi petanda bahwa Kiai Arief merupakan sosok panutan yang begitu akrab dan benar-benar dekat di hati mereka. Keteladanan moral yang diwariskan Kiai Arief tetap abadi, terpatri di hati kemudian dijadikan cermin pantulan dalam setiap derap langkah meniti kehidupan.

***
Kiai Arief dikenang masyarakat sebagai seorang figur kiai kharismatik yang gemar bersilaturrahmi. Meski para tamu datang silih berganti ke rumahnya, namun Kiai Arief tak segan bertandang ke rumah masyarakat sekitar pondok pesantren. Bisa jadi, konsistensi silaturrahmi ini didorong oleh seruan moral hadis Nabi, bahwa barangsiapa yang menghendaki agar dilapangkan rezeki dan dilimpahi umur yang berkah, hendaklah rajin menyambung silaturrahmi.

Terkadang silaturrahmi dilakukan Kiai Arief setelah memimpin salat berjamaah bersama para santri di pondok pesantren, tapi tak jarang pula memang disengaja meluangkan waktu untuk silaturrahmi. Tanpa ada maksud tertentu, kecuali silaturrahmi itu sendiri. Karena faktor inilah, Kiai Arief lantas dikenal sebagai seorang kiai yang populis, kiai yang merakyat, dan sangat dekat di hati masyarakat.

Dengan silaturrahmi, tampak jelas bahwa Kiai Arief ingin menghilangkan sekat-sekat kultural antara dirinya dengan masyarakat. Ia hendak meneguhkan bahwa sebagai seorang kiai yang telaten melayani masyarakat, ia tidak lagi menjadi “milik” keluarga semata, tetapi menjadi bagian dari seluruh masyarakat. Sehingga ketika sekat-sekat kultural antara dirinya dengan masyarakat telah tak berjarak, maka masyarakat takkan merasa canggung untuk menumpahkan keluh kesah dan beban dari segudang persoalan hidup yang terus menghimpit. Dalam posisi inilah Kiai Arief mampu mengayomi masyarakat sepenuh hati setakaran nurani.

Lebih dari sekadar itu, Kiai Arief juga amat mencintai dan menyayangi anak-anak yatim. Ia sadar bahwa anak-anak yatim adalah adalah sebuah generasi yang tak genap mendekap kasih sayang keluarga. Dalam usia yang masih amat belia, mereka, anak-anak yatim, telah ditinggal pergi, entah ayah atau ibunya, menuju ke alam baka.

Kecintaan Kiai Arief terhadap anak-anak yatim diwujudkan dengan memberi, bisa berupa barang atau uang. Meski sepintas bisa jadi nilai nominalnya tak seberapa, namun dengan pemberian itu anak- anak yatim merasakan curahan kasih sayang yang selama ini kerap terabaikan. Maka, tepatlah bila dalam sebuah hadis Nabi dinyatakan, bahwa orang yang gemar menyantuni anak-anak yatim, kelak di Hari Kebangkitan akan bersanding dengan Nabi sebagaimana kedekatan jari telunjuk dan jari tengah.

***
Warisan keteladan Kiai Arief yang lain adalah sikap amanah atau menjaga kepercayaan. Memang, menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah, akan tetapi menjaga kepercayaan yang telah diamanatkan sudah pasti jauh lebih susah. Sikap amanah inilah yang menjadi salah satu ciri khas posisi manusia selaku wakil Tuhan di muka bumi (baca: khalîfatullâh fî al-ardl).

Bahkan, ketika semula amanah Tuhan dalam pengertian mengemban misi-misi keagamaan ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, mereka semua menolak sebab takut takkan sanggup menjaganya, khawatir mengkhianatinya. Namun, saat ditawarkan kepada manusia, ia mau menerima (lihat, QS. al-Ahzab [33]: 72). Padahal, menjaga amanah itu amat berat. Maka, tak heran jika Nabi Muhammad menegaskan betapa orang yang tidak mampu menjaga amanah termasuk dalam kategori kaum munafik, kaum hipokrit yang bermuka ganda.

Inilah pijakan doktrinal kenapa Kiai Arief berusaha sekuat tenaga untuk menjaga sikap amanah. Pernah, Bahri, santri asal Bangperut, diminta Kiai Arief untuk membersihkan ruang tengah, termasuk deretan kitab- kitab Kiai Arief di lemari. Dengan telaten Bahri menyingkirkan debu yang menempel pada deretan kitab. Satu per satu kitab-kitab itu dibuka. Hingga, ia terkejut tak alang kepalang sewaktu membuka salah satu kitab, secarik kertas dan berlembar-lembar uang ribuan jatuh berserakan.

Anehnya, berlembar-lembar uang ribuan itu sudah lingsut dan berjamur (Jawa: bekuturen). Ini menjadi pertanda bahwa berlembar- lembar uang ribuan itu jarang disentuh, apalagi dipergunakan. Ketika ditanyakan ihwal berlembar-lembar uang ribuan itu, Kiai Arief menjawab bahwa uang itu adalah uang kas, bukan uang miliknya sendiri. Karena itu, uang kas tersebut dijaga dengan rapi dan pantang digunakan untuk kepentingan pribadi. Inilah bukti betapa amanahnya Kiai Arief.

Peristiwa yang cukup memiriskan hati juga terjadi ihwal amanah ini. Suatu hari, Kiai Arief memanggil seorang santri. Bukan karena ia nakal, bukan pula untuk dites pengetahuan keagamaannya. Akan tetapi, untuk kepentingan yang tampaknya sangat sepele. Kiai Arief ingin berbagi rezeki dengan para santri. Ia menyuruh santri tersebut untuk membawa makanan agar dimakan bersama dengan para santri lain di pondok pesantren.

Beberapa saat setelah santri itu beranjak pamit dari hadapannya, Kiai Arief ingin menyusul ke pondok pesantren. Agaknya ia ingin melihat betapa guyubnya para santri ketika makan bersama. Tapi, tak dinyana, Kiai Arief melihat santri yang disuruhnya tadi tengah khusyuk makan sendiri di bawah beduk di serambi mushola. Entah kenapa, makanan itu dihabiskan, dan dengan serta merta mengabaikan perintah Kiai Arief untuk berbagi bersama teman.

Fenomena itu membersitkan simpul bahwa santri tersebut tak bisa menjaga amanah. Kiai Arief mendatanginya, menegur seraya berujar bahwa jika ia tidak bisa mengubah perilaku tersebut dan seterusnya mengabaikan pentingnya menjaga amanat, kelak ia akan tersisih dari pergaulan sosial dan terhempas dari siklus harmoni kehidupan bermasyarakat. Ternyata, menurut beberapa saksi sumber, teguran Kiai Arief menuai kenyataan. Santri tersebut benar-benar tersisih dan terhempas dari dinamika kehidupan sosial. Na’ûdzu billâhi min dzâlik!

***
Begitulah, Kiai Arief telah mewariskan teladan kebaikan (uswah hasanah) yang sangat berharga. Andai diibaratkan, sosok Kiai Arief serupa intan permata di mana setiap sudutnya memantulkan kilau-kilau cahaya yang berpendaran. Setiap orang yang sempat berguru kepadanya, mengenal karakter kepribadiannya, dan pernah bersinggungan langsung dengan kehidupannya, sudah tentu bisa menangkap denyar-denyar cahaya kebajikan yang menguar pelan namun penuh kepastian. Kinilah saatnya kita meneruskan perjuangan Kiai Arief, sekaligus bermakmum di belakangnya seraya menyusuri jejak-jejak keteladanan yang telah ditinggalkan.(*)

*)tulisan ini digunting dari Buku Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, yang ditulis oleh alm. Saiful Amin Ghofur.

Sunday, April 7, 2019

Bocah 15th Peretas Situs NASA, Dia Siswa Madrasah

Hacker Cilik Siswa Madrasah Tangerang

Pendidikan di Indonesia memang sedang berbenah. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi problematika dunia pendidikan, mulai dari permasalahan karakter, soal kurikulum, tantangan dunia global, hingga kesiapan sekolah dalam mengantarkan siswanya memasuki abad 21 dengan revolusi industri 4.0 yang sekarang sedang digembar-gemborkan.

Tapi sesungguhnya, apapun permasalahan yang menimpa dunia pendidikan, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki gen yang berbeda. Soal kreatifitas, kemandirian personal, serta soal-soal lain terkait kelebihan manusia nusantara membuktikan Indonesia adalah bangsa bibit unggul. Masalahnya, kita mungkin sering tidak serius, apalagi elite pemimpin yang kadang bersikap anomali, sehingga membuat anak-anak negeri menjadi tak percaya diri dengan keunggulan bangsa sendiri.

Padahal, betapa banyak mutiara dari Indonesia yang unggul di pentas dunia. Salah satunya adalah yang sekarang ini sedang heboh. Bagaimana orang indonesia mampu menembus sistem pertahanan sebuah situs (salah satunya milik NASA). Jika mau, dengan mudah ia dapat mengambil database penting sebuah institusi negara.

Dahsyatnya, orang indonesia yang mampu melakukan itu adalah seorang anak usia 15 tahun, berstatus sebagai siswa madrasah, dan pengetahuannya tidak didapatkan melalui sekolah, alias belajar secara otodidak. Hebat bukan?

Adalah Putra Aji Adhari. Dia adalah siswa kelas 2 sebuah madrasah (setara SMP) di Tangerang. Di usianya yang masih belia, dia memiliki kemampuan di bidang IT dan dunia cyber yang dikenal dengan sebutan hacker.  Kemampuan itu ia gunakan untuk membobol berbagai situs, diantaranya situs milik NASA dan KPU. Kemampuan itulah yang membuat namanya menghebohkan jagad media sosial beberapa waktu terakhir.

***

Meski lebih dikenal dengan sebutan hacker, tapi Putra lebih senang menyebut dirinya sebagai white hat hacker. Sebab, yang dilakukannya bukan dalam rangka niat jahat. Ia hanya melakukan aktifitas hacker itu dalam rangka penetration testing, yaitu memasuki sebuah situs dan mencari celah sebelah mana yang bisa dijadikan pintu masuk bagi hacker jahat. Celah itulah yang akan dilaporkan pada pemilik situs agar dilakukan antisipasi supaya situsnya tidak gampang diretas.

Seperti ketika secara iseng mencoba melakukan penetration testing ke situs milik NASA, ia menemukan adanya celah yang bisa ditembus akibat bug impact-nya yang sangat besar, yang disebut dengan RCA (remote code execution).

Begitu juga ketika membobol situs KPU, Putra menuturkan jika situs milik instansi pemerintah itu rawan untuk disusupi. Menurutnya, website milik pemerintah itu bug-nya sangat gampang. Sayangnya, kadang pemilik situs jarang sekali merespons jika dilapori report bug. Itulah sebabnya, jika mau lapor bug ke situs pemerintah, Putra biasanya melalui BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara).

Ihwal kemampuannya di dunia cyber, Putra yang beralamat di Ciledug Tangerang itu mengawalinya ketika memiliki hobi bermain game online. Sedari kecil, ia memang senang bermain game semacam Minecraft dan Point Blank. Selanjutnya, Putra mengaku lebih banyak belajar secara otodidak melalui internet dan bergabung dengan komunitas IT Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, Putra akhirnya tertarik dengan dunia programming. Ketertarikannya itu dipengaruhi oleh beberapa tokoh dunia, semisal Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Bagaimana mereka bisa menjadi orang terkaya dan terkenal di dunia disebabkan memiliki kemampuan handal di bidang pemrograman.

Meski masih sangat belia dan hanya belajar secara otodidak, namun kemampuan Putra tak bisa disepelekan. Ketika melakukan uji coba membobol sistem keamanan sebuah situs milik pemerintah umpamanya, Putra melakukannya dengan sangat baik, dan hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk melakukannya. Dahsyat bukan?

Begitulah, bangsa ini memang bangsa jenis bibit unggul yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Prestasi-prestasi luar biasa banyak ditorehkan oleh anak-anak negeri. Sayangnya, hal-hal semacam itu tidak menjadi prioritas utama elite pemimpin negeri ini. Dari banyak kasus, mereka, para mutiara-mutiara itu justru kerap tak diperkenankan hidup dan berkembang oleh pemilik modal dan kekuasaan. Tengoklah, betapa banyak ide dan kreatifitas itu "dibunuh" di negeri sendiri dan justru diberikan ruang oleh bangsa lain?

Jadi, masihkah Anda tak memiliki kepercayaan diri sebagai manusia nusantara?*(ES)

Friday, February 8, 2019

MEGA SIGRA, Inovasi Guru SD Terpencil Juarai Inobel 2018

Juara MIPA Inobel 2018
Edi Arham, S.Pi, M.Pd, Juara Inobel Bidang MIPA 2018

KOMUNITASNGOPI.com - “MESKI tepencil, tapi jangan mau dikucilkan. Meski tertinggal, tapi jangan sampai ketinggalan,” Kalimat itulah yang meluncur dari Edi Arham, Guru Sekolah Dasar dari Kab. Konawe Sulawesi Tenggara, sesaat setelah dinyatakan sebagai juara dalam ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kemdikbud tahun 2018, yaitu Inobel, Inovasi Pembelajaran.

Inobel adalah lomba inovasi pembelajaran yang diselenggarakan oleh Dirjen GTK . Ketika itu, inovasi yang dilakukan oleh guru dari SD terpencil itu adalah membuat media pembelajaran bidang MIPA, diberi nama MEGA SIGRA, yaitu Media Peraga Simulasi Gerhana.

Untuk diketahui, Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud melalui Subdit Kesharlindung tiap tahun selalu mengadakan event-event kegiatan yang bisa diikuti oleh guru-guru dari seluruh indonesia, diantaranya Bimtek Perlindungan Guru, Seminar Pendidikan, Simposium, termasuk didalamnya adalah Inobel. Tahun 2018, rangkaian Inobel dimulai dengan workhshop yang dilaksanakan di Bogor, kemudian dilanjutkan final di Bali pada 17-21 September 2018. Bidang Lomba yang dilaksanakan ada tiga untuk Guru SD, yaitu kategori MIPA, IPSPB, dan SORAM.

Sungguh menarik, meski bertugas di daerah terpencil, tapi semangat Edi Arham luar biasa. Ia tak mau kalah dengan guru-guru lainnya. Pak Eed, demikian ia akrab dipanggil, bahkan berhasil mennyingkirkan guru-guru yang bertugas di wilayah normal dengan sarana prasana sekolah yang serba memadai. Itulah sebabnya, kalimat di awal tadi spontan keluar dari mulutnya ketika memberi sepatah dua kata bagi sang juara ketika pengumuman pemenang Di Vouk Hotel, Bali.

Menurut Pak Eed, bertugas di daerah terpencil justru menjadi tantangan baginya. Ditengah fasilitas yang serba minimal, ia dituntut bisa berbuat maksimal. Maka, yang dipikirkannya adalah bagaimana bisa berinovasi dalam teknologi informasi dengan infrastruktur yang sangat tidak mendukung. Harapannya sederhana, agar anak-anak yang berada di wilayah pedalaman itu bisa mencecap manisnya teknologi, untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam kegiatan pembelajaran.

Edi Arham,S.Pi, M.Pd., guru Sekolah Dasar Lalowata, Kec. Latoma, Kab. Konawe, Prov. Sulawesi Tenggara. Sekolahnya berada di daerah terpencil, yang sama sekali belum tersentuh pembangunan. Beralamat tinggal di Desa Kota Bangun, Kec. Ranomeeto, Kab. Konawe Selatan, Prov. Sulawesi Tenggara, Pak Guru kelahiran 1979 ini bukan kali ini saja menjadi juara. Sebelumnya, Pak Eed juga pernah meraih juara 2 guru berprestasi dan berdedikasi di daerah khusus tingkat nasional. Dalam tahun yang sama, Pak Edi Juga pernah menjadi pemrasaran terbaik 3 Seminar Nasional Guru Berprestasi yang juga dilaksanakan oleh Dirjen GTK.


Mega Sigra, Media Peraga Simulasi Gerhana

Media Peraga Simulasi Gerhana
Media Peraga Simulasi Gerhana (Mega Sigra)

Media Pembelajaran Mega Sigra yang dibuat dan dikembangkan oleh Edi Arham adalah sebuah perangkat simulasi gerhana yang dirangkai dari beberapa bagian pokok yang saling mendukung dalan penggunaannya. Sejumlah rangkaian dibuat dari bahan bekas dan sederhana. Meski demikian, terdapat beberapa bagian yang berbasis teknologi komputer serta menggunakan sumber energi listrik. Disinilah uniknya, media ini bukan hanya manual, tapi dipadukan dengan bahan ajar berbasis TIK.

Yang menjadi pertanyaan, apakah media ini dapat digunakan di sekolah yang berada di daerah terpencil? Bukankah sekolah yang berada di wilayah pedalaman seringkali terkendala oleh prasarana?
“Sangat bisa, “ tukas Pak Eed meyakinkan karena telah membuktikannya, “Mega Sigra tetap bisa digunakan di sekolah yang belum dilengkapi fasilitas listrik dan internet. Kelebihan inilah yang menjadikan Mega Sigra bisa diterapkan di sekolah-sekolah lain yang minim fasilitas. Mega Sigra juga sebuah media pembelajaran simulasi gerhana yang belum pernah ada sebelumnya."

Juara Inobel 2018Keyakinan Pak Eed, Mega Sigra adalah media peraga yang lebih baik, efektif dan praktis digunakan di sekolah manapun. Keyakinan ini didasari pada beberapa hasil inovasi pembelajaran lain yang telah dikembangkan sebelumnya. Rata-rata, inovasi yang dilakukan oleh guru lain telah membawa dampak positif pada peningkatan hasil belajar siswa. Padahal inovasi tersebut lebih sederhana dan belum mampu mendeskripsikan proses terjadinya gerhana. Termasuk juga inovasi pembelajaran berbasis teknologi yang sulit untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah terpencil.

Dalam pengembangannya, Mega Sigra telah direvisi beberapa kali berdasarkan masukan sejumlah guru dan hasil uji coba. Tujuannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat dan tampilannya agar lebih menarik. Selain itu, tahapan-tahapan yang dilakukan juga membuat Mega Sigra semakin berbeda dengan karya inovasi pembelajaran serupa yang telah lebih dulu dikembangkan.

Beberapa perbedaan signifikan Mega Sigra bila dibandingkan dengan media simulasi gerhana lainnya terletak pada kemampuan miniatur bumi (globe mini) dan miniatur bulan (bola pimpong) yang berputar secara otomatis beredar pada porosnya. Mega Sigra juga dilengkapi dengan kamera yang berfungsi untuk merekam gambar atau video terjadinya gerhana matahari dan bulan. Perbedaan lain adalah miniatur matahari (bola pelampung jaring) yang telah dilengkapi lampu LED yang dapat diatur intensitas cahayanya melalui saklar otomatis. Kelebihan lainnya yang terutamana adalah sangat mudah digunakan oleh guru dan siswa.

Mega Sigra adalah Media Peraga. Keberhasilannya tentu tergantung pada sejauh mana keefektifannya dalam mengantarkan anak-anak mencapai tujuan belajar. Berdarkan hasil uji efektifitas yang telah dilakukan, Mega Sigra terbukti sangat efektif digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya Materi IPA di sekolah dasar. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar posttest yang dicapai siswa sebesar 83,7, jauh melampaui nilai pretest sebesar 37,5 dan nilai KKM yang ditetapkan sebesar 70. Nilai ini juga jauh melampaui rerata capaian belajar siswa kelas VI pada tahun 2016 yaitu sebesar 63,5 dan pada tahun 2017 sebesar 67,5.

Mega Sigra telah menjadi juara pada Tahun 2018. Saat ini, Inobel 2019 telah di depan mata. Sudah siapkah kita dengan inovasi pembelajaran yang betul-betul unik, agar bisa diikut-sertakan dalam event Perlombaan Inovasi Pembelajaran Kesharlindungdikdas tahun 2019?

Sebagai bahan referensi, silahkan unduh naskah Inovasi Pembelajaran karya Pak Edi Arham dengan mengklik tautan di bawah ini.(*)
NASKAH INOVASI PEMBELAJARAN MEGA SIGRA

Sunday, February 3, 2019

Tadarus Sang Begawan: Kado Cinta untuk Herry Lamongan

Peluncuran Buku Puisi di Lamongan
Bersama Herry Lamongan dalam Acara Peluncuruan Buku Puisi di Salah-satu Kedai Kopi di Lamongan
KOMUNITASNGOPI.com - Nama aslinya Djuhaeri, tapi orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Herry Larnongan. Laki-laki kelahiran Bondowoso, Jawa Timur, pada 8 Mei 1959 ini sepak terjangnya dalam dunia sastra (terutama puisi dan geguritan) tak mungkin diragukan. Karya-karya itulah yang membuat namanya bisa dikenal oleh hampir semua kalangan pegiat sastra dan budaya, baik dalam kotanya sendiri, juga di berbagai kota lain.

Dilahirkan dari seorang ayah bernama Ismail asli Lamongan, dan ibu Sukarsih dari Jember, Jawa Timur, Herry Lamongan adalah anak pertama dari sembilan bersaudara. Ia diangkat menjadi guru SD di Lamongan pada tahun 1979. Kemudian, tahun 1987, Herry menikah dengan Ashabul Maimanah yang juga seorang guru SD. Dari hasil pernikahannya itu, ia dikaruniai tiga orang anak, yaitu Radite Erlangga Adipalguna (1988), Nur Jannati Kallista Putri (1990), dan Sazma Aulia Al-Kautsar (1998). Meski karya-karyanya telah melanglang, hingga kini ia tetap memutuskan tinggal di Perumahan Made, Jalan Madedadi VI/36, Lamongan, Jawa Timur.

Dalam dunia kepengarangan, Herry Lamongan mengawali proses kreatifnya sejak tahun 1983 dengan proses yang berdarah-darah. Karya pertamanya berupa puisi, dipublikasikan lewat koran mingguan Eksponen di Yogyakarta. Hanya saja, puisi ini tidak mendapatkan honorarium sebagaimana mestinya. Demikian juga dengan karya berikutnya yang dimuat di koran Karya Bakti Denpasar. Meskipun karya-karyanya yang telah dimuat di media massa itu tidak diberi honor, hal itu tak membuatnya patah arang. Ia memutuskan menulis dan terus menulis.

Hingga kini, puisi dan guritan-guritannya telah tersebar di berbagai majalah dan surat kabar berbahasa jawa dan indonesia, seperti Panyebar Semangat, Jaya Baya, Mekar Sari, Djaka Lodang, dan Jawa Anyar. Karya-karya puisinya juga banyak terpublikasi melalui berbagai koran dan majalah, baik daerah rnaupun nasional, seperti Swadesi, Karya Bakti, Mingguan Guru, Nusa Tenggara, Simponi, Mimbar Masyarakat, Suara Merdeka, Surabaya Post, Pelita, Kedaulatan Rakyat, Bali Post, Yogya Post, Singgalang, Harison, dan masih banyak yang lain.

Meski awalnya Herry bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis, tetapi takdir menyeretnya ke dunia lain. Justru ia lebih menekuni bidang budaya dan sastra. Dalam hal kepengarangan, ia mengaku banyak belajar dari banyak penyair, baik Indonesia maupun Jawa. Penggurit yang menurutnya telah membangkitkan semangatnya menulis guritan adalah Suripan Sadi Hutomo, Diah Hadaning, Setyo Yuwono Sudikan, dan Jayus Pete. Sedangkan penyair yang telah memberikan banyak hal kepadanya adalah Putu Arya Tirtawirya, Redi Panuju, Isbedy Setiawan Z.S., Wahyu Prasetya, dan lain-lain.

Unik memang, di antara banyak penyair yang enggan, untuk tidak mengatakan tidak sanggup, menulis geguritan, Herry Lamongan tetap menulis dalam dua bahasa, yaitu Jawa dan Indonesia. Menurutnya, bahasa Jawa memberikan nuansa kelembutan dalam rasa, baik saat diucapkan maupun ketika dituliskan. Sedangkan bahasa Indonesia menjadi sarananya untuk berkornunikasi dengan dunia yang lebih ]uas. Hanya saja, Herry mengaku bahwa jika diperbandingkan, menulis puisi Indonesia lebih mudah baginya daripada rnenulis guritan. Terbukti, hanya berbekal secangkir kopi dalam sebuah kedai kopi, sepersekian detik kemudian selarik puisi lahir dari tangannya menangkap momen yang berkeliaran di sekitarnya.

Sungguh menarik, di tengah gempuran budaya pop yang menyerbu dengan tawaran pragmatisme dan materialisme, Herry Lamongan tetap suntuk menyelami dunia ruhani yang ia terjemahkan melalui puisi. Bahkan ketika kebanyakan orang lebih memilih hijrah ke kampung-kampung metropolitan dengan segala prestise-nya, Herry tetap memilih tinggal di kota kecilnya, Lamongan, yang dulu tak pernah diperhitungkan. Itu pulalah yang membuat ia menyematkan kata Lamongan itu di namanya. Ia ingin melalui tulisan-tulisannya Lamongan tak dipandang sebelah mata. Dalam skala yang lebih jauh, Herry tak akan ingin lalai dengan asal usulnya

Menulis puisi bagi Herry Lamongan sudah seperti sebuah urat nadi. Menulis puisi baginya semacam pengembaraan tanpa akhir, penuh liku dan tantangan, dan tentu saja hal itu sangat rnengasyikkan. Oleh sebab itu, penyair yang tidak hanya menulis puisi, tetapi juga cerpen, drama, dan esai ini semakin mantap dengan dunia yang digelutinya. Bahkan tekadnya, ia bercita-cita ingin terus menulis puisi hingga akhir hayatnya. Maka berkat dedikasinya itulah, ia akhirnya berhasil memperoleh banyak penghargaan, diantaranya sebagai penulis puisi terbaik bersarna sembilan penyair lain dari Sanggar Minum Kopi, Denpasar, Bali, pada tahun 1989. Ia juga pernah menjadi penggurit terbaik dari Sanggar Sastra Triwida pada tahun 1995.

Tahun 2008 silam, naskah kumpulan puisinya juga terpilih sebagai penulis puisi anak terbaik nomor tiga tingkat nasional dalam even Sayembara Penulisan Buku Pengayaan yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Nasional di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. Prestasi ini tentu patut dibanggakan. Sebab, Herry tercatat sebagai salah satu dari 894 orang yang lolos seleksi, terdiri dari peserta penulis fiksi dan non fiksi kategori penulisan puisi, prosa, maupun naskah drama.

Karya-karya Herry Lamongan sudah tak terhitung jumlahnya. Karya-karya itu adalah wujud semangatnya yang tak pernah padam, meski usianya menjelang senja. Tak terasa, pada Mei 2019 nanti, usianya telah mencapai bilangan 60. Sebuah angka istimewa dalam pengembaraan hidup manusia.

Untuk itulah, Pustaka Ilalang bekerja sama dengan Kostela dan FP2L berniat menyelenggarakan Tadarrus Sang Begawan sebagai Kado Cinta Untuk Herry Lamongan. Acara yang digagas adalah mengundang sahabat Herry Lamongan atau siapapun yang pernah bersentuhan dengannya walau hanya dalam sebuah kedai kopi untuk menulis sesuatu tentang Sang Begawan Sastra. Tulisan itu nanti akan dibukukan dan dipersembahkan untuk Herry Lamongan pada ulang tahunnya yang ke 60. Siapa saja tentu berharap, apa yang dilakukan oleh Herry Lamongan itu memantik semangat bagi siapa saja, agar pengembaraan ruhani atas sebuah puisi tak akan sirna, meski zaman sedang gelap-gelapnya.(*)

Saturday, February 2, 2019

Roro Martiningsih, Guru dengan Segudang Prestasi

KOMUNITASNGOPI.com - Supel dan energik. Itulah kesan pertama ketika bertemu dengan Roro Martiningsih, guru dengan segudang prestasi dari SMP Muhammadiyah 1 Surabaya. Bu Tining Cantik, - demikian ia akrab dipanggil - adalah Duta Rumah Belajar Tahun 2017. Untuk tahun 2018, silahkah baca artikel sebelumnya Mengenal Deni Ranoptri, Duta Rumah Belajar Terbaik Tahun 2018

Kesempatan bertemu muka itu saya dapatkan ketika mengikuti bimtek PembaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK) Level 3 yang diadakan di Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan (BPMTPK) Sidoarjo. Berbeda dengan level 3 sebelumnya yang merupakan peserta level 2 yang lolos dari masing-masing kabupaten, Level 3 yang saya ikuti adalah tahap 'bonus' bagi peserta yang lulus dari PembaTIK level 2.

Duta Rumah Belajar 2018 Bersama Wali Kota Surabaya
Roro Martiningsih bersama Wali Kota Surabaya
Ketika menjadi narasumber dalam sebuah sesi, Bu Tining begitu antusias menceritakan pengalamannya yang berliku-liku sebelum kemudian dikukuhkan sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional Tahun 2017. Meski berstatus sebagai guru honorer yang belum diangkat sebagai PNS, tapi Bu Tining tidak minder dengan posisi itu. Baginya guru tetaplah guru. Yang dibutuhkan bukan status PNS atau Tidak PNS, tapi bagaimana guru bisa melakukan yang terbaik dalam pekerjaanya. Dalam posisi itulah, Tuhan pasti akan memberikan imbalan dengan rezeki yang tak disangka-sangka.

Ihwal tentang Portal Rumah Belajar, Bu Tining mengenalnya sejak tahun 2013 ketika browsing mencari sumber belajar tentang himpunan, sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Kala itu, ia benar-benar merasa senang dan terbantu dengan media yang ditemukannya di portal Rumah Belajar, apalagi media yang dimaksud adalah interaktif yang menarik minat siswa. Alhasil, pengalaman memanfaatkan Portal Rumah Belajar yang menyenangkan itu ditulisnya dalam artikel ilmiah dan dimuat di Jurnal Teknodik, Jurnal yang dikelola oleh Pustekkom.

Proses memang tidak mengkhianati hasil. Adagium itulah mungkin juga berlaku bagi Roro Martiningsih. Betapa tidak? Begitu banyak hal yang telah ia lakukan sebelum kemudian terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional tahun 2017. Misalnya, setelah lolos mengikuti bimtek level 3 yang dilaksanakan secara tatap muka, salah-satu tugas yang harus dipenuhi adalah melakukan diseminasi terhadap 10 (sepuluh) guru dari 10 (sepuluh) sekolah.

Bu Tining berpikir, tak mungkin jika ia harus mengundang orang-orang yang dimaksud untuk datang ke sekolah. Disamping efisiensi waktu dan biaya, belum tentu para guru yang diundang itu bersedia hadir di sekolahnya. Maka jalan yang ditempuh adalah jemput bola, ia kirimkan pesan whatsapp pada guru yang mengajar di sekolah lain, yang tentu saja kenal dengannya. Gayung bersambut, jadilah diseminasi dilaksanakan. Saat itu, sekolah awal yang menjadi tujuan diseminasinya adalah SMP Negeri 37 Surabaya.

Tak cukup sampai di situ, Bu Tining juga memasang iklan melalui facebook dan grup whatsapp perihal penggunaan Rumah Belajar dan Pembuatan Vlog. Tak disangka-sangka, banyak sekolah yang merespon diantaranya SD Katholik Santa Clara, SD Muhammadiyah 10 Surabaya, SD Muhammadiyah 17 Surabaya, dan lain-lain. Permintaan untuk mendapatkan sosialisasi Rumah Belajar secara gratis pun terus berdatangan, sehingga ia juga melatih peserta dari luar kota Surabaya, diantaranya 2 (Dua) SD Negeri di Bangkalan, beberapa sekolah di Sidoarjo, dan satu sekolah di Lamongan. Yang patut menjadi catatan besar. Semua itu dijalankan Roro Martingsih dengan biaya mandiri. Maka, wajar jika ia kemudian terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional Tahun 2017.

Segudang prestasi ia ukir sebagaimana tertulis di akun media sosialnya. Tahun 2013, Roro Martiningsih adalah Juara 1 Guru Prestasi Kota Surabaya. Kemudian, ia beserta beberapa unsur lain dipercaya menjadi juri guru prestasi kota Surabaya Tahun 2014. Tahun 2011 silam, ia menjadi finalis pada acara Kompetisi Writting Internasional yang diadakan oleh Penerbit Kamus Internasional. Longman Asia Ltd. Juara Inobel Tingkat Nasional pun pernah ia raih tahun 2010. Lantas tahun 2017 ia terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional. Yang paling gress tahun 2018, Roro Martiningsih terpilih sebagai Duta Microsoft Indonesia yaitu Microsoft Inovative Educator Expert (MIEE) dan mengikuti kegiatan Education Exchange di Singapura.

Banyak artikel ditulis oleh Bu Tining dan telah terpublikasikan di jurnal ilmiah, diantaranya  adalah  Peningkatan Prestasi Belajar Himpunan Melalui Penggunaan Portal Rumah Belajar (2013), Peningkatan Hasil Belajar Pola Bilangan dengan Aplikasi iSpring (2014), Pengembangan RPP Kurikulum 2013 Terintegrasi Televisi Edukasi (2014), Perbedaan Prestasi Belajar PKn Sebelum dan Sesudah Mempergunakan Media Kartu Domino dalam Pembelajaran di Kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Surabaya (2015), Efektifitas Pemanfaatan MS Excel dalam Pembelajaran Matematika di SMP Muhammadiyah 1 Surabaya (2015), Peningkatan Hasil Belajar Himpunan dengan Menggunakan Aplikasi Ispring Suite 8 (2018).

Sedangkan buku yang telah ia tulis adalah Sekolah Bintang (2015), Aku Bangga Jadi Guru (2018), dan Pembelajaran Abad 21 (2018).(*)

(diolah dari berbagai sumber.red)

Tuesday, January 29, 2019

Mengenal Deni Ranoptri, Duta Rumah Belajar Terbaik Tahun 2018

Duta Rumah Belajar 2018
Deni Ranoptri (Sebelah Kanan), Duta Rumah Belajar Terbaik 2018
Komunitas Ngopi | BAGI penjelajah dunia blogger, dan terutama dunia media sosial, nama Deni Demian Renovtri tentu tak asing. Sebab, pria yang berprofesi sebagai guru di Kalimantan Selatan itu telah malang melintang dalam dunia blogger sejak lama. Jejak digitalnya kini juga sangat mudah ditemukan. Bahkan untuk status pertemanan di facebook, ia membuat akun Deni Demian Renovtri II, sekedar untuk mewadahi mereka yang ingin berteman, akibat keterbatasan jumlah pertemanan di facebook.

Tahun 2018 lalu, Pria bernama asli Deni Ranoptri itu lolos mewakili Propinsi Kalimantan Selatan dalam mengikuti pemilihan Duta Rumah Belajar, sebuah event tahunan yang diselenggarakan oleh Kemdikbud melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom). Dalam ajang itu, ia terpilih sebagai Duta Rumah Belajar Terbaik setelah bersaing dengan wakil masing-masing propinsi di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, untuk mensosialisaikan laman Rumah Belajar, Pustekkom kembali menggelar pemilihan Duta Rumah Belajar Tahun 2018 melalui program PembaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK). Ada 4 level yang harus dilalui peserta, yaitu Literasi TIK dengan Bimtek Daring Level 1, level 2 berupa implementasi TIK dengan kegiatan yang juga bersifat daring. Jika kedua tahap ini lolos, peserta akan mengikuti level 3 berupa Kreasi TIK dengan Bimtek Tatap Muka yang dilaksanakan di Propinsi. Level 4 adalah Impelementasi TIK di Jakarta dengan peserta masing-masing propinsi satu orang yang lolos level 3. Dalam ajang itulah, Deni terpilih sebagai Duta Belajar Terbaik tahun 2018.

Deni Demian Renovtri adalah nama akun facebook. Aslinya adalah Deni Ranoptri. Ia dilahirkan di Tabalong, Kalimantan Selatan 36 tahun silam, tepatnya 3 Nopember 1983. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang dibesarkan di sebuah keluarga yang penuh dengan esederhanaan. Soal profesi sebagai guru, ia mengawali karirnya dengan menjadi seorang Guru Sekolah Dasar di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan tahun 2011.

Kondisi tempatnya mengajar bisa dibilang jauh dari fasilitas dan sarana prasarana yang lengkap. Justru berangkat dari ketertinggalan informasi dan materi-materi mengajar itulah, ia lantas belajar secara otodidak melalui internet. Semua itu diperlukannya untuk menambah wawasan dalam kegiatan pembelajaran dan mencari informasi terbaru tentang data-data pendidikan yang sempat booming ketika Dapodik muncul pertama kali. Dengan keuletannya, ia melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Terbuka Jurusan PGSD lulus tahun 2014.

Berbekal hobinya membaca dan menulis, dengan mudah ia menyerap berbagai informasi yang diperolehnya melalu internet dan perkuliahan. Dari hobinya itulah, ia lantas membuat sebuah blog yang didedikasikan untuk para guru di wilayah pedalaman agar dapat mengakses segala informasi dan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan ketika dia terpilih menjadi Ketua KKG (Kelompok Kerja Guru) tahun 2012. Blog itulah yang mengantarkannya menjadi lincah menulis dan mengembangkan beberapa ide atau aplikasi yang diperuntukan untuk semua guru, khususnya guru SD.

Salah-satu blog yang dikelolanya gurusd.net terpilih sebagai penerima penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan tahun 2015 kategori Blogger dari Kemendikbud. Ia juga pernah dinobatkan sebagai tokoh masyarakat pegiat IT bidang pendidikan dalam memajukan pendidikan oleh Pemerintah Daerahnya tahun 2016. Selain penghargaan tersebut, Deni juga pernah menjadi Juara 1 Tingkat Kabupaten Tabalong kategori Pembuatan Media Pembelajaran tahun 2015, Juara 1 Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan untuk Website Sekolah tahun 2015 dan 2016.

Pria yang dikenal sebagai gurunya blogger pendidikan ini sekarang sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Negeri Surabaya Jurusan Teknologi Pendidikan, sesuai dengan impiannya ingin lebih menguasai dan memperdalam teknologi dalam bidang pendidikan.(*)
DomaiNesia